Saling sindir, menghujat, dan kadang menebarkan hoax, mungkin sudah menjadi ciri khas dari media sosial masa kini. Meski banyak yang merasa terganggu dengan postingan yang kurang mendidik, tapi sayangnya hingga saat ini yang sering jadi sorotan masih berita-berita bernada negatif. Entah apa memang perangai dasar manusia yang suka bergibah atau karena difasilitasi oleh akun-akun sosial yang sekarang serba anonim, kultur media sosial kita jadi semakin memprihatinkan.

Diantara keprihatinan itu, ternyata masih ada loh secercah cahaya yang bisa dijadikan harapan untuk pemakaian media sosial ke depannya. Bukan melulu kontroversi perceraian artis atau hebohnya gaya pacaran selebgram, tapi seharusnya media sosial juga bisa jadi tempat ideal untuk menyebar pesan kebaikan seperti postingan viral di bawah ini.

1. Meski teror mengguncang Jakarta, keberanian Pak Jamal tetap berjualan sate tertangkap kamera. Bukti ketangguhan masyarakat Indonesia yang tidak gampang takluk pada serangan teroris

Kehidupan Ibu kota tidak serta merta lumpuh via kompasiana.com

Masih ingatkah kamu tentang peristiwa pengeboman dan baku tembak di kawasan Sarinah Jakarta pada awal tahun lalu? Peristiwa teror yang kemudian melahirkan tagar ‘KamiTidakTakut’. Selain tagar tersebut, peristiwa teror Sarinah juga mengangkat sosok Pak Jamal, tukang sate yang tetap melanjutkan berjualan meski bom meledak dan baku tembak masih berlangsung. Tujuan teroris untuk menyebar teror seluas-luasnya seakan-akan dinetralisir oleh tersebarnya foto Pak Jamal yang menyuarakan ‘Jakarta masih baik-baik saja’. Media asing pun menjadikan foto Pak Jamal sebagai indikator bahwa Jakarta tidak lumpuh, bahkan setelah serangan teroris

2. Media sosial juga bisa jadi tempat mengumpulkan massa untuk bebuat kebaikan. Satu postingan Hafizah mampu menggerakan netizen lain melariskan dagangan seorang kakek tua

Sebelumnya sang kakek sampai ketiduran lantaran pelanggannya kelewat sepi via style.tribunnews.com

Advertisement

Beberapa waktu lalu Hafizah Sari memposting kisah seorang kakek penjual nasi uduk Betawi di media sosial. Kakek tua tersebut berjualan nasi uduk di depan Pertamina Maritime Training Center, Jalan Pemuda Rawamangun, Jakarta Timur. Awal ceritanya, Hafizah yang baru pulang kantor tak sengaja melewati tenda jualan sang kakek yang nampak sepi pelanggan hingga sang kakek sampai ketiduran.

Dengan perasaan yang tidak tega, Hafizah pun putar balik menuju tenda jualan kakek dan membeli nasi uduknya. Setelahnya Hafizah memposting kisah sang kakek dan dagangannya yang sepi pelanggan di media sosial. Tak lupa ia berpesan pada netizen untuk menyempatkan diri membeli nasi uduk sang kakek. Niat baik Hafizah pun berhasil, sebab kini warung tenda sang kakek ramai dengan pembeli. Semoga semakin banyak orang yang mengikuti jejak Hafizah untuk berbagi pesan positif di media sosial ya.

3. Tanpa perlu menebar hoax, media sosial juga bisa menjadi tempat untuk mengajukan kritikan yang membangun, seperti kasus cicak dalam tiramisu beberapa waktu lalu

Cicak dalam tiramisu. via bintang.com

Pada bulan Mei lalu, netizen dihebohkan dengan berita tentang seorang wanita bernama Lala (dengan nama akun Path @Lamia) yang memposting cerita dirinya yang tak sengaja menggigit cicak dalam tiramisu yang tengah dimakannya. Postingan yang bikin geger netizen itu bukanlah hoax. Terkait hal tersebut, Holycow restoran tempat Lala membeli tiramisu lantas menyampaikan permohonan maafnya. Tak hanya itu, Misu selaku vendor yang mensuplai tiramisu pada Holycow pun turut menyampaikan permohonan maafnya. Tak hanya itu, Misu pun akan menarik produknya dari Holycow. Dari postingan Lala tersebut, kita bisa belajar bahwa kehadiran media sosial tak semata untuk tempat curhat saja, melainkan tempat untuk mengajukan komplain atau kritik yang membangun.

4. Media sosial juga bisa jadi ajang untuk menyatukan dua insan. Seperti kisah Bayu Kumbara dan Jennifer Brocklehurts yang terganjal dana, akhirnya bisa menikah

Mereka akhirnya bisa menikah. via ooopstrending.com

Masih ingatkah kamu tentang kisah Bayu dan Jen? Cowok pribumi dan gadis bule yang saling jatuh cinta dan ingin menikah namun terganjal biaya? Yup, Jen pun berinisiatif menceritakan kisah cintanya dengan Bayu di sebuah situs penggalangan dana yang akhirnya viral di media sosial. Dana yang dibutuhkan Jen dan Bayu untuk menikah adalah sekitar Rp 52 juta. Sementara itu, dana yang akhirnya terkumpul adalah Rp 21 juta.

Meski tidak sesuai target, pada akhirnya pasangan ini berhasil mewujudkan pernikahan mereka. Tak lupa, Ben dan Jen pun mengucapkan terima kasih kepada banyak orang yang sudah bersedia mewujudkan mimpi mereka untuk menggelar pernikahan. Ternyata media sosial bukan Cuma tempat untuk curhatin mantan, tapi mampu menyatukan dua insan.

5. Keadilan juga bisa disampaikan melalui media sosial. Seperti kasus koin untuk Prita beberapa tahun lalu

Koin untuk Prita simbol keadilan. via m.tempo.com

Prita Mulyasari mengungkapkan keluhannya tentang pelayanan di rumah sakit Omni Internasional. Keluhan yang via surat elektronik tersebut kemudian dipublikasikan dan atas tindakannya itu ia digugat oleh pihak RS Ombi atas tuduhan pencemaran nama baik. Singkat kata, RS Omni memenangkan gugatannya atas Prita dan ibu yang tetap menjalani persidangan meski tengah mengandung itu lantas diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp 204 juta.

Kampanye di sejumlah media, yang salah satunya sebuah grup di Facebook bertajuk Koin Untuk Prita pun ramai mengumpulkan koin untuk Prita. Koin tersebut digunakan untuk membantu Prita membayar denda. Koin yang dikumpulkan semata bukan untuk membantu Prita saja, tapi juga bisa dijadikan simbol keadilan.

6. Kadang media sosial bisa jadi tempat untuk menyebarkan kisah inspiratif, seperti kisah Mbah Darmi sang penambal ban yang gigih mencari rejeki meski di usia senja

Mbah Darmi, tukang tambal ban. via otosia.com

Seperti halnya seorang kakek penjual nasi uduk Betawi yang tetap berjualan meski di usia senja, Mbah Darmi (86 tahun) tetap setia dengan profesi sebagai tukang tambal ban. Sebuah profesi yang sudah ditekuninya dari sejak 1963. Kisah Mbah Dharmi yang tetap giat mencari nafkah tersebut viral di media sosial. Banyak orang yang merasa tertohok dengan kisah Mbah Darmi tersebut. Bahwa kemalasan seharusnya tak menghampiri mereka yang masih muda. Sebab banyak orang tua yang di usia senjanya tetap giat mencari rejeki.

7. Media sosial juga bisa jadi tempat untuk belajar parenting. Seperti halnya akun instagram @retnohening – Ibook Kirana yang bisa jadi inspirasi bagi orangtua baru atau yang baru sebatas kepingin punya anak

Terhibur sekaligus belajar parenting saat mengunjungi instagram Ibook Kirana. via www.instagram.com

Kadang media untuk belajar yang mengasyikkan itu adalah dari media sosial. Salah satunya dari instagram. Percaya atau nggak, bukan hanya sekadar mencari hiburan, mengunjungi akun instagram Ibook Kirana juga memungkinkan banyak orang untuk belajar bagaimana caranya mendidik anak. Tak sedikit yang berucap jika mengunjungi akun instagram Ibook bikin banyak cewek-cewek ingin segera menikah dan punya anak. Hehehe

8. Atau kisah tentang kakek fotografer keliling yang juga viral di media sosial. Menohok anak muda untuk giat berkarya

Kakek Nasrul sang fotografer keliling. via www.bintang.com

Tak ubahnya kisah Mbah Darmi dan kakek penjual nasi uduk tadi, baru-baru ini juga tengah viral kisah tentang seorang kakek bernama Nasrul yang berprofesi sebagai tukang foto keliling. Dalam cerita yang dibagikan via media sosial (salah satunya Facebook) tersebut, dikisahkan kakek Nasrul sudah berusia 70 tahun dan enggan menjadi pengemis. Ia sudah menggeluti profesi sebagai fotografer keliling dari sejak tahun 1973. Kembali, kisah yang viral media sosial ini menohok banyak anak muda untuk giat bekerja dan berkarya. Malu ah, kalau kamu masih muda dan malas!

Guys, masih belum terlambat untuk mengubah media sosial menjadi tempat untuk berbagi kebaikan. Yuk, mulai hari ini kita janji pada diri sendiri untuk menebar kebaikan via media sosial!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!