Bagi banyak orang, bekerja sesuai dengan passion bisa menjadi sebuah kemewahan. Sebab bekerja sesuai dengan passion dianggap bisa membuat lebih bahagia. Tapi mari renungkan kembali, apakah memang benar bekerja dengan passion merupakan jaminan bahagia atau apakah bekerja di bidang yang tidak sesuai passion akan membuat menderita?

Bekerja pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan potensi diri. Sebagai fresh graduate, mungkin kamu belum bisa sepenuhnya menentukan apa saja potensi yang kamu miliki untuk terjun dalam dunia kerja. Sehingga masih perlu untuk mengeksplore banyak hal dalam hal karir. Tetapi ketika kamu memutuskan untuk langsung bekerja di bidang yang sesuai passionmu, maka hal-hal di bawah ini patut menjadi pertimbanganmu. Agar ke depannya kamu tidak salah langkah.

1. Kamu ingin bekerja sesuai passionmu karena berpikir pekerjaan akan lebih mudah dilalui? Sayangnya, pola pikir seperti itu tak melulu tepat.

tak ada pekerjaan yang mudah via levoleague-wordpress.s3.amazonaws.com

Sekalipun kamu bekerja di bidang yang sesuai dengan passionmu, tantangan dalam pekerjaan akan tetap ada. Ingat, tidak ada pekerjaan yang begitu saja dengan mudah untuk dikerjakan. Karena dalam sebuah pekerjaan baik kamu bekerja untuk sebuah perusahaan atau instansi maupun bisnis yang kamu bangun sendiri, selalu ada target yang harus dicapai. Jalan untuk mencapai target itulah yang tidak selalu mudah. Seiring berjalannya waktu, target juga harus terus naik.

Jika nantinya kamu sudah mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passionmu, jangan harap kamu bisa berleha-leha. Kamu tetap harus memenuhi target dari pekerjaanmu.

2. Kalau menurutmu bekerja sesuai dengan passion itu mudah, coba pikir kembali apakah kamu benar-benar sudah ahli dalam bidang yang kamu pilih?

Advertisement

coba pikir-pikir lagi via forwardthinking.ashford.edu

Kamu punya passion untuk bekerja sebagai seorang jurnalis? Hayo coba pikirkan kembali, apa kamu sudah punya cukup ilmu dan kemampuan untuk benar-benar bisa terjun dalam karir jurnalistik. Ingin jadi jurnalis koran tapi kemampuan menulismu masih nol? Sama saja bohong! Atau ingin menjadi jurnalis, tapi kamu tak peka terhadap isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat? Ya jangan menjadi jurnalis. Jangan hanya melihat enaknya saja menjadi jurnalis yang bisa jalan-jalan kemana saja dengan gratis. Pikirkan juga konsekuensi lain yang juga banyak ngga enaknya. Apakah kamu sudah siap dan mampu bekerja 24 jam tanpa bayaran lembur? Sebagai seorang jurnalis kamu harus siap mendapat penugasan liputan kapan pun dan dimana pun.

Intinya, sebelum kamu menentukan passionmu di salah satu bidang, kamu juga harus mengenali potensi apa saja yang ada dalam dirimu. Kamu harus berkali-kali bertanya pada dirimu apakah kamu mampu melakukan itu. Jangan terlalu memaksakan jika pada kenyataannya kamu tidak sanggup. Toh jenis pekerjaan juga banyak.

3. Bekerja sesuai passion memang bisa menyenangkan tapi bukan berarti kamu boleh seenaknya ‘kan?

stress itu biasa dalam kerja keras via www.careerealism.com

Setiap pekerjaan memang harus selalu punya target dan kamu harus bisa mencapainya jika ingin dinilai kompeten. Hal itu selalu berlaku sekalipun kamu bekerja di bidang yang memang menjadi passionmu. Bahkan kamu yang bekerja sesuai passion harus menunjukkan effort lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak. Malu dong, kalau sudah bekerja sesuai passion tapi hasil kerjamu malah terlihat asal-asalan.

Itulah mengapa sebenarnya bekerja sesuai passion justru mengandung tanggung jawab yang sangat besar. Apalagi jika atasan mengetahui pekerjaan itulah yang menjadi passionmu, ia pasti memiliki ekspetasi tinggi terhadap kinerjamu.

4. Punya passion di satu bidang bukan alasan untuk tidak mencoba mencari passionmu yang lain. Semakin banyak yang kamu sukai, semakin lebar pula kesempatanmu meningkatkan kompetensi diri.

sah-sah saja punya passion lebih dari satu via catchafireblog.org

Siapa bilang kamu hanya boleh setia pada satu passion saja. Passion itu bukan kekasihmu, yang tentunya tidak akan keberatan jika kamu duakan, tigakan, empatkan, dan seterusnya. Mempunyai banyak passion justru menjadi kesempatan bagimu untuk lebih bisa meningkatkan kompetensi diri.

5. Menciptakan zona nyaman saat berkarir tidaklah salah. Namun kamu juga harus tentukan kapan batas waktu harus keluar dari zona nyamanmu.

jangan terjebak pada zona nyaman via lifethroughtravelblog.files.wordpress.com

Berada di zona nyaman memang sangat menyenangkan. Berada di zona ini, kamu seakan tidak perlu lagi dipusingkan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan adaptasi. Segalanya seakan sudah berjalan dengan baik tanpa kamu perlu mencurahkan seluruh tenaga dan pikiranmu. Dalam pekerjaan, setiap harinya kamu seperti sudah selalu tahu apa yang harus dikerjakan dan kamu tahu cara menyelesaikannya.

Tapi tahukah kamu, jika berada terlalu lama pada sebuah zona nyaman justru akan menghambat proses pengembangan dirimu. Kamu harus mulai berani mendobrak tembok kenyamananmu dan membangun tembok kenyamanan yang lain. Jangan sampai zona nyamanmu terlalu sempit, kamu harus mulai perluas zona itu.

6. Bahkan berkarir di bidang yang bukan merupakan passionmu bukanlah sebuah kesalahan. Kamu justru akan menemukan hal-hal baru yang menantang.

intinya cintai pekerjaanmu apa adanya via www.bestsayingsquotes.com

Salah satu cara untuk mendobrak zona nyamanmu, mungkin dengan mencoba pekerjaan yang sebenarnya itu bukan passionmu. Tak ada salahnya kok mencoba jenis pekerjaan lain. Siapa tahu dari situ kamu bisa menemukan ketertarikan baru di bidang lain. Tak hanya itu, kamu juga jadi bisa belajar banyak hal baru. Maka kamu pun bisa menjadi orang yang lebih fleksibel karena menguasai banyak bidang pekerjaan.

7. Kamu pun bisa melihat orang-orang yang telah sukses berkarir dengan mengikuti passion mereka. Tapi jangan lupa, lihat juga saat mereka berjuang, bukan hanya saat sudah berhasil saja.

Livi Zheng (26), sutradara muda asal Indonesia yang sukses di Hollywood via pojoksatu.id

Sebagai penyemangat, kamu bisa membaca kisah inspirasi orang lain yang terlebih dulu telah berhasil dalam menjalani pekerjaan yang sesuai passionnya. Tapi jangan melulu melihat keberhasilannya saja, kamu juga harus tahu saat dia jatuh bangun demi mewujudkan passionnya.

Seperti misalnya yang dialami oleh Livi Zheng, sutradara muda asal Blitar ini berhasil membawa film karyanya yang berjudul Brush With Danger ke dalam seleksi nominasi Piala Oscar ke 87. Jalannya menemukan passion dalam bidang film tak semudah yang dibayangkan. Sebelumnya, ia harus menyelesaikan pendidikan sarjananya di Jurusan Ekonomi University of Washington. Lalu setelah lulus kuliah baru ia menemukan passion baru di dunia film.

Saat terjun ke dunia film, jalannya pun tak mulus begitu saja meski itu adalah passionnya. Sebelum menjadi sutradara ia harus mulai menjadi kru film yang harus bekerja serabutan. Lalu setelah menjadi sutradara, ia harus mau menerima kenyataan bahwa naskah filmnya ditolak produser 32 kali. Pada naskah ke 33, baru ia mendapat keputusan bahwa naskahnya layak untuk syuting.

Kisah Livi ini pun bisa jadi pembelajaran bahwa bekerja dengan passion juga dibutuhkan perjuangan yang berdarah-darah. Mengikuti kata hati saja belum cukup, harus ada kemauan keras di balik itu.

Jadi masih berpikir kalau bekerja sesuai dengan passion itu mudah dan sudah pasti membuatmu bahagia?