Anak yang cerdas dilahirkan dari Ibu yang cerdas

Pernah liat tulisan seperti itu? Hmmmm, pasti pernah yaa liat tulisan seperti itu dimanapun berada, entah di media sosial, pamflet, atau dimana saja. Hal pertama yang harus kalian ketahui bahwa tidak ada anak yang bodoh di dunia ini, yang ada hanya anak yang belum paham sehingga membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memberikan pengetahuan bagi anak hingga anak tersebut menjadi tahu, paham, dan mandiri dalam menjalani setiap tugas yang diberikan. 

Setelah kamu mengetahui, bahwa tiada anak yang bodoh di dunia ini, maka tambah sedikit pengetahuanmu mengenai makna "Anak yang cerdas dilahirkan dari Ibu yang cerdas".

 

1. Definisi ibu cerdas

Cerdas, bukan berarti kamu harus jadi ahli matematika, kimia, fisika, atau ilmu-ilmu berbau eksakta dan bukan berarti kamu harus memiliki tingkat pendidikan yang sangat tinggi. Oke, hal tersebut memang bagus sih tapi hal itu hanya mempengaruhi sedikit sekali. Perlu diingat bahwa manusia memiliki berbagai bentuk kecerdasan yang tidak terpaku pada kecerdasan eksakta saja, namun ada manusia yang cerdas dalam bidang olahraga, bahasa, interpersonal, intrapersonal, musik, visual-spasial, dan naturalis (Teori dari Gardner).

Lalu, cerdas yang dimaksud seperti apa? Cerdas berarti si ibu paham terhadap perkembangan dan pertumbuhan si buah hati serta tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengembangkan potensi si buah hati sesuai dengan usia mereka. Misalnya, si buah hati berusia 3 tahun, si ibu tahu bahwa buah hati berada pada usia keemasan, maka si anak akan mudah meniru perilaku. Jika ibu tahu, maka ibu harus memberikan suri tauladan yang baik bagi buah hati dan menjaga setiap perilaku atau tindakannya.

2. Ibu, Sang Arsitek Kehidupan Buah Hati

Ibu, sang arsitek peradaban

Ibu, sang arsitek peradaban via http://4.bp.blogspot.com

Tau kan 'Arsitek'? Ya, si perancang bangunan. Ibu merupakan perancang masa depan si buah hati lho, apalagi beberapa kitab hadist Islam menyebutkan bahwa Ibu adalah madrasah pertama anak, yang berarti Ibu adalah pembentuk karakter anak. Seperti yang telah dijelaskan pada poin pertama, karakter anak akan ditentukan oleh karakter Ibu lho.

Anak akan cepat menyerap informasi disekitarnya melalui panca indera mereka dan memproses informasi tersebut dengan menggunakan otak. Hasil proses inilah yang akan memproduksi perilaku baru atau peniruan perilaku. Jadi kebayang nggak sih kalau Ibu membiasakan dirinya berperilaku kasar?.

Anak bagaikan kertas putih yang masih bersih,

dan Ibu adalah arsiteknya yang akan menggambar dalam kertas putih itu...

Jadi, buatlah gambar yang bagus yaa para Ibu dan calon Ibu .

(Teori Tabula Rasa)

3. Ibu yang Cerdas Tahu Kapan Pendidikan itu Dimulai

Pernah melihat tulisan:

Pendidikan anak sejatinya dimulai dari memilih jodoh

Iya, tulisan itu memang benar lho. Pendidikan anak memang dimulai saat para manusia mencari jodoh, kenapa? Oke, kita akan mengupas bukan dari segi agama (karena saya bukan ahli agama, takutnya nanti saya salah, hehehe).

Pernyataan di atas memanglah benar, kenapa? Namanya manusia, pasti ada salah dan dosa di masa lalu, ada saja yang tidak sempurna secara fisik maupun psikis. Ada beberapa kasus gangguan pada anak yang disebabkan oleh warisan genetik atau bawaan dari ayah maupun ibu. Jadi, cari tahu terlebih dahulu, apakah calon pasangan kalian punya riwayat keturunan gangguan fisik dan psikis tertentu? Jika iya, maka segera beri keputusan, apakah lanjut atau tidak. Jika kalian memutuskan untuk lanjut, maka saran saya, perdalamlah ilmu-ilmu parenting dan ilmu agama sebagai bekal berumah tangga.

4. Kecerdasan itu Tidak Semata-mata karena Genetik atau Keturunan

Kecerdasan bukan karena keturunan saja, lho...

Kecerdasan bukan karena keturunan saja, lho... via http://cdn2.tstatic.net

Menurut Jean Piaget, istilah 'kecerdasan' bukanlah mengacu pada warisan genetik namun mengacu ke pertumbuhan perkembangan. Misalnya, si ayah adalah ahli matematika, dan si ibu adalah ahli fisika, apakah anaknya nanti bisa jadi ahli matematika dan fisika? Tentu tidak.

Kecerdasan genetik hanya diturunkan sekitar 30% saja, sedangkan 70% dibentuk melalui pengalaman yang didapat selama masa pertumbuhan perkembangan. Nah, untuk melahirkan anak yang cerdas yang diperlukan adalah ibu yang cerdas mendampingi anak untuk mengembangkan masa-masa keemasan si buah hati, yakni mulai dari masa pembuahan hingga remaja.

Jika anak seperti yang dicontohkan di atas menjadi ahli fisika, itu berasal dari proses penyerapan informasi saat anak dalam masa keemasan (0-5 tahun), bisa saja si anak liat Ibunya sedang mengerjakan soal fisika lalu mulai tertarik hingga memunculkan rasa ingin tahu yang tinggi dan si ibu memfasilitasi keingintahuan anak tersebut melalui kegiatan latihan.

5. Ibu yang Cerdas adalah Ibu yang Bijaksana memberikan Hadiah dan Hukuman

Harus bijaksana dalam memberikan hadiah dan hukuman

Harus bijaksana dalam memberikan hadiah dan hukuman via http://www.ukhtiindonesia.com

Kenapa Ibu yang cerdas harus bijak memberikan hadiah dan hukuman?

Pernah melihat anak yang manja?

Pernah melihat anak yang agresif atau orang awam menyebutkan bandel?

Pernah melihat anak yang trauma atau phobia pada sesuatu?

Iya, dua masalah ini disebabkan karena terlalu berlebihnya dalam memberikan hadiah dan hukuman. Berbagai teori dalam psikologi belajar atau psikologi pendidikan memang membenarkan adanya reward (hadiah) atau punishment (hukuman/ganjaran) dalam mendidik anak. Namun, dalam pemberian dua hal ini harus bijak lho.

Sesuatu hal yang berlebih itu tidak baik, dan sesuatu yang kurang itu juga tidak baik. Lalu, untuk mengukur biar mendapatkan takaran yang pas, gimana? Si Ibulah yang tau karena Ibu yang tau kemampuan anak.

Namun, perlu diperhatikan juga, ketika reward dan punishment sudah cukup untuk membentuk suatu perilaku baru yang diinginkan, maka si Ibu harus menghentikan dua hal tersebut agar anak nantinya hidup tidak terlalu bergantung pada reward dan punishment. Ajarkan pula pada anak tentang kebaikan dan keburukan serta dampak pada setiap perilaku yang dilakukan anak.

6. Ibu yang cerdas paham tentang kebutuhan si buah hati

Ibu yang cerdas paham dengan kebutuhan si buah hati

Ibu yang cerdas paham dengan kebutuhan si buah hati via http://4.bp.blogspot.com

Oke, yang terakhir ada ibu cerdas adalah ibu yang paham kebutuhan sang buah hati. Kebutuhan tidak hanya berorientasi pada materi namun berorientasi pada kebutuhan fisik dan psikis anak. Ibu cerdas harus paham apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan. Misalnya, selama kehamilan si Ibu dilarang mengonsumsi alkohol, rokok, ataupun makanan yang haram, larangan ini tentu punya alasan yang kuat yakni melindungi si buah hati dari dampak negatif lingkungan yang masuk dalam tubuh dan pikiran bayi melalui ibu.

Disinilah peran si Ibu untuk memutuskan apa yang baik dan buruk bagi si buah hati. Dari sinilah, pernyataan ibu yang cerdas melahirkan anak yang cerdas dimulai dari kecerdasan ibu memilih makanan yang bergizi dan bernutrisi serta memahami bagaimana pengasuhan anak.

 

Sekarang, sudah tau kan apa makna "Ibu yang cerdas melahirkan anak yang cerdas"? Semoga bermanfaat.