Persoalan sakit hati memang tidak pernah sederhana. Meskipun tidak menimbulkan infeksi seperti luka fisik yang tak segera terobat, sakit hati bisa menguji kendali diri. Gabungan antara rasa kecewa dan hati yang luka membentu hasrat untuk balas dendam. Seolah membuat orang yang melukai merasakan hal yang sama akan dengan sendirinya menyembuhkan luka yang kamu punya.

Namun melakukan hal yang sama kepada orang yang menyebabkan sakit itu, apakah benar bisa memuaskan dendammu? Apa benar bisa menyembuhkan segala sakit yang kamu rasakan? Barangkali tidak. Karena dengan begitu, kamu akan selalu mengingat luka yang kamu rasa, sementara kamu sibuk memikirkan cara untuk membuatnya ikut terluka. Daripada seperti itu, melanjutkan hidup dan membuatnya lebih menyenangkan, justru bisa menjadi pembalasan dendam yang lebih efektif, sekaligus lebih elegan.

Ditinggalkan dalam kecewa adalah sesakit-sakitnya rasa. Namun tenggelam dalam luka tidak akan memberimu apa-apa

Jangan sampai tenggelam kehilangan arah via hd.unsplash.com

Kecewa tak selalu terjadi karena sikap-sikap tercela yang dilakukan seseorang kepada kita. Namun kita bisa kecewa karena ekspekstasi yang terlalu tinggi, sementara yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita yakini. Namun apapun sebabnya, sebuah kecewa tidak pernah sederhana. Ada hati yang luka, dan ada usaha susah payah yang harus kamu lakukan untuk bisa menerima realita.

Hubungan yang sudah kamu rencanakan sebagai pelabuhan terakhir, ternyata hanya persinggahan, dan akhirnya hanya menjadi kenangan. Sakit memang. Namun terlalu lama tenggelam dalam kesedihan hanya akan memberimu kesedihan. Hidupmu terhenti, dan hal yang kamu inginkan tetap tidak kembali.

Begitu juga dipandang sebelah mata. Sakitnya seolah-olah menembus raga. Mendengar dan memikirkannya tak akan membuatmu lebih baik

Advertisement

Tak usah pikirkan mereka yang memandang sebelah mata via hd.unsplash.com

Ada rasa kecewa, ada rasa sakit hati. Bisa dibilang, keduanya berbeda. Namun keduanya bisa terjadi karena ekspektasi. Bedanya, dalam kecewa, ekspektasi itu milikmu sendiri. Sementara sakit hati, ekspektasi itu berasal dari luar. Dunia dipenuhi standar yang terkadang begitu sulit untuk digapai. Kamu yang dinilai tidak punya ini dan itu, dianggap hanya butiran debu.

Dipandang sebelah mata dan tidak diperhitungkan sama sekali. Meski tak berupa sakit fisik, namun pedihnya terasa menusuk ke hati. Namun memang begitulah dunia. Semakin kamu mendengarkan cuap-cuapnya, rasanya semakin jahat. Karena itu, bila tak mendatangkan manfaat, omongan orang yang menyakitkan tak perlu kamu dengarkan.

Rasa sakit hati itu, kamu yang atur sendiri. Bila kamu memilih tak peduli, bebanmu juga tidak akan seberat ini

Bebaskan diri dari beban yang tidak perlu via hd.unsplash.com

Dunia ini memiliki aturan perputarannya sendiri. Kamu hanya bisa berusaha, namun pada akhirnya hasil bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Ekspektasimu boleh tinggi, namun segalanya bisa terjadi. Kamu juga tidak bisa mengatur bagaimana semua orang bersikap. Meskipun kamu berusaha sekuat tenaga untuk bersikap baik dan anti mengecewakan orang, pasti ada saja satu atau dua orang yang tidak itu hal biasa.

Karena itu, soal sakit hati semuanya tergantung diri sendiri. Kamu punya dua pilihan. Pertama, kemu menghayatinya dan menjadikannya penghalang setiap langkahmu. Kedua, bersikap tidak peduli dan terus melangkah meski seisi dunia mencibir. Sekilas melihat, tentu kamu sudah tahu mana yang lebih menyenangkan.

Jadikan kekecewaan dan sakit hati disepelekan sebagai cambuk lecutan. Selanjutnya, hidupmu harus lebih baik dari ini

Siap menjalani hari yang lebih baik via hd.unsplash.com

Rasa kecewa dan sakit hati itu janganlah dijadikan kerangkeng pribadi. Sebuah penjara dari dalam hati yang membuatmu enggan melangkah karena takut terluka lagi. Justru rasa kecewa dan sakit hati itu harus dijadikan bahan bakar pembakar semangat, meski kamu bukan penggemar acara motivasi. Jadikan cambuk lecutan yang membuat tekadmu semakin kuat. Sekali ini, kamu boleh gagal, namun kamu harus berusaha lebih keras lagi. Saat ini, dunia boleh memandangmu sebelah mata, namun kelak, kamu harus bisa membuat mereka bisa membuka mata. Takjub, tak percaya.

Kamu yang dikecewakan, tak harus membalas dengan mengecewakan. Namun pertunjukan hidup yang baik-baik saja justru lebih mengena

Fokus saja pada pencapain hidupmu via hd.unsplash.com

Pembalasan dendam bisa melalui berbagai cara. Kamu bisa memilih untuk melakukan perbuatan yang sama, sehingga dia yang mengecewakanmu bisa merasakan sakit yang sama. Konsekuensinya, kamu akan membawa luka itu seumur hidupmu, dan sibuk memikirkan waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan dendam. Opsi kedua, alih-alih mencari cara untuk balas dendam, kamu bisa bangkit, memperbaiki hidupmu dan menunjukkan bahwa kamu masih berdiri tegar seperti karang meski sudah dia kecewakan. Konsekuensinya, hidupmu lebih tertata, dan kamu membuktikan bahwa kamu tak apa-apa.

Kamu yang disepelekan tak harus melawan dengan kata-kata. Akan percuma bila kamu berusaha meluruskan, sebab orang lebih suka dengan pembuktian

Kebahagianmu adalah bukti paling efektif via images.unsplash.com

Membalas hinaan dan setiap caci maki yang datang dengan kata-kata hanya akan membuang-buang tenaga. Barangkali justru seharusnya kamu bersyukur berada dalam lingkungan orang-orang yang menyepelekan. Dengan begitu, setiap langkah yang kamu ambil justru lebih bebas dan tanpa beban ekspektasi yang harus kamu penuhi. Daripada sibuk membela diri, lebih baik kamu membalasnya dengan membuktikan diri. Dengan bukti, orang tidak lagi bisa menyangkal.

Balas dendam tak harus dengan perbuatan yang setimpal. Namun kesuksesan dan pembuktian bahwa kamu bisa, akan membuatmu mampu mengalahkan mereka

Kalahkan mereka dengan kesuksesan dan hidup bahagia via www.pinterest.com

Terkadang sakit hati memang membutuhkan pelampiasan. Namun bentuknya tak harus berupa aksi pembalasan dendam dengan perbuatan yang setimpal. Banyak cara untuk membuat orang lain kecewa dan terluka. Tak harus dengan kata atau perbuatan yang menyakiti, melainkan bisa dengan kesuksesan dan hidup yang baik-baik saja membuktikan bahwa kamu tak goyah, meski dia pernah datang mengacaukan hidupmu. Sikap yang demikian, dengan sendirinya membuatmu mampu mengalahkan mereka. Sebab apapun yang mereka lakukan, tak akan membuatmu mundur meski hanya sejengkal.

Living well is the best revenge – R.E.M

Banyak cara untuk membalas perlakuan buruk seseorang. Salah satunya adalah dengan membuktikan bahwa perlakuan buruk itu tidak berpengaruh apa-apa. Tetap berusaha dan mencoba untuk bersinar. Selain kamu bisa membalas dendam dengan membungkam mereka, hidupmu pun akan membaik dengan sendirinya. Efektif dan elegan.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!