Dibandingkan dengan beban kuliah yang lainnya, mengerjakan skripsi seolah memiliki momok tersendiri. Mulai dari kesulitan mencari tema penelitian, berlanjut menentukan metode yang akan digunakan, sampai dengan proses menuju meja sidang semuanya bisa dikatakan fase paling “menyeramkan” dari kehidupan perkuliahan.

Tak sedikit mahasiswa yang menyerah kala mengerjakan tugas akhir yang satu ini. Namun pada dasarnya sesulit-sulitnya mengerjakan skripsi bukan berarti tantangan ini tidak memiliki penyelesaian. Jika kita memiliki pola pikir yang berbeda, kita bisa saja mengerjakan skripsi dengan lebih bahagia. Nah untuk menguatkan kamu menghadapi makhluk bernama skripsi, berikut ini Hipwee akan mengulas 7 alasan kenapa kamu tidak perlu lagi bermusuhan dengan tugas akhi yang satu itu:

1. Hanya karena skripsi kamu dipaksa rajin mengunjungi perpustakaan. Tempat sakral, tapi sering dilupakan oleh anak kuliahan

rajin datang ke perpustakaan via lib.feb.ugm.ac.id

Bagi kamu yang suka berlama-lama di perpustakaan mungkin poin pertama ini tidak berlaku. Namun sayangnya tak sedikit mahasiswa yang seumur-umur kuliah baru rajin menyambangi perpusatakaan kala sedang menyelesaikan tugas penelitian. Kecanggihan teknologi internet membuat banyak mahasiswa enggan mencari referensi langsung dari buku yang tersedia di perpustakaan.

Dengan mengandalkan sumber online seperti: google book, jurnal, sampai dengan video pembelajaran semuanya membuat mahasiswa semakin jarang mengunjungi tempat yang satu ini. Namun ketika sedang mengerjakan skripsi, secanggih-canggihnya teknologi tetap saja tak bisa diandalkan sepenuhnya. Mencari sumber bacaan baik dari buku dan skripsi orang adalah agenda harian yang harus kamu lakukan. Tentu di awal perjuangan ada rasa kesal yang mengganjal. Namun seiring dengan berjalannya waktu kamu semakin sadar bahwa hal tersebut sangat berguna untuk dirimu sendiri.

2. Jadi pengunjung rutin perpustakaan juga membuatmu akrab dengan Bapak-Ibu penjaga. Mereka adalah perpanjangan tangan surga yang akan membantumu saat sedang gila-gilanya

Advertisement

mengakrabkan diri dengan petugas perpustakaan via darmansyah.weblog.esaunggul.ac.id

Masih berkaitan dengan poin pertama, mengerjakan skripsi membuatmu harus rajin menyambangi perpustakaan yang selama ini bisa jadi kurang dikenal. Tidak hanya bisa membaca banyak buku di sana, bertemu dan berkenalan dengan petugas perpustakaan yang bisa jadi tampangnya saja tak pernah terlihat sebelumnya olehmu bisa dilakukan. Bahkan setelah sekian lama menjadi pengunjung setiap, hafal sebagian dari mereka adalah hal biasa.

Disadari atau tidak petugas perpustakaan adalah orang berkontribusi dalam keberhasilan penyelesaian tugas akhirmu kelak. Dengan bantuan mereka selama ini kamu tentu merasa bahwa keberadaan mereka sungguh berguna. Tanpa adanya petugas perpustakaan tentunya kamu akan bingung menemukan satu buku diantara ribuan lainnya.

3. Percaya atau tidak, skripsilah yang (memaksamu) membuatmu banyak membaca buku. Bahkan jauh lebih banyak dari jumlah buku yang kamu baca sepanjang masa kuliahmu

akhirnya rajin baca buku via syaifulmustaqim.blogspot.com

Diakui atau tidak banyak mahasiswa merasa benar-benar mencurahkan segala energinya membaca buku kuliah saat sedang mengerjakan skripsi. Mulai dari mencari teori dasar, argumen pendukung, kutipan, sampai dengan mencari berbagai definisi semua hanya bisa kamu lakukan dengan keseriusan membaca. Berbagai buku, jurnal, sampai dengan thesis pun kamu “makan” untuk memperkaya isi penelitian.

Jatuh bangun yang dirasa menyakitkan tersebut pada akhirnya membawa kamu pada sebuah kesadaran bahwa selama kuliah tak cukup banyak belajar. Banyak hal yang bisa saja juga baru kamu ketahui. Skripsi yang diawal terasa menyiksa pada akhirnya hal tersebutlah yang mendewasakanmu.

4. Walau sedikit menyebalkan, skripsi juga cara terbaik untuk memanggil ulang ingatan. Materi sepanjang kuliah kini harus kamu dalami dan terapkan

skripsi adalah belajar yang sebenarnya via qemerald.blogspot.com

Suanto: Dev lo simpan file presentasi kelas penelitian kuantitatif gak yang dulu itu?

Devisa: Gak tuh, gue kan jarang simpan presentasi. Emang kenapa?

Suanto: Yah padahal perlu nih, kan skripsi gue metodenya kuantitatif

Devisa: Lo baca buku saja. Kan ada tuh yang ditulis Prof Nunung, lengkap kok.

Suanto: Iya juga ya, oke deh thanks Dev!

Serunya dunia kuliah kadang justru bikin kita lupa bahwa tugas utama anak kuliahan itu ya belajar. Sistem belajar kuliah yang mengutamakan kemandirian tak jarang membuat kita lengah. Alih-alih disibukkan dengan kegiatan akademik sebagian dari kamu justru larut dengan berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Mulai dari yang sibuk ikutan berbagai organisasi, coba kerja atau magang sana-sini, menyalurkan hobi, sampai dengan yang enggak melakukan apapun alias mengisi sebagian waktu dengan main.

Maka gak heran begitu saatnya skripsi kita kebingungan mau nulis apa. Materi kuliah yang tidak terlalu dimengerti membuat bingung saat harus mencari tema penelitian. Akan tetapi karena skripsi itu hukumnya wajib mau tak mau kita pun terus menggali. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa kegiatan belajar paling maksimal dilakukan saat menyelesaikan skripsi. Ya meskipun terasa berat dan menyiksa tapi paling tidak kamu mendapatkan sesuatu dari sana.

5. Lewat skripsi kamu diajak melihat dosenmu sebagai manusia, bukan dewa. Kamu jadi tahu karakter mereka beserta gosip-gosipnya

mengenal karaketristik dosen via japratheredranger.blogspot.com

Sebelunya Hipwee pernah membahas tentang rasanya berhadapan dengan dosen pembimbing loh, sudah pada baca belum?

Salah satu keuntungan dari skripsi adalah kesempatan untuk mengenal karakteristik — dosen paling tidak dosen pembimbingmu. Jika sebelumnya kamu hanya mengenal sebagai tenaga pengajar, kini saatnya kamu mengenal mereka lebih dalam. Mulai dari hobinya, rumahnya di mana, anaknya ada berapa, sukanya tulisan seperti apa, dan lain sebagainya. Melalui kegiatan skripsi ini kamu juga jadi semakin sadar bahwa tugas dosen tidaklah semudah yang terbayangkan.

Nah karena adanya skripsi kamu juga jadi punya bahan untuk mengetahui karakteristik dosen lainyna. Misal saja nih:

Kamu: Eh kemarin kamu sidang proposal sama Pak Nazuar ya?

Teman: Iya tuh, kenapa emang? Kamu juga?

Kamu: Iya nih. Eh dia orangnya gimana sih? Kalau nanya susah-susah enggak? Aku takut takut.

Teman: Santai saja sama dia mah asal kamu kuat di teori pasti aman. Dia kan sukanya nanya teori.

Pembicaraan-pembicaraan seperti itu tentu menjadi “diskusi” lumrah di kalangan mahasiswa yang sedang skripsi. Malah kadang gak cuma karakteristiknya saja sampai gosip-gosipnya pun jadi bahan omongan juga. Pada intinya skripsi membuka lebar kesempatan untuk mengenal orang-orang yang selama ini hanya bisa kamu tahu mengajar di depan kelas saja.

6. Hanya karena skripsi kamu dibentuk jadi orang gigih bermuka tebal. Mengajukan ijin penelitian ke perusahaan, magang demi ambil data : semua memberimu pengalaman yang tidak ada duanya

magang sambil cari pengalaman via nearfikomjayabaya.blogspot.com

Selain berdampak pada kemampuan akademik, skripsi juga membuka peluang untukmu menambah pengalaman meskipun saat awal melakukannya kamu bisa saja merasa terpaksa. Misal saja nih kamu anak Komunikasi yang lagi penelitian tentang program CSR disuatu perusahaan. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan bukan tak mungkin kamu diwajibkan untuk menjalani magang terlebih dahulu.

Tanpa sadar, pengalaman magangmu tersebut akan berguna dikemudian hari. Kamu bisa memasukkan kegiatan magang yang telah kamu lakukan untuk menambah nilai jual. Bahkan ada banyak cerita anak magang yang mendapat tawaran kerja di perusahaan bersangkutan saat bisa menunjukkan profesionalitas. Niatan awalmu magang yang bertujuan hanya untuk mendapat data penelitian terbukti membawa berkah di kemudian hari.

7. Skripsi adalah jendela pembuka mata. Sedikitnya materi yang dikuasai menyadarkan kalau selama ini kamu terlalu banyak main-main daripada serius jadi mahasiswa

baru sadar ilmunya sedikit via www.huffingtonpost.com

Seperti tadi Hipwee bilang kalau masa-masa skripsi sesungguhnya adalah fase di mana kamu bisa banyak belajar atau malah masa belajar sungguhan. Ketika kamu mulai membaca berbagai buku yang tadinya tidak sempat tersentuh barulah kamu sadar bahwa selama masa kuliah sangat sedikit belajar. Apalagi ketika kamu mulai membaca skripsi orang dan banyak hal yang tidak kamu mengerti di sana. Hal tersebut semakin membuatmu menyadari bahwa apa yang kamu tahu selama ini belum maksimal.

8. Sesungguhnya skripsi tak perlu ditakuti. Dia justru mendidikmu jadi pejuang yang sabar. Di hari wisuda nanti semua jerih payah ini pasti terbayar

akhirnya WISUDA via aliyamuafa.wordpress.com

Lika-liku mengerjakan skripsi sudah tentu membuatmu lelah. Mulai dari proses awal hingga akhir tak jarang membuatmu ingin menyerah. Namun keinginan untuk meraih gelar sarjana dan membanggakan orangtua membuatmu kuat menjalan semunya. Segala kesulitan yang dihadapi dengan penuh kesabaran pada akhirnya memberimu akhir indah yakni sebuah kelulusan.

Kelak kamu bisa jadi akan menertawakan berbagai rintangan yang kamu hadapi saat berjuang menyelesaikan skripsi. Mulai dari sulitnya menemukan judul, kegalauan berhadapan dengan dosen pembimbing, tantangan mengumpulkan data, dan lain yang tanpa sadar menempa dirimu untuk jadi manusia yang lebih dewasa. Meskipun dulunya dibuat stres setengah mati akhirnya kamu sadar bahwa skripsi hanyalah sebagian kecil dari tantangan hidup yang harus kamu jalani.

Itu tadi 8 alasan versi Hipwee kenapa kamu gak perlu kesal-kesal banget sama skripsimu. Tugas menyelesaikan skripsi memang tidak mudah, namun jika diiringi dengan niat yang kuat serta keseriusan tentu pada akhirnya hasil memuaskan bisa kamu dapatkan. Dengan berdoa dan terus berusaha niscaya skripsimu akan selesai tepat pada waktunya.

Featured Image: blogs.mcgill.ca