Usia 20-an merupakan fase transisi dari remaja menuju dewasa. Pada proses pendewasaan tersebut, kamu mulai sering mencoba hal-hal baru yang memantik semangat masa mudamu. Selain di usia 20-an tersebut, ada kalanya kamu dihadapkan dengan realita-realita lain, yang salah satunya itu omongan orang kurang mengenakkan. Kadang kala omongan-omongan tersebut membuatmu tidak nyaman dalam menjalani masa mudamu. Akibatnya, masa mudamu jadi nggak berkembang karena terus-terusan terbelenggu omongan orang.

Agar masa mudamu bisa terus berkembang, ada kalanya kamu perlu mengabaikan omongan mereka. Berikut Hipwee berikan beberapa tipe omongan orang yang perlu kamu abaikan. Biar masa mudamu bisa kamu jalani dengan nyaman lagi.

1. “Usia 20-an kamu harus fokus ke pendidikan. Kuliah dulu yang benar, baru dunia kerja mulai dirasakan,”

Fokus ke pendidikan tanpa mau berkegiatan via www.unsplash.com

Kata orang pendidikan harus diutamakan. Namun bukan berarti kamu tak bisa melakukan kegiatan lain selama masa pendidikan. Justru usia 20-an ini jadi momen untuk belajar membagi waktu. Kamu bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa mengasah softskill-mu, seperti ikut jadi panitia atau volunteer acara-acara entah di kampus, entah di luar kampus. Setidaknya dari kegiatan itu kamu belajar bekerja secara tim, dan memperluas koneksi dengan dunia luar.

2. “Lebih enak kerja jadi PNS. Biar hidupmu lebih bahagia di masa tua,”

Lebih bahagia? via www.tumblr.com

Advertisement

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) memang masih menjadi salah satu pekerjaan yang prestisius. Nggak heran kalau setiap bertemu orang-orang, pasti saran mereka ya memintamu untuk jadi PNS, dengan alasan klisenya agar masa tuamu lebih bahagia dan sejahtera. Padahal untuk sukses di masa depan itu tak hanya jadi PNS saja.

3. “Kerjamu kok cuma pakai jeans dan kaus aja? Harusnya pakai kemeja dan dasi biar nggak dipandang rendah orang,”

Biar nggak dipandang remeh katanya via www.unsplash.com

Ketika kamu menjatuhkan pilihan dengan bekerja dengan tampilan casual dan tanpa kemeja, pertahankan pilihanmu itu. Jangan biarkan omongan orang mempengaruhi keputusan yang sudah kamu ambil. Toh di zaman sekarang ini yang menjadi tolak ukurmu itu ya murni kemampuan dalam bidang yang dirimu geluti.

Alm. Bob Sadino saja hanya pakai kemeja dan celana pendek bisa sukses nyatanya~

4. “Apa nggak malu, gaji pertamamu hanya setara lulusan SMA? Harusnya kamu bisa dapat yang lebih dari itu semua,”

Gaji pertama yang kecil itu nggak apa-apa. Namanya juga awalan kan? via www.unsplash.com

Gaji pertama memang terkadang tak setinggi harapanmu saat baru lulus kuliah dulu. Jalani saja dulu pekerjaan pertamamu ini. Sebab yang terpenting kamu bisa mendapatkan pengalaman bekerja yang nilainya mungkin lebih besar dari nominal gaji. Toh pengalaman kerjamu itu kelak akan jadi batu loncatan untuk meniti karir selanjutnya.

5. “Apa nggak merasa sia-sia kalau pada akhirnya kamu memilih bekerja di luar bidang kuliahmu?”

Bekerja di luar bidang studimu via www.unsplash.com

Bekerja di bidang yang berlainan dengan jurusan kuliahmu dulu tentu saja bukan sebuah masalah yang besar. Bukan juga sebuah kesia-siaan. Sebab, apapun yang kamu pelajari semasa kuliah dulu, pasti akan berguna. Salah satunya adalah kemampuan berpikir dengan menggunakan logika. Selain itu pengalaman hidupmu juga bisa bertambah dari sana.

Jarang-jarang ‘kan lulusan pertanian paham tentang dunia media seperti ini?

6. “Apa kamu nggak nyesel lebih milih kerja dengan gaji pas-pasan dibanding kerja kantoran dengan fasilitas lengkap?”

Karena pertimbangan nggak melulu soal gaji via www.unsplash.com

Urusan memilih pekerjaan, jangan sampai keputusanmu dipengaruhi omongan orang lain hanya karena gaji yang tinggi. Kenyamanan lingkungan kerja, kemampuanmu dalam bidang pekerjaan tersebut, sampai berkembang atau tidaknya kamu jika bekerja di sana. Merupakan sederet pertimbangan yang seharusnya menjadi patokan.

Meskipun gaji tinggi dan faslilitasnya lengkap, kalau dirimu tak bisa berkembang ya buat? Apalagi di usiamu yang sekarang yang haus dengan banyak hal baru.

7. “Nanti mau kerja di mana? Nggak usah jauh-jauh dari orangtua lah, yang penting ‘kan punya penghasilan,”

Pintu kesempatan masih terbuka lebar untukmu yang mau mencoba via www.unsplash.com

Saat kamu akan pergi merantau ke luar kota, ada saja omongan orang yang berusaha menghalangi niatmu. Salah satunya dengan embel-embel, ’emang kamu tega ninggalin orangtua sendirian?’. Mendadak ragu jelas, kamu terpikirkan lagi soal bagaimana ya kondisi mereka nanti kalau ditinggal jauh olehmu.

Tapi kalau orangtuamu sendiri sudah mengizinkan untuk tetap merantau, kan tak perlu repot memikirkan omongan orang. Toh jauh bukan berarti kamu tak bisa berkomunikasi dengan mereka. Kamu masih bisa sebulan atau beberapa bulan sekali menjenguk ayah dan ibu. Sudahlah bulatkan tekadmu saja selama orangtua meyakinkanmu.

8. “Dengan kerjaanmu yang masih seperti ini, kayaknya sulit sekali untuk bisa hidup di masa depan,”

Jalani dulu apa yang kini ada dalam genggaman via www.unsplash.com

Nggak ada yang bisa menebak bagaimana masa depan seseorang hanya dengan jenis pekerjaan dan nominal pendapatan. Termasuk mereka yang sering merendahkanmu hanya karena kamu masih berjuang seperti ini. Siapa tahu dengan usahamu yang keras ini, kamu bisa membuktikan bahwa masa depanmu bisa lebih baik daripada bayangkan mereka.

9. “Nanti mau nikah umur berapa? Jangan kelamaan ditunda, kasihan orangtua dan dirimu juga,”

Karena menikah bukan lomba lari via www.unsplash.com

Menikah bukan perkara yang mudah. Diperlukan persiapan yang panjang dan tak secepat membalikkan kedua telapak tangan. Kalau diburu-buru untuk menikah seperti ini, kamu sudah seharusnya tak menghiraukan omongan mereka. Perlu diingat, bahwa menikah itu bukan ajang lomba lari. Dia yang lebih dulu menikah belum tentu yang paling bahagia di bumi.

Menyebalkan memang omongan-omongan seperti di atas. Apalagi saat diucapkan dengan nada yang sedikit merendahkan. tapi jangan biarkan omongan-omongan mereka merebut masa muda yang seharuskan kamu coba dengan berani.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya