Orangtua jelas jadi 2 manusia yang jasanya sangat besar bagi kita. Mereka adalah orang yang menyerahkan seluruh waktu dan tenaganya demi mendampingi kita jadi versi terbaik sebagai manusia. Mereka juga jadi 2 orang paling ikhlas yang rela memberikan apapun demi kebahagiaan kita.

Buat mereka, asal untuk kita, tidak ada pengorbanan yang sia-sia.

Selama ini kita boleh menganggap mereka hanya sebagai 2 orang yang harus dihormati sumur hidup. Sebab pengorbanan dan pemberian mereka tak pernah meredup. Namun pernahkah kamu merasa bahwa ada yang berubah dari caramu memandang mereka? Terutama selepas memasuki usia 25?

1. Kamu akhirnya sadar sepenuhnya. Orangtua tak akan ada selamanya. Sekarang saatnya berbakti, sebaik-baiknya

Kini saatnya berbakti. Sebaik-baiknya via tumblr.com

Dulu kamu boleh menolak permohonan Ibu dan Ayahmu untuk mengantar mereka belanja. Lebih memilih pergi bersama teman, teman satu geng, atau pacar. Mereka yang menurutmu lebih bisa membuat bahagia.

Advertisement

Namun makin ke sini, selepas usia 25 di depan mata — kamu menyadari satu hal yang jelas adanya. Orangtuamu tidak akan hidup selamanya. Maka sekaranglah kesempatan untuk berbakti, sebanyak-banyaknya; sebaik-baiknya.

2. Di akhir hari mereka juga manusia biasa. Sesekali pendapat mereka salah. Dan kamu sudah cukup dewasa untuk tak marah

Sesekali pendapat mereka salah. Kamu juga sudah cukup dewasa untuk tak marah via tumblr.com

“Kak, mending Kakak kerja di Bank aja deh…”, ucap Ibumu pada suatu petang saat kamu sedang mempersiapkan lamaran untuk dikirim ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kamu yang punya cita-cita jadi peneliti tiba-tiba dihadapkan pada keinginan Ibumu untuk mendaftar di industri yang sama sekali tak ada bayangan sampai hari ini.

Dirimu yang dulu boleh merasa marah dan sedikit gerah.

Apa-apaan Ibu ini, seenaknya masuk dan mengobrak-abrik mimpiku. Ini kan hidupku!

Hanya saja saat ini kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa orangtuamu tidak sempurna. Sesekali pendapat mereka salah. Kamu juga sudah cukup dewasa untuk tak marah.

3. Membahagiakan mereka itu nomor satu. Namun sebenarnya mereka lebih mementingkan kebahagiaanmu

Sebenarnya mereka lebih mementingkan kebahagiaanmu via tumblr.com

Pandanganmu dan orangtua kini mulai beririsan. Jelas, kamu paham sekali jika mereka punya impian yang mereka harap bisa kamu wujudkan. Diam-diam kamu pun rela bekerja lebih keras agar terwujudnya impian bisa menimbulkan senyum di muka.

Namun ternyata sekarang semua bukan soal mereka saja. Membahagiakan ayah dan ibumu memang jadi prioritas nomor satu. Tapi makin ke sini matamu juga makin terbuka. Mereka juga akan bahagia saat kamu bisa tertawa lepas ketika menjalani hidup yang memang jadi impianmu. Kebahagiaanmu, juga jadi kebahagiaan mereka yang nomor satu.

4. Ayah Ibu ingin melihatmu menjalani hidup yang punya makna. Ini lebih dari cuma perkara finansial saja

Impian mereka bukan cuma soal finansial saja via tumblr.com

Dulu kamu sempat berpikir bahwa Ayah Ibumu mendorongmu berjuang keras karena mereka tidak ingin melihatmu hidup kekurangan. Itu sebabnya kamu dimasukkan ke sekolah berkualitas. Didorong untuk bekerja di tempat yang bisa membuatmu mengembangkan jejaring.

Kamu pun tak keberatan pada awalnya. Siapa sih yang menolak diarahkan untuk hidup nyaman? Semua kamu jalani dengan sungguh-sungguh dengan 1 tujuan: hidup tidak kekurangan.

Tapi kini kamu sadar. Kebahagiaan ayah ibumu bukan hanya melihat anaknya mendapat gaji sekian belas juta tiap bulannya. Namun bagaimana kamu bisa memnafaatkan yang kamu punya, untuk memberi manfaat bagi sesama.

5. Kamu boleh jadi manusia yang salah dan nakal sesekali. Ibu dan Ayahmu adalah 2 orang yang selalu percaya kamu akan baik kembali

Ayah-Ibu percaya kamu akan selalu baik kembali via tumblr.com

Semakin dewasa jelas makin banyak kesalahan yang kamu perbuat. Makin banyak kealpaan yang terjadi di hidupmu. Kamu bisa berubah jadi anak nakal, sesekali usil — bahkan cenderung ke bejat.

Orang lain boleh mulai tidak percaya. Atau menilaimu macam-macam dengan berbagai stigma. Namun pada mereka kamu akan tetap menemukan rasa percaya. Ayah-Ibumu tetap yakin bahwa kamu, anak yang mereka didik, adalah anak yang baik pada dasarnya. Salah tak apa, mereka akan tetap menerima. Mereka selalu percaya kamu akan kembali baik sebagai manusia.

6. Di usia 25 tanggung jawab di bahu menyadarkanmu. Ayah dan Ibu menjalani sempat menjalani hidup yang berat karena kehadiranmu

Hidup mereka sempat berat karena kehadiranmu

Di usia 25 ini akhirnya kamu menyadari bahwa tidak mudah hidup sebagai orang dewasa. Sebut saja bagaimana kamu harus pintar memutar otak untuk mencukupkan gaji sampai akhir bulan. Bagaimana kepala terasa berat karena harus membayar cicilan yang datang tiap awal bulan.

Kamu yang masih single hingga umur ini kemudian bertanya. Dulu Ayah-Ibumu memilikimu di usia yang terbilang muda. Belum harus beli susu formula dan pampers saja kamu sudah cukup pusing mengatur semuanya. Sungguh, jika bukan karena cinta kamu tidak akan tumbuh dengan sebegini baiknya.

7. Hatimu sesekali patah saat melihat Ayah-Ibu. Tak henti mereka berdoa agar kamu segera memulai ‘hidupmu.’ Walau mereka tak akan ada di situ

Mereka ikhlas mendoakan masa depanmu via tumblr.com

“Ibu doain Kakak segera ketemu jodoh yang baik. Yang bisa bahagiakan Kakak.”

Tak cuma sekali doa macam ini keluar dari mulut Ibu juga Ayahmu. Mereka segera ingin melihatmu menghela langkah yang baru. Memulai kehidupan bersama dia yang mencintaimu. Dia yang bisa diajak bercinta dan membangun hidup bersama.

Doa tulus itu kini membuat hatimu sedikit patah. Ketika tiba masanya nanti, hidupmu yang baru akan dimulai bersama orang yang tertakdirkan. Ini artinya kamu akan keluar dari rumah meninggalkan mereka yang sudah membesarkan. Urusan istri, suami, dan anak-anak kelak jadi prioritasmu. Orangtua tak mungkin selalu jadi nomor satu.

Namun mereka tak pernah berhenti mendoakan kebaikanmu. Mereka memang sebaik itu.

Ah, orangtua dan berbagai romantismenya. Peluk sayang buat Ibu dan Bapak. Semoga di usia yang kian dewasa kita makin bisa membahagiakan mereka.