Saya pernah empat kali hampir mati, jalan kematian yang terlampau konyol itu semakin menguatkan jiwa dan hati ini bahwa; saya harus hidup paling tidak seratus tahun lagi! Bagaimana caranya? Mari kita cari sama-sama!

Karena ini cerita nyata, kamu boleh membacanya dengan saksama. Dahulu kala saya seorang yang asyik dengan pakansi, kalian menyebutnya travelling, atau vacation.  Di pantai Pasir Putih Pangandaran, saya pernah tenggelam terseret arus ombak yang sebenarnya terlalu polos untuk menghanyutkan seorang bocah SMA macam saya. Saya selamat ditolong oleh seorang wanita di samping saya sekarang ini, kekasih saya sendiri.

Kedua, Goa Kiskendo di Kulon Progo menyimpan sebuah lorong yang menantang untuk ditaklukan. Pada sebuah lorong goa berukuran satu badan anak kuliahan saya beranikan diri memasuki celah sempit itu. Bukan tanpa tantangan berarti, lorong tersebut penuh dengan air dan mengharuskan saya menahan napas sepanjang 20-an detik. Di detik ke-10 badan saya nyangkut di tengah lorong… saya hampir putus asa melepaskan diri dari cengkeramannya. Sebelum akhirnya sebuah tangan menyeret tubuh saya.

Ketiga, menuju pos 4 Gunung Sumbing saya pernah hampir mati dan memasrahkan diri, itulah saat-saat saya merasa dekat dengan Yang Maha. Hujan yang datang kala itu memaksa tubuh saya meringkuk di sebuah jalan setapak, tanpa sleeping bag tanpa tenda, tak ada tenda karena tertinggal jauh di belakang. Sementara teman saya mengalami kram perut dan menjerit tak kuasa menahan sakit, di sore yang teramat gelap itu saya hanya mencoba pasrah dengan rasa teramat dingin yang menyemai ketakutan.

Terakhir, kamu pasti dengar berita tentang pembegalan di Yogyakarta, bolehlah dikatakan saya termasuk korbannya. Untung saya jauh dari sabetan pedang mereka. Suatu ketika tengah malam di dekat RS Sardjito, saya berjalan menuju ke kosan, dua orang bercadar datang membawa parang dan dengan bentakannya mereka mengacungkan parang. Saya hanya menuruti perkataan mereka. Sangat menyedihkan jika parang itu menebas leher saya. Terima kasih, Mas.

Advertisement

Saat kamu membaca tulisan ini tentu saja kamu sedang digoyahkan dengan notifikasi-notifikasi, teman kos yang sok asyik dan kipas angin yang kurang (ngadep ke badan). Bisa saja sebentar lagi karena peruntungan buruk, ada saja listrik nyamber kaki mulusmu dan membunuhmu, kamu pun mati di kamar kosan 3×3 meter. Sementara, tugas kuliah yang belum kamu kerjakan terpaksa kamu tinggalkan, grup WA bakalan ramai dengan berita kematian konyolmu ini. Bagaimana perasaan pacarmu melihat tubuhmu gosong dengan alis palsu yang belum sempat kamu lepas? Aduh…

Jangan samakan kejadian di atas dengan adegan kematian instan dalam Final Destination, kematian seutuhnya sukar digambarkan dalam kosmologi buatan macam CGI, apalagi macam film Rafathar yang penuh perjuangan itu.

Tapi kali ini bukan kematian yang ingin saya sampaikan, terus terang saya takut mati apalagi kata teman kos saya yang rajin ibadah, saya ini tergolong manusia dengan himpunan dosa yang – ah sudah lah. Saya bukan orang beriman dengan kekecewaan macam Fakthur Rozi, apalagi jadi seorang yang atheis yang kalah dengan romantisme family seperti Soni Triantoro. Semoga Soni mengampuni dosanya sendiri karena kurma yang dia berikan kepada saya belinya di Indomaret, alih-alih memetik langsung dari pohonnya di tanah suci. Lupakan, mari kita fokus mencari kebahagiaan biar hidup nggak payah-payah banget, syukur-syukur berumur panjang!

Saya harus punya kekasih, biar bahagia. Biar katanya jomblo itu lebih bahagia, saya nggak bakalan percaya!

Cinta kami simpel, jadi pacar saya mau kalau saya mirip mas-mas ini… saya juga mau pacar saya mirip mbak-mbaknya ini… saling melengkapi namnya… via unsplash.com

Sebelum menjadi orang yang akan hidup lebih lama, saya putuskan untuk mencintai seorang wanita, dia luar biasa cantiknya. Anggap saja begitu. Kenapa saya harus mencintai wanita dulu untuk hidup lebih lama? Begini, kamu telah putuskan untuk membuka ladang, menanam benih, merawatnya dengan pengorbanan ratusan liter air dan pupuk yang kamu berikan kepada kebun yang lucu. Dan sebelum masa panen tiba, tiba-tiba kamu putuskan bunuh diri menabrakkan diri pada kereta Lodaya, atau Logawa. Makanya, saya akan mencintai wanita karena dari apa yang sudah saya tanam, saya harus memanennya nanti bersama-sama, saya harus berumur panjang.

Saya harus bekerja, sekecil-kecilnya usaha itu pasti ada nilainya. Jadi buat apa meremehkan diri dan bunuh diri?

Semua berharga, pernah suatu ketika uang saya hilang… saya syukuri saja biar bahagia… via unsplash.com

Ada titik di mana seseorang merasa payah, merasa paling bodoh, merasa bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya, lalu dengan semangat baja mulai mengutip quote Mario Teguh. Betewe, doi di mana sekarang? Sudahlah, saya pun pernah gagal, saya ingin menjadi pengusaha sukses tapi nggak punya modal. Bayangkan saya yang belum memulai apa-apa saja sudah gagal dan tetap tertawa. Kamu yang sudah melakukan banyak hal dan gagal sudah pasti kalian lebih baik dari saya. Omong kosong kegagalanmu! Jangan-jangan kamu yang kurang bersyukur!

Pekerjaan yang paling menyenangkan saat ini bagi saya adalah bermusik. Jangan anggap sebelah mata, pekerjaan ini sangat menyenangkan walau nir-mengenyangkan!

Ini saya kalau dari samping… via hipwee.com

Bagaimana menjelaskannya, saya kesal saat harus menulis Hipwee Jurnal ini karena membuktikan suara saya yang “lumayan bagus” ini tak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Seperti kamu. Intinya, saya punya band dengan nama Kopibasi, sewajarnya seperti sebuah band indie nanggung di Yogyakarta maka kami berenam tak punya penggemar. Saya punya niatan tebar pesona, tapi apa daya pendengar musik saya terlalu setia kepada pasangannya, yang tak lain adalah kami berenam sendiri. Kopibasi ini semakin mengentalkan gairah saya untuk hidup lebih lama. Ini menyenangkan ketika kamu berkarya dan apa yang kamu lakukan adalah ‘kamu banget”.

Saya bukan Fiersa Besari dengan senandika apalagi jadi seorang sastrawan sekaliber Tere Liye, tapi puisi saya paling tidak meluruhkan kesal di dada sendiri daripada mengesalkan hati yang baca…

Karena suka dengan puisi akhirnya bisa kenalan sama komunitas puisi di Yogyakarta. Seneng banget deh… via hipwee.com

Terima kasih Hipwee, walau kamu punya managing editor lulusan UGM yang kepalang congkak, tak apa. Walau dia mengesalkan dan kerap gagal dalam dunia sosial tak apa, managing editor Hipwee adalah yang terbaik. Hipwee telah menghidupi saya dengan menulis, saya mencintai puisi, tapi puisi macam gebetan yang sukar diajak jadian. Terus terang saya masih saja sering menggoda itu puisi, aduh… tubuh sintalnya itu lhooo…

Jika kamu pernah dibegal dan yang raib adalah pacar, kamu senasib dengan Andrall Intrakta. Jika kamu punya sahabat yang pernah dibegal dan yang raib adalah pacar lalu bersedih hati sekurang-kurangnya setengah tahun ke depan, sudah pasti sahabatmu adalah Andrall Intrakta. Kawan saya ini terlampau sedih, berlebihan, tulisannya semacam konten advertorial dari klien bernama kesetiaan. Semoga dia tidak lantas gila atau bunuh diri.

Saya pernah melihat video dari sebuah akun Instagram lucu-lucuan. Dalam video tersebut, seseorang tengah dicegah oleh beberapa orang lainnya karena berusaha terjun dari jembatan. Tiba-tiba seorang kawannya datang, dengan suara yang menyayat hati sekaligus memecah kesedihannya dia berkata, “hei… di bawah tuh banyak buaya, loncat lah loncat! Syukur kalau mati… kalau tak? baru tahu rasa”. Lantas dia mengurungkan niatnya untuk terjun karena takut gagal. Hidup semakin dengan kematian, waktu yang sedang kita naiki ini nanti akan mengantarmu kepada kematian itu. Selagi hidup masih bisa diusahakan untuk berbahagia, maka dengan menentukan jalan kematian yang enakan kita jadi semakin merasai sari pati hidup. Tak ada yang sia-sia.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya