Tampaknya ada bintang baru yang lahir dari Kejuaraan Sepak Bola Torabbika tahun lalu. Bukan bintang lapangan yang hebat dan siap dipinang klub-klub besar di Eropa, melainkan seorang pemimpin muda: Ratu Tisha Destria. Gadis yang akrab disapa Tisha itu akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Sekjen PSSI, menggantikan Ade Wellington yang mengundurkan diri. Seperti yang kita tahu dunia sepak bola termasuk di dalamnya PSSI adalah dunianya lelaki. Jadi kehadiran Ratu Tisha sebagai sekjen tentu bukan fenomena yang biasa.

Pengangkatan Ratu Tisha sebagai sekjen PSSI ini juga bukan tanpa alasan lho. Meski tak seterkenal Bambang Pamungkas, Tisha bukan orang baru di jagad persebakbolaan Indonesia. Sebelumnya Tisha menjabat sebagai Direktur Kompetisi dan Operasional PT Gelora Trisula Semesta, yang menyelengggarakan Indonesian Championship 2016. Saat ini Tisha menjabat sebagai Direktur Liga Indonesia Baru 2017. Menjabat sebagai sekjen PSSI, kesempatan Tisha untuk semakin berkibar di “dunia laki-laki” semakin terbuka lebar. Wow! Keren banget ya? Supaya kamu lebih terinspirasi, ini lho sosok Ratu Tisha Destria yang anti-mainstream itu.

 

1. Ketertarikan alumi FMIPA ITB ini berawal dari kunjungannya ke Kota Leipzig, Jerman. Setahun tinggal ternyata membuat kesan yang mendalam

Stadion Jerman via www.robertharding.com

Cowok suka bola itu biasa. Tapi kalau cewek tentu lain ceritanya. Sebenarnya sejak remaja Tisha sudah tertarik dan terlibat di klub sepak bolah sekolah. Ketertarikan Tisha semakin menjadi-jadi saat dia mengikuti AFS, yaitu sebuah pertukaran pelajar dan budaya ke kota Leipzig, Jerman. Seperti yang kita tahu, Jerman adalah negaranya Michael Ballack, Miroslav Klose, dan Mesut Ozil. Tisha mendapati lingkungan di sana sangat antusias dalam bidang olahraga. Tak hanya itu, penduduk Leipzig juga mengambil nilai sportivitas dalam olaharag untuk pedoman hidup sehari-hari.

Advertisement

 

2. Usianya memang masih muda. Namun bicara pengalaman manajerial, Tisha sudah boleh berbangga

Pengalamannya sudah jamak via beritagar.id

Secara usia, barangkali Tisha masih tergolong sangat muda. Apalagi untuk diserahi jabatan setinggi sekjen PSSI. Namun pengalamannya sudah banyak bicara. Sejak mengenyam pendidikan di SMA 8, merintis klub sepak bola sekolah dari nol hingga sukses menjadi juara. Saat melanjutkan kuliah di FMIPA ITB, Tisha juga langsung terlibat aktif dalam klub kampus yang berlaga di Divisi I Jawa Barat. Tisha bukan hanya jadi suporter tim, tapi juga menjadi manajer klub yang mengurus seluruh kebutuhan tim. Mulai dari mengatur data klub, jadwal latihan, dan bahkan menyusun materi latihan fisik sebelum mendapat pelatih resmi.

 

3. Kecintaan Tisha pada bola tak hanya berhenti di klub saja. Bersama teman-teman, Tisha mendirikan perusahaan bernama LabBola

LabBola team via www2.jawapos.com

Saking cintanya pada dunia sepak bola, bersama temannya Tisha mendirikan perusahaan bernama LabBola. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa penyediaan data mengenai dunia sepak bola, seperti analisis performa tim. Wah, sepertinya Tisha mengabungkan jurusan matematika dan passionnya di dunia sepak bola nih. Demi membesarkan LabBola, Tisha sampai rela berhenti bekerja. Saat ini LabBola sudah memiliki puluhan tim kreatif dan memiliki klien-klien besar.

 

4. Komitmennya kepada dunia sepakbola semakin terbukti dengan penerimaan beasiswa FIFA Master. Tak hanya di Indonesia, Tisha mencari ilmu hingga dunia bola internasional

Penerima FIFA Master via twitter.com

Kegiatannya di LabBola agaknya menjadi bekal Tisha untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut tentang dunia yang dicintainya. Tahun 2013, Tisha berhasil meraih beasiswa FIFA Master. Sekadar info, dari 6.400 pendaftar beasiswa ini hanya 28 siswa Indonesia yang terpilih lho. Di program ini, Tisha mengambil juruusan International Master in Management, Law, and Humanities of Sports. Perjalanannya di FIFA Master tidak selalu mulus. Saat menyusun tesis, Tisha sempat dicueki oleh Kemenpora saat mengajukan kolaborasi. Sampai akhirnya kolaborasi tersebut justru dipakai oleh Kementerian Olahraga Inggris.

 

5. Di luar ranah olahraga, Tisha juga pernah bekerja di bidang perminyakan. Kariernya ini memberinya kesempatan keliling dunia

Tisha pernah bekerja di bidang perminyakan via print.kompas.com

Setelah lulus dari ITB di tahun 2008, Tisha langsung ditawari pekerjaan oleh perusahaan perminyakan Schlumberger. Bekerja di bidang perminyakan membuat Tisha harus berpindah-pindah negara, seperti Mesir, Amerika Serikat, Inggris, hingga Tiongkok. Sembari sibuk bekerja sebagai karyawan di Schlumberger, Tisha tetap membesarkan perusahaan yang dia tinggalkan di Indonesia. Tak hanya itu, selama bekerja di sana, Tisha mendapatkan banyak ilmu mengenai analisa data dan manajemen yang nantinya berguna untuk LabBola. Empat tahun bekerja, Tisha memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan membesarkan LabBola.

 

6. Meski pendidikannya tak berkaitan dengan olahraga, tapi pandangannya tentang sepak bola Indonesia sangat bijaksana

bijak soal sepakbola via www.bola.net

Meskipun angka itu dekat dengan olahraga, tapi lulusan matematika dan bekerja di bidang sepak bola tentu unik menurut orang awam. Walaupun begitu, Tisha punya pandangan yang luar biasa lho soal sepak bola. Menurut Tisha, sepak bola bukan sekadar berebut bola di lapangan. Sebuah permainan sepak bola membutuhkan sebuah iklim yang kreatif dan sportif, sehingga semua pihak bisa berpartisipasi. Sepakbola butuh sistem pondasi yang kuat, bukan hanya dalam pihak penyelenggara, melainkan juga dengan mitra. Wuah, semoga dengan terobosan-terobosan dari Tisha ini bisa semakin memajukan sepak bola Indonesia ya!

 

7. Tisha membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan passion anti-mainstream. Asal dikejar dan diseriusi, semua bisa berhasil nanti

berani mengejar mimpi via www.theodysseyonline.com

Cowok yang hobi main bola bisa jadi pemain bola profesional nantinya. Sepak bola yang tadinya hanya hobi bisa menjadi karier yang menjanjikan. Tapi tidak begitu halnya dengan cewek. Meski ada beberapa tim sepakbola cewek, tetap saja cewek dan sepak bola belum menjadi kombinasi yang familiar. Tisha meruntuhkan itu semua. Passion yang tadinya dianggap aneh dan sulit diwujudkan sebagai sebuah karier nyatanya bisa dikejar dan didapatkan. Meski sempat dicueki oleh negara sendiri, buktinya kini Tisha bisa berprestasi. Tisha mem buktikan bahwa sepakbila bisa menjadi tempat juga untuk seorang wanita.

Cerita sekjen PSSI baru kita ini seharusnya bisa menginspirasi kita. Bahwa sebuah passion bisa menjadi karier. Bahwa tak ada salahnya mengejar mimpi. Apapun yang dilakukan sepenuh hati, tentu akan berbuah yang baik-baik. Jangan patah semangat terus mengejar mimpi ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya