Pergi ke kantor kena macet, ngeluh. Banyak kerjaan, ngeluh. Banyak tugas kuliah pas dosennya nggak enak, ngeluh. Nggak bisa nonton film di premier pertama karena hujan, ngeluh. Dicuekin pacar, ngeluh. Nggak punya duit, ngeluh. Nggak bisa beli gorengan, ngeluh. Setiap hari waktu habis untuk mengeluh. Wajar kalau hidupmu terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Memang sih daya tahan setiap orang untuk penderitaan memang berbeda. Ada yang selalu selow menghadapi masalah, ada juga yang panik setengah mati. Ya meskipun setiap orang pernah mengalami momen beratnya masing-masing, namun apa kamu sudah pernah mengalami perjuangan menyebrangi sungai besar dengan jembatan yang putus sebelah hanya untuk ke sekolah? Kita yang hidup di kota mungkin terbiasa dengan mudahnya fasilitas, meski macet dan terkadang jalan berlubang, setidaknya ada jalan yang bisa dilalui dengan aman. Sementara kita bisa kuliah dengan nyaman, lulus, dan mencari kerja (yang kadang-kadang memang melelahkan), adik-adik kita di pedalaman sana harus berjuang keras untuk sampai ke sekolah.

Mungkin dengan melihat foto-foto ini perjuangan anak-anak untuk sampai ke sekolah, kita dapat memikirkan solusi bersama atas tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Sambil, tentu saja, bersyukur atas segala kemudahan yang kita terima.

1. Percaya atau tidak foto pertama ini berasal dari Jakarta. Di kampung Bukit Duri, anak-anak menggunakan eretan untuk menyebrangi Sungai Ciliwung

Anak-anak Kawasan Bukit Duri menyebrangi Sungai Ciliwung via www.rappler.com

2. Karena menempuh jalur aman harus memutar sejauh 7 km, anak-anak di Desa Suro dan Plempungan memilih melewati saluran air tua yang dibangun di zaman Belanda. Nyawa taruhannya karena di bawahnya ada jurang yang dalam dan menganga

Saluran air penghubung desa Suro dan Plempungan, Karanganyar via efekgila.com

3. Jembatan yang rusak akibat diterjang banjir tidak menyurutkan niat anak-anak Desa Sanghiang Tanjung, Banten. Tiap hari harus uji nyali dengan melalui jembatan miring ini. Kepleset sedikit, bisa langsung nyebur ke sungai Ciberang. Perjuangan mereka yang viral di media, akhirnya membuat sebuah perusahaan baja tergerak untuk membangun jembatan baru untuk mereka

5. Sementara kamu hanya mengarungi kemacetan hanya untuk sampai di sekolah, anak-anak ini harus mengarungi arus sungai yang sebegini derasnya. Nyawa dipertaruhkan demi menimba ilmu untuk masa depan. Perjuanganmu sudah sampai mana?

6. Kalau sebelum menghadapi pelajaran matematika yang super sulit kamu harus melintasi tebing yang maha sulit seperti siswa SMP Atap Cibalong Garut ini, kira-kira bagaimana?

Advertisement

SMP 1 Atap Cibalong, Garut via ceriwis.net

7. Sekolahnya ada di balik bukit. Sebelum menyeberangi sungai, setiap harinya anak-anak di Desa Praibakul, Sumba Timur ini harus mendaki bukit terjal yang bisa longsor sewaktu-waktu. Jangan bayangkan sepatu gunung atau minimal sandal, dua benda itu adalah barang langka

Desa Praibakul, Haharu, Sumba Timur via www.wvindonesia.org

8. Demi sampai di sekolah tepat waktu, anak-anak di Boyolali ini rela naik andong sampai sebegininya. Medan yang lumayan sulit bisa membuat mereka jatuh kapan saja. Tapi toh mereka tetap tertawa. Kamu yang desak-desakan di kereta saja sudah ngeluh, apa kabar?

Angkutan Umum Jalan raya Andong-Kemusu Boyolali via id.news.qa1p.global.media.yahoo.com

9. Jembatan kayu di Singkil Utara ini sudah roboh dari setahun sebelumnya. Namun karena belum diperbaiki dan merupakan satu-satunya jalur yang bisa ditempuh, beginilah perjuangan siswa-siswi Aceh ini

Kampung Baru, Singkil Utara, Aceh via www.acehbesmart.com

10. Jembatan yang menghubungkan Desa Sumua Bana dan Kota Padang ini sudah rusak sejak tahun 2008. Karena itu adalah akses satu-satunya daripada harus memutar yang jaraknya cukup jauh, anak-anak ini mempertaruhkan nyawa setiap harinya. Perjuangan mereka diabadikan oleh media Inggris The Sun dengan tajuk ‘Is this the most dangerous school run in the world?’

Desa Sumua Bana, Padang Pariaman via www.duakotopas.com

11. Di Nagari Koto Nan Tigo yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat ini, anak-anak harus berenang di Sungai ‘Maut’ Batang Surantih setiap harinya. Untung saja, swadaya masyarakat berhasil membangun jembatan yang cukup layak untuk dilalui

Nagari Koto Nan Tigo via www.duakotopas.com

12. Banten tak seberapa jauh dari ibu kota. Tapi di Desa Cicaringin, Lebak, Banten ini para siswa harus melewati jembatan darurat berupa tali baja yang mudah bergoyang-goyang ditiup angin. Sementara di bawahnya Sungai Ciliman mengalir deras. Kamu belum tentu bernyali melalui jembatan ini~

Desa Cicaringan Lebak, Banten via www.iswandibanna.com

13. Meski bukan di Indonesia, tapi perjuangan anak-anak di desa Atule’er Village di Utara Shincuan China ini layak kamu renungi. Mereka harus menaiki 17 tangga untuk mendaki tebing setinggi 800 meter setiap hari. Delapan nyawa sudah melayang di tebing ini, tak menyurutkan niat mereka untuk ke sekolah setiap hari

14. Di sebuah desa di Pedalaman Kolombia, untuk mencapai sekolah, kamu harus melakukan atraksi super bahaya ini untuk pergi ke sekolah. Bisakah kamu membayangkan kalau kamu yang mengalami hal ini setiap hari?

Bila kita mau keluar dari nyamannya kota besar, perjuangan anak untuk mendapatkan pendidikan seperti di film Laskar Pelangi memang nyata adanya. Namun kesulitan yang sedemikian besarnya, toh tidak menyurutkan niat mereka untuk belajar. Kita yang terbiasa hidup nyaman ini masih harus banyak belajar.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!