Hampir setiap orang ingin bahagia. Bukan karena kebahagiaan itu penting, tapi karena perasaan itu membantu kita bertahan saat merasa tidak penting.

Sayangnya, ada beberapa hal yang selama ini kita lakukan yang sebenarnya mematikan kebahagiaan. Bahkan tak jarang, kita melakukannya tanpa sadar.

Dengan cara-cara apa selama ini kita menelikung kebahagiaan sendiri?

1. Hanya berharap setengah hati, karena takut sakit hati

Berharap setengah hati, karena takut sakit hati via hdwallpapersbase.com

Sebagaimana banyak orang lainnya, kamu percaya bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi akan berujung pada sakit hati. Menurut potongan kalimat yang kamu baca di internet dan Path, resep dari menjaga perasaan adalah dengan tak berharap sama sekali. Kamu pun langsung mengamininya — mungkin karena merasa pernah sakit hati karena ekspektasi yang tak kira-kira.

Advertisement

Kamu mulai belajar untuk tak banyak berharap. Pikirmu, “Kalau kenyataan tak sesuai kemauan, aku masih bisa untuk tidak kecewa.”

Yang mungkin kamu lupa, menaruh harapan adalah hal yang wajar. Justru harapan membantu kita memperkirakan seberapa penting sebenarnya suatu hal. Bukankah malah aneh kalau kita tak menaruh harapan tinggi pada hal-hal yang memang krusial? Kamu nggak mau ‘kan, misalnya, dapat pekerjaan atau calon pasangan yang biasa-biasa saja?

Selain itu, setengah hati dalam berharap justru bisa membuat kita hilang niat. “Ah, paling juga nggak bisa nantinya. Ngapain sih banyak-banyak usaha?” “Ah, paling juga Pak Dosen nggak bakal menyadari kerja kerasku.” Kalau begini, bukannya kita malah sedang memperlebar risiko untuk gagal? Kamu yakin kegagalan yang sudah menanti tak akan membuatmu sakit hati?

2. Melihat kebahagiaan sebagai prestasi individual, bukan kompromi yang harus kamu lakukan

Membahagiakan orang tua sama dengan membahagiakan diri sendiri via binasumbayak.blogspot.com

Kamu tahu apa passion-mu, dan berusaha keras untuk mendalaminya. Sayangnya, tekadmu mendapat tentangan dari keluarga. Mungkin kamu ingin serius menekuni karir di bidang musik, tapi mereka, dengan alasan bahwa kamu anak pertama, mengharapkanmu kerja kantoran. Kamu pun marah dan kesal, menganggap sikap mereka menghalangi kebahagiaanmu.

Tentu ini bukan situasi yang ideal. Tapi, belum tentu juga kesempatanmu untuk bahagia terampas selamanya. Kebahagiaan adalah perasaan yang kompleks. Ia tidak hanya berasal dari prestasimu sebagai seorang individu, namun juga bisa dihasilkan dari kompromi yang ikhlas dengan orang-orang terdekatmu.

Apapun yang akhirnya kamu putuskan untuk lakukan, coba pikirkan lebih dahulu: akan sempurnakah perasaan bahagiamu jika ayah-ibumu tak setuju? Bukankah bisa berbuat sesuatu untuk orang-orang yang kamu kasihi jugalah alasan tersendiri untuk bahagia?

3. Menyerah pada tuntutan untuk menjadi seragam

Sistem menuntut kita untuk seragam via nydailynews.com

Manusia bisa bertahan hingga sekarang berkat sistem dan tradisi yang mereka ciptakan. Dengan tradisi, kita menarik garis besar perihal apa yang boleh dan tidak boleh seseorang lakukan. Berbuat di luar kebiasaan kerap dianggap pengkhianatan terhadap sistem. Perlahan-lahan, ini menimbulkan tuntutan bagi kita untuk menjadi seragam, tak “menyalahi” adat ataupun kebiasaan.

Ini akan menjadi masalah ketika prinsipmu berbeda dengan adat dan tradisi lingkunganmu. Sebelum mengubur kebahagiaanmu demi tradisi yang sebenarnya tak kamu setujui, tanyakanlah dirimu sendiri: bisakah aku bahagia jika prinsip hidupku jadi tumbalnya?

4. Mencemaskan pendapat orang lain, padahal belum tentu orang lain peduli.

Kenapa mencemaskan hal yang tak perlu? via www.welovecinema.fr

Setiap kamu khawatir akan apa yang orang lain pikir tentang dirimu, ingatlah bahwa mereka sebenarnya hampir tidak pernah memikirkan kamu.

Kecuali mereka pacar, orang tua, atau pembenci ulungmu, sebenarnya jarang sekali orang lain memikirkanmu. Setiap orang lahir dengan kecenderungan lebih banyak berpikir tentang diri sendiri.

Jadi, jangan habiskan waktumu buat mencemaskan penghakiman mereka. Kamu jalan-jalan sendirian? Makan di luar sendirian? Mengecat rambutmu jadi merah? Ya terus kenapa? Mungkin saja sebenarnya mereka tak begitu peduli untuk menghakimi!

5. Menjadi tuli pada kata hati sendiri

Jika sudah terlalu lama tak didengarkan, lama-lama hatimu akan diam via www.venusbuzz.com

Setiap orang dilahirkan tidak mengenal yang namanya moral. Anak-anak bukanlah makhluk yang baik atau buruk, melainkan mereka yang masih belajar. Seiring kita berkembang, kita menjadi tahu bagaimana harus berlaku. Nilai-nilai pribadi kita simpan dalam hati. Ketika ingin menentukan pilihan, kita bisa mendengarkan apa yang hati kita katakan.

Sayang, seringkali kita menjadi tuli pada kata hati sendiri. Ketika teman-temanmu mengajak untuk mabuk-mabukan, hatimu sebenarnya berteriak enggan. Namun karena kamu takut kehilangan teman, akhirnya ajakan itu kamu iyakan. Rasa sesalmu kamu sumpal dengan menciptakan berbagai justifikasi sendiri.

Hati yang sudah terlalu lama tak didengarkan lama-lama akan diam. Jika sudah begini, bagaimana kamu bisa merasa bahagia?

Hidup terlalu berharga untuk dilewatkan tak bahagia. Dan bukankah tanggung jawab kita sendiri untuk berusaha?