Orang baik kayak kamu itu sekarang langka! Tapi jangan lugu juga

Kamu sering tersenyum getir saat mendengar pendapat seperti itu. Bukan senang, tapi kamu justru berpikir lagi “Memang seburuk apa sih dunia sekarang ini? Kenapa juga tak boleh lugu?” Sementara kamu selalu punya keyakinan kalau bersikap atau berprasangka baik dengan orang itu perlu. Kamu cuma ingin membantu siapa saja dengan usaha semampumu. Toh meringankan beban orang dan menyenangkan hatinya katanya itu kebahagiaan tersendiri untukmu.

Tapi kadang dunia justru tak sebaik seperti yang kamu pikirkan. Terkadang menjadi orang yang terlalu baik, hanya akan mendatangkan kerugian untuk dirimu sendiri. Setidaknya, kamu perlu tahu alasan-alasan ini.

1. Tak semua orang bisa menghargai kebaikanmu dengan tak memanfaatkannya lagi dan lagi

mereka yang tulus atau hanya memanfaatkanmu

mereka yang tulus atau hanya memanfaatkanmu via www.nessakphotography.com

Kamu salah satu orang yang tak pernah segan mengulurkan tangan, entah ke keluarga, teman, bahkan orang yang belum dikenal. Sering juga kamu mengusahakan sekali memberi pertolongan kepada siapapun. Anggapan berlebihannya, kamu itu malaikat tak bersayap. Tapi sebelum terlanjur senang dengan julukan malaikat, kamu perlu melihat kenyataan, bahwa orang yang menghargai kebaikanmu ini hanya beberapa saja.

Ingat di dunia ini hanya ada dua tipe orang, yaitu baik dan jahat. Kamu memang salah satu Si Baik itu, tapi bagaimana dengan si jahat? Si Jahat ini bukan berarti orang yang berbau-bau kriminal saja. Tapi juga dia yang tak menghargai kebaikanmu dengan semestinya. Bisa dengan tak tahu terima kasih, atau terus saja mengandalkan alias memanfaatkan kebaikanmu itu dan itu!

Bukankah dalam kehidupan sosial yang baik itu adanya simbiosis mutualisme?

2. Karena pola pikir yang terlalu lugu kadang buatmu lupa dengan hidup yang penuh lika-liku

kamu terlalu lugu

kamu terlalu lugu via unsplash.com

Lugu sendiri maksudnya apa sih? Di KBBI lugu itu tak banyak tingkah, bersahaja, wajar, dan apa adanya. Tak ada yang buruk memang dengan makna lugu. Tapi untuk urusan pola pikir kamu tak bisa yang selalu berusaha wajar dan apa adanya. Ada waktunya kamu perlu berpikir lebih kompleks. Kamu tak bisa terus berpikir kalau selama ini sering ditipu orang karena memang lagi apesnya saja. Bukankah ada sebabnya kenapa kamu bisa ditipu berkali-kali? Salah satu penyebabnya apa lagi kalau bukan karena keluguanmu ini.

3. Berbuat baik memang tak mengenal kata rugi, tapi biar tak ditipu kamu tetap perlu berhati-hati

berhat-hati biar nggak ditipu

berhat-hati biar nggak ditipu via www.nessakphotography.com

Berbuat atau berprasangka baik memang ladangnya pahala, toh bisa juga jadi sumber bahagia. Tapi kamu sendiri tetap saja harus berhati-hati. Jangan asal baik tanpa mengenal batasan atau jarak dalam bersikap ke orang. Ada kalanya menjaga jarak tetap ada dalam bersosialisasi dengan orang lain itu perlu. Bukan karena sombong, tapi supaya kamu tak mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Sebab kamu sendiri tak pernah tahu isi hati atau keperluan asli setiap orang yang ada di sekitarmu.

4. Karena keluguan juga kamu lupa untuk jeli, menganggap semuanya orang bisa dipercayai

Harus jeli biar nggak langsung percaya aja

Harus jeli biar nggak langsung percaya via unsplash.com

Kamu menganggap semua orang yang kamu kenal ini baiknya sama sepertimu. Paling tidak mereka bisa kamu dipercaya sepenuh hati. Berprasangka baik memang tak pernah salah, tapi jeli dalam melihat atau menilai pribadi seseorang tetap tak boleh kamu abaikan. Kamu perlu tahu sejauh mana dan untuk hal apa orang ini bisa dipercaya olehmu. Atau mana saja yang tak perlu terlalu dipercaya, tapi tetap harus diperlakukan dengan baik. Intinya lagi-lagi soal jarak dalam bersikap. Sementara lugu seringnya buatmu lupa dengan jarak dan kurang jeli menilai orang.

5. Bukan disegani atau dihormati, justru keluguanmu ini membuat orang seenaknya mengusili

lugu bukan cara untuk disegani

lugu bukan cara untuk disegani via unsplash.com

Siapa bilang keluguan buatmu disegani atau dihormati?

Kamu lihat orang-orang tegas di luar sana, apa iya mereka memakai keluguan mereka dalam menghadapi bermacam-macam karakter di sekelilingnya? Mereka yang tegas ini bisa saja sama baiknya denganmu. Hanya saja mereka tak bisa langsung percaya dengan orang, sekalipun itu teman yang sudah cukup lama kamu kenal atau masih saudara sendiri. Mereka memilih mengamati diam-diam sambil terus menjaga jarak tapi juga tetap bersikap baik. Sebab dengan cara seperti itu mereka tak akan bisa diusili atau dicurangin dengan seenaknya.

6. Karena baik dan lugu tak cukup jadi modal untuk bertahan di hidup yang keras dan liar ini

lihat lagi modadl untuk hidup di dunia yang keras ini

lihat lagi modadl untuk hidup di dunia yang keras ini via unsplash.com

Setiap orang bebas menentukan ingin bersikap baik atau jahat sebagai bekal hidup. Tapi bukan berarti baik apalagi lugu jadi satu-satunya modal untuk bertahan di kehidupan yang keras dan liar ini. Kamu tetap perlu kehati-hatian, ketegasan, kebijaksanaan, bahkan kehumorisan. Sebab menjalani hidup kadang tak perlu dibuat murung terus dengan bertumpuk-tumpuk pikiran. Kamu perlu sesekali menertawakan hidup sambil terus mawas diri.

Toh hidup ini perlu kamu benar-benar nikmati. Jangan sampai kamu terlalu baik karena keluguan, sampai akhirnya sering dimanfaatkan bahkan dicurangi orang. Bukankah orang pun punya kewajiban bersikap baik kepadamu? Biar hidup ini lebih seimbang.