Banyak dari kita yang berambisi mengubah dunia. Tentu ada ribuan cara untuk itu: memiliki perusahaan dengan karyawan ribuan orang; lulus kuliah dan menciptakan sesuatu sesuai ilmu; traveling, menulis catatan perjalanan dan membuka mata ratusan ribu pembaca; serta hal-hal besar lainnya yang tak terpikir di kepala.

Namun, semua pahlawan harus menyadari sesuatu sebelum mereka memulai perjuangannya: fakta bahwa kita tak hidup di dunia ini sendiri.

Seorang bocah Israel dan Palestina bergandengan via behebekfalasteen.wordpress.com

Ini tidak seklise kedengarannya. Kita semua dilahirkan percaya bahwa dunia ini berputar mengelilingi kita. Pikirkan saja: kesedihan karena bertengkar dengan pasangan lebih menyiksa kita daripada jumlah penderitaan orang-orang Gaza ditotal. Ponsel pintar kita terlihat jauh lebih menarik daripada sesama penumpang bus menuju sekolah atau kantor tadi pagi.

Narsisisme ada dalam diri setiap orang, tapi anak muda seperti kita adalah yang paling rentan terhadap efeknya. Televisi, Facebook, budaya yang terkomersialisasi dan terfokus pada pemuda–semuanya membisikkan kalimat yang sama di telinga kita: “Ini adalah hari-hari terbaikmu, dan ini akan berlangsung untuk selamanya.”

Advertisement

Now are your best days, and now is forever. via www.travelettes.net

Itu bohong. Lihat sekelilingmu. Seratus tahun lagi, semua orang di jalan atau gedung tempatmu berada sekarang akan mati. Lihat sekelilingmu kembali. Ada dunia-dunia lain yang berjalan beriringan dan berkelindan dengan duniamu: semuanya menakjubkan, semuanya kompleks. Perhatikan wajah-wajah orang yang tak kamu kenal–bagi mereka mungkin kamu cuma wajah di jendela, satu titik samar yang kebetulan tertangkap mata, yang akan tersimpan di kepala mereka bersama ratusan ribu titik-titik samar lain yang membentuk hidup mereka.

Perhatikan juga Bumi ini: betapa kita membutuhkannya lebih dari dia membutuhkan kita. Seratus tahun dari sekarang, saat kita semua sudah mati, Bumi akan berputar seperti biasanya.

Ini bukan berarti keberadaan kita di Bumi ini tidak penting. Justru sebaliknya: kamu, saya, semua orang — kita semua terjebak disini sampai akhir hari. Dan di hadapan Bumi yang tidak peduli, yang kita punya hanyalah satu sama lain.

Seorang petugas memberi minum koala yang dehidrasi di tengah kebakaran hutan di Australia via media.pondus.no

Inilah mengapa penting untuk berusaha menjadi baik. Untuk peduli kepada Gaza, atau menanyakan kabar tetangga, dan benar-benar mendengarkan jawabannya. Perasaan yang akan muncul dari sini adalah unik; perasaan itu akan bertahan tanpa desakan untuk memenuhi hasrat duniawi yang banal.

Tentu melakukannya selalu lebih susah dibandingkan ngomong saja. Seiring kita dewasa, ada titik dimana hidup hanya akan berisi rutinitas dan kewajiban-kewajiban membosankan. Kita akan patah. Lalu bangkit, sebelum akhirnya patah kembali.

Di saat dimana kita patah, yang bisa kita lakukan adalah mencari perlindungan. Bukan pada penumpul rasa sakit sementara, tapi pada hal-hal yang bisa membantu kita melihat harapan di tengah absurdnya hidup. Pada hal-hal yang akan membawa kita merasa terasing.

Karena hanya saat kita merasa terasing itulah kita bisa mengerti bahwa setiap orang — setiap orang — punya sesuatu yang membuat mereka berhak akan waktu kita. Bahwa salah satu aspek kebaikan yang paling penting adalah berkorban untuk hal-hal yang kecil, yang remeh, yang tak akan pernah dilihat dan dicatat orang, pada waktu-waktu dimana kita sedang patah dan/atau merasa luar biasa bosan. Kebaikan yang seperti ini tak akan pernah diganjar hadiah Nobel atau membuat kita diundang bicara di televisi, tapi tanpanya, hal-hal yang lebih heroik tak akan pernah terjadi.

‘Pale Blue Dot.’ Diambil jutaan kilometer jauhnya di luar angkasa, di foto ini Bumi hanya titik kecil yang hampir tak terlihat. via upload.wikimedia.org

Puluhan tahun yang lalu, penyair Inggris WH Auden menuliskan hal yang hingga sekarang masih begitu relevan: “We must love one another or die.” Dunia ini milik kita — dan milik orang lain juga.