Entah dari mana awalnya tapi sekarang definisi dewasa sering sejajar dengan jadi mesin pencetak uang. Semua hal yang sudah dipelajari harus membawa kita ke titik BEP. Sudah mahal-mahal kuliah sampai S2 kok nggak balik modal sih? Begitu katanya.

Keberhasilan identik dengan kemampuan monetisasi skill yang dimiliki. Kalau bisa memasak harus buka cafe atau terima pesanan dulu baru bisa dibilang sukses. Jago menulis konten yang oke juga tidak akan berarti jika kamu melakukan semua dengan gratis.

Pada masa semua hal diukur dengan transferan dan pemasukan maukah kamu mencoba sesuatu yang berbeda? Bergerak memberikan sesuatu dengan tidak dibayar. Sebab di akhir hari definisi rezeki tidak pernah dangkal. Dia tidak selalu datang dalam bentuk selembar kertas warna merah dan tambahan pemasukan.

Sini duduk dan berhitung rinci. Kita akan bingung bagaimana bisa hidup selama ini

Kita akan bingung bagaimana bisa hidup selama ini via www.hellojanelee.com

Frasa, “Herannya kita juga hidup-hidup saja” jadi relatable sekali di usia 20-an seperti kita ini. Keinginan impulsif untuk membeli sesuatu setelah gajian sering membuat kita merasa seret di akhir bulan. Tapi herannya dengan semua perjuangan kita masih tetap bisa bertahan.

Advertisement

Iya sih, kadang kita harus berhitung rinci soal berapa uang yang bisa dikeluarkan di hari itu. Memprediksi dengan teliti agar tetap bisa bertahan tanpa harus tersenggal. Tapi dibanding sekian banyak kebutuhan, herannya kita tetap bisa hidup dengan cukup nyaman.

Modalnya cuma satu: percaya.

Percaya kalau Tuhan pasti mengurus semuanya. Tetap selow walau uang di rekening tinggal 150 ribu saja. Tidak merasa kebakaran jenggot waktu ada teman mengajak traveling dengan deal yang menarik padahal kita sedang tidak ada uang. Karena Tuhan selalu menyediakan jalan.

Kemudahan Tuhan bukan down payment yang harus selalu dibayar didepan. Kita saja yang sering perhitungan

…kita saja yang sering perhitungan via www.shutterstock.com

Project apaan nih? Ada duitnya nggak?”

Atas nama perjuangan sebagai orang dewasa kita sering menolak pekerjaan dan project thank you tanpa bayaran. Langsung ada kalkulasi yang secara otomatis berjalan. Kamu mengerjakan ini sekian jam, lalu apa yang kamu dapatkan?

Saat jadi manusia yang penuh kalkulasi kita lupa kalau hidup tidaklah seperti cicilan rumah yang perlu down payment pasti. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita butuhkan didepan. Kemudahan bisa datang dari ajakan teman bergabung dalam project yang nantinya membuka pintu awal untuk mendapatkan beasiswa. Atau dari kartu nama peserta seminar yang kamu isi secara probono. Ternyata dia seorang graphic designer yang bisa membantumu menciptakan packaging produk yang akan dipasarkan. Dari tangan-tangan mereka kesuksesan bisa datang.

Tidak ada istilah “Tak mendapat apa-apa.” Kadang Tuhan hanya menunda

Kadang Tuhan hanya menunda saja via www.shutterstock.com

Dia adalah zat paling baik hati yang pernah ada. Dalam kamusNya tak pernah ada istilah kamu tak mendapat apa-apa jika sudah berlaku baik sebagai manusia. Dia hanya menunda sementara agar balik modalmu terasa. Sesuatu yang ditunggu, diperjuangkan dan didoakan akan terasa lebih membahagiakan bukan?