Hampir setiap orang yang baru pertama kenal menganggapku sebagai cewek maskulin nan cuek karena tampilanku yang cenderung kasual dan sneakers oriented. Ditambah lagi dengan bentuk tubuh yang tinggi kurus plus rahang yang tegas dan tirus. Jangan heran kalau banyak tukang parkir yang manggil ‘mas’ saat membantu merapikan kendaraanku, sebelum aku membuka helm dan mengibaskan rambut keriting buatan yang nggak seberapa panjangnya.

Namun belakangan, orang-orang melihatku sebagai sosok yang galak, ketus, frontal, beringas dan sebutan-sebutan lain yang dekat dengan anggapan negatif untuk cewek yang menyeramkan. Agak heran sebenarnya, mengingat aku sendiri nggak merasa demikian. Oke sedikit merasa, tapi nggak sebegitunya. Kadarnya masih normal. Tadinya sih bodo amat, toh nggak merasa dirugikan juga. Tapi, agaknya ada yang perlu diluruskan. Itung-itung sarana introspeksi juga ‘kan? Siapa tahu bisa jadi pembelaan juga buat cewek-cewek yang dapat predikat sama kayak aku juga 😀

Kesan pertama adalah dari raut wajah. Kalau yang kamu tunjukkan sehari-hari adalah mimik muka kayak gini, terang aja kamu ditakuti

Apa lo liat-liat? via www.pexels.com

Raut wajah biasanya jadi tolak ukur penilaian karakter yang paling mudah dilihat. Nah, kalau sehari-harinya kamu kerap menunjukkan mimik muka dengan kerutan di dahi dan tatapan yang mengintimidasi, mana ada yang berani nyapa kamu, apalagi ngajak bercanda. Kecuali mereka yang sudah kenal lama dan tahu kalau kamu sebenarnya nggak nyadar lagi pasang tampang mengkerut yang bikin males orang-orang. Hal ini juga yang terjadi padaku. Suka nggak nyadar kalau ternyata mukanya sok serius. Padahal kalau lagi kumat justru nggak berhenti ketawa-ketiwi. Oke, latihan senyum dimulai. Telat nggak apa-apa. Asal bukan senyum palsu aja.

Nggak suka basa-basi berlebihan, anaknya to the point banget. Masuk kategori galak nggak nih?

To the point via www.discoverylearning.com

Advertisement

Mungkin karena saat dihadapkan pada suatu kondisi dimana aku harus memilih antara A atau B, memutuskan iya atau nggak, suka atau nggak suka, aku cenderung nggak banyak ba-bi-bu, maka akan ada orang-orang yang menyimpulkan bahwa aku ini galak. Ya, wajar. Aku bisa memakluminya. Apalagi saat merasa ada sesuatu yang nggak beres terjadi padaku, terlebih sifatnya merugikanku dan kemaslahatan. Maka aku nggak akan segan-segan untuk bersuara dan menuntut kejelasan, di saat (mungkin) orang lain nggak berani mengutarakannya. Jadi maaf ya, kalau kesannya memberontak. Bukan zamannya untuk bungkam kok. Asal nggak meledak-ledak dan tahu timing-nya lho.

Di sisi lain, cewek-cewek yang dianggap galak bisa jadi mendapati dirinya lebih kalem (pada masanya). Jangan heran kalau dia bete saat merasa terganggu konsentrasinya

Lebih kalem via www.empowher.com

Barangkali cewek-cewek yang berpredikat galak mengalami kejadian yang sama, yakni momen di mana kamu sedang dalam situasi yang kondusif untuk beraktivitas, tiba-tiba terpecah karena sesuatu hal. Belum lagi jika cewek galak ini sudah berada di tahap ‘terkendali’ karena sadar dirinya sudah termakan usia dan butuh ketenangan untuk makanan jiwanya. Bukan berarti menutup diri untuk keriuhan dan gelak tawa, hanya saja ia telah berkomitmen untuk melakukan segala hal pada waktunya. Sama seperti Tuhan yang memberikan segala sesuatu tepat pada waktunya. Apa sih 🙁

Jika galak kerap disandingkan dengan teratur, ada benarnya juga. Orang-orang memanggilku ‘bude’ karena tahu bahwa aku nggak bisa mentolerir sesuatu yang nggak rapi

Nggak bisa lihat barang berantakan via classiccleaningservice.org

Meskipun kesannya bawel, karakter yang satu ini justru sangat aku syukuri. Suka banget bersih-bersih. Karakter bawaan ini berkat pola asuh ibuku yang membiasakan anak-anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sementara teman-temanku yang lain punya waktu untuk menonton serial Meksiko di sore hari, aku sedang sibuk berkutat menyapu dan mencuci. Hingga sekarang, pekerjaan-pekerjaan semacam itu sudah autopilot buatku. Bahkan, saat sedang nggak ada kerjaan pun, secara otomatis aku akan merapikan barang-barang yang berserakan di sekitarku, menaruhnya di tempat-tempat yang seharusnya, dan hal ini membuat mood-ku membaik. Beruntunglah siapapun yang memperistriku kelak.

Nggak bisa dimungkiri, karakter seseorang sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pergumulan yang dihadapinya

Pengaruh pergumulan via www.huffingtonpost.com

Bohong jika sosokmu yang dulu dengan yang sekarang nggak ada bedanya. Mungkin di beberapa aspek akan kamu temui kesamaan, namun ada karakter-karakter tertentu yang merupakan perwujudan dalam menyikapi pergumulan hidup yang sedang dihadapi. Setiap orang punya masalahnya masing-masing, yang juga menuntutnya untuk menghadapi masalah tersebut dengan caranya masing-masing pula. Orang-orang yang dianggap galak, tegas, atau apapun itu, mungkin memang terkondisi untuk bersikap demikian karena tuntutan pergumulan dan pilihan hidupnya. Hal-hal semacam inilah yang sudah seyogyanya kita pahami dan maklumi adanya.

Setiap orang berhak menilai orang lain sesuai dengan apa yang dilihatnya. Namun, perlu kamu ingat juga bahwa melihat saja nggak cukup, karena ada banyak hal yang nggak terlihat. Bagaimana pun, ‘galak’ bukanlah suatu kejahatan, semua orang akan ‘galak’ pada waktunya.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya