Banyak hal yang telah terjadi disepanjang tahun 2016 ini. Banyak yang datang, banyak juga yang pergi, banyak yang didapatkan, banyak juga yang kehilangan, banyak yang kembali teringat dan banyak juga yang sering terlupakan. Entahlah, yang jelas tahun 2016 ini bagi saya sendiri tahun yang penuh kesenduan. Kesenduan pada diri sendiri, kesenduan pada keluarga, dan kesenduan pada bangsa tercinta, Indonesia.

Kesenduan yang terjadi pada hidup saya ini bukan berarti selalu berdampak negatif yang selalu saya jalani. Kesenduan disini lebih banyak merefleksi diri dan banyak bersyukur atas apa yang telah saya jalani selama berpuluh tahun ini. Banyak hal-hal kecil yang perlu saya syukuri dan hargai namun sering terlupakan dan tidak pernah terucap dan saya sadari sedikitpun. Entah saya lupa atau memang dasarnya gak bersyukur saja sehingga hal ini jarang dilakukan.

Inilah kisah perjalanan saya sewaktu melaksanakan pengabdian kecil di Pulau Sebatik yang berbatas langsung dengan wilayah Malaysia. Walaupun cuma beberapa bulan disana, tapi banyak hal yang mampu mengubah pandangan saya dan berterima kasih telah lahir di negeri ini. Setidaknya hal ini bisa menjadi alarm bagi saya sendiri untuk terus #Memperbaikidiri dan tidak berhenti bersyukur dikemudian hari. Selamat membaca!

Cacatan kecil ini berawal dari pengabdian kecil dari kampus untuk mengajar di pulau terluar Indonesia

Saat ini saya sedang berkuliah di salah satu kampus swasta yang ada di Yogyakarta. Tepat pada pertengahan tahun 2016 lalu saya dan teman-teman mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu pulau terluar Indonesia, tepatnya di pulau Sebatik Kalimantan Utara, yang mana setengah dari pulau sebatik itu merupakan milik Malaysia dan setengahnya lagi milik Indonesia.

Sebelum keberangkatan KKN ini, banyak hal telah kami perjuangkan untuk memulai keberangkatan ketempat menarik tersebut. Mulai dari pengumpulan biaya untuk keberangkatan serta kehidupan disana nanti. Kami sudah berusaha untuk menyebarkan proposal baik ke pihak pemerintah maupun pihak swasta untuk menjadi sponsor keberangkatan kami ke Sebatik. Kami sampai-sampai sudah datang ke Jakarta untuk mengurus itu semua. Tapi ngak tau salahnya dimana, sebanyak proposal yang kami tawarkan, sebanyak itu juga proposal kami yang ditolak.

Advertisement

Padahal, teman saya yang berasal dari kampus negeri ternama di Yogyakarta dan juga berencana berangkat KKN ke daerah terluar di Indonesia dan sama-sama mengajukan proposal kepada instansi pemerintah dan swasta, hebatnya lagi proposal mereka diterima tanpa harus ke Jakarta. Dari situ kami berfikir saat apa yang salah dengan proposal kami, atau apa ada yang salah dengan kampus kami? dan kami cuma bisa megambil kesimpilan, mungkin usaha kami masih belum maksimal dan kami harus berusaha lagi.

Sedikit banyangan tentang Sebatik, mulai dari ringgit Malaysia hingga rupiah yang jadi minoritas di negeri sendiri

Setelah berjuang mencari sponsor untuk keberangkatan ke pulau Sebatik dan hasil akhirnya tetap Nol besar alias tidak ada yang menerima sponsor kami. Keraguan dan kecemasan untuk kepastian keberangkatan tiba-tiba muncul. Setelah dapat bantuan sedikit dari kampus dan biaya iyuran bersama untuk keberangkatan serta kehidupan disebatik nanti akhirnya kami bisa memastikan untuk keberangkatan ke Sebatik.

Hal pertama yang harus kami lakukan sebelum keberangkatan adalah menukarkan rupiah dengan uang ringgit. Di pulau Sebatik mayoritas mata uang yang digunakan untuk transaksi memakai mata uang Ringgit Malaysia. Saya pertama tahu hal ini sangat kaget dan kecewa, kenapa harus pake mata uang ringgit? kan itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia kan? apa di situ nasionalisme warganya sudah beralih ke Malaysia? Kenapa rupiah harus jadi minoritas di negeri sendiri? Dan dalam hati saya, saya berjanji tidak akan pernah sekalipun memakai uang ringgit itu.

Perjalanan dimulai berangakat dari jogja -jakarta-balikpapan-tarakan. berangkat dari Jogja sekitar jam 10 pagi dan setelah mengalami delay yang panjang akhinya sampai di tarakan sekitar jam 8 malam. Kami menginap di Tarakan malam itu dan besok pagi berangkat ke sebatik menggunakan perahu. Pejalanan ditempuh dari Tarakan ke Sebatik kurang lebih sekitar tiga sampai empat jam perjalanan. Akhirnya setelah kami sampai dipulau sebatik dengan selamat.

Pantas ringgit menjadi primadona, semua ekonomi kehidupan mengalir dari Malaysia

Kesan pertama ketika sampai di Pulau Sebatik, aroma Malaysia terasa kental sekali. Kalau kita memandang dari pantai ke arah timur yang terlihat adalah negara tetangga Malaysia. Kalau malam hari kamu memandang ke arah Malaysia yang terlihat negara tetangga bersinar terang dengan kilauan cahaya yang membuat iri jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia yang gelap ketika malam.

Perlu kamu ketahui, saat itu di Sebatik pembangkit listrik masih baru masuk dan cuma mangiliri wilayah kota saja. Untuk wilayah desa-desanya masih menggunakan pembangkit tenaga surya yang dibatasi pemakaiannya.Berbanding terbalik dengan dengan wilayah Tawau Malaysia sana. Kalau mengingat hal ini rasanya semakin kecewa pada pemerintahan negeri ini, seakan-akan tidak memperhatikan daerah wilayah perbatasan.

Mayoritas masyarakat Sebatik bekerja sebagai di kebun sawit, Kakau, Pisang dan Buah-buah lainnya, yang nanti semua itu di impor langsung ke Malaysia. Penduduknya sendiri kebanyakan berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan, sedangkan untuk kehidupan sehari-hari baik makanan dan minuman, alat mandi, serta kebutuhan sehari-hari lainnya semua berasal dari Malaysia. Sehingga tidak heran jika semua transaski lebih banyak menggunakan uang Ringgit.

Kalau soal perut boleh Malaysia tapi masalah hati dan  jiwa kami 100% Indonesia

Permasalahan yang terjadi di Pulau Sebatik perbatasan Indonesia-Malaysia ini sangat kompleks sekali. Mulai dari pendidikan, air bersih, narkoba, dan ketergantungan kepada negara tetangga sangat terasa. Pendidikan disini jauh tertinggal dengan pendidikan yang ada di kota-kota besar Indonesia. Mulai dari tenaga pengajar yang profesional hingga fasilitas yang kurang memadai.

Dampak terbesarnya terjadi pada murid yang bersekolah disana yang tidak bisa menerima pendidikan secara sempurna. Pendidikan bagi anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) juga sangat pilu melihatnya. Bagaimana tidak, warga Indonesia tidak bisa melanjutkan sekolah di Malaysia, jadi anak-anak TKI harus menyebrang bersekolah di wilayah Indonesia.

Tapi yang bikin salut, mereka tetap sekolah bagiamanapun keadannya. Mereka tetap menyelangarakan upacara bendera, mereka tetap memperingati hari besar bangsa Indonesia. Dan Kalau ditanya soal rasa nasionalisme meraka kepada bangsa kita, mereka dengan bangga akan menjawab ” Kalau soal perut boleh Malaysia tapi masalah hati dan  jiwa kami 100% Indonesia.

Kata orang perjalanan itu tidak harus berupa pendakian ke gunung tertinggi atau menyalami samudra terdalam, apa yang telah kamu dapatkan setelah perjalanan itu yang penting!

Banyak pelajaran yang telah saya peroleh disini, mulai dari keihklasan mereka untuk menerima keterbatasan yang dirasakan berada diwilayah terluar Indonesia serta kesabaran menunggu perhatian dari pemerintah pusat. Bangga melihat adik-adik di Sebatik yang semangat untuk terus belajar dan maju agar tidak tertinggal oleh negara tertangga. Terharu melihat kecintaan mereka kepada merah putih yang tidak akan luntur walau harus tetap memakai mata uang tetangga untuk bertransaksi sehari-hari.

Bagi saya sendiri, saya diajarkan untuk terus bersyukur agar tidak menyerah menerima keadaan. Saya yang dulu banyak mengeluh malah dan sering putus asa rasanya malu kepada mereka yang pantang menyerah menghadapi kehidupan ditengah banyak kekurangan. Banyak hal yang masih ingin saya ceritakan, mandi dan minum dengan air hujan, pertama kali bertransaksi dengan uang ringgit, tetap bersekolah walau banjir besar disekolah, serta banyak kisah lainnya. Lain kali saya akan menyambung bercerita lagi tentang Sebatik ini.

Terima kasih untuk Hipwee telah bisa menjadi wadah bagi saya untuk berbagi cerita disini. Buat teman-teman yang ingin berbagi cerita disini, ayo sama-sama kita berbagi cerita sembari #memperbaikidiri. Nantikan kisah saya selanjutnya ya. Maaf, kalau ceritanya terlalu panjang

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya