Hidup adalah serangkaian perjuangan. Setiap harinya, kita pun di tantang menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Ada kalanya kita bisa jadi pribadi yang tangguh, meski tak bisa dipungkiri kita pun masih sering mengeluh.

Bagi kalian para mahasiswa, momen perjuangan meraih gelar sarjana tentu tak bisa dianggap sederhana. Ada sekian mata kuliah yang harus dituntaskan demi mencapai IPK yang sesuai harapan. Sebagai syarat kelulusan, kamu pun masih harus menyelesaikan skripsi yang seringkali terasa menjemukan; sulitnya menentukan topik penelitian, menuliskan hasil pemikiran, hingga menjalani proses bimbingan.

“Skripsi memang tak mudah, tapi adakah alasan untuk menyerah? Bukankah memilih berhenti berarti menyia-nyiakan perjuanganmu selama ini, padahal keberhasilan pasti bisa diraih jika kamu mau bertahan sedikit lagi?”

Kamu memulai skripsimu dengan percaya diri. Layaknya pejuang bertekad baja, proposal penelitian sudah kamu siapkan jauh-jauh hari sebelumnya

semangat skripsi di awal via rachaelrippon.blogspot.com

Kamu tentu masih ingat betapa dulu kamu pernah sangat bersemangat. Ketika itu, kamu merasa bahwa skripsi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kamu punya keyakinan; asalkan mengerjakan skripsi sesuai topik yang disukai, kamu tak akan mengalami kesulitan atau merasa malas saat mengerjakan. Sejak mengikuti kelas Metodologi Penelitian, kamu mulai menimbang-nimbang tentang topik, judul, dan metode apa yang akan dipilih.

Advertisement

Sayangnya, segala sesuatu memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Proposal yang kamu paparkan di kelas Seminar nyatanya di kritik habis-habisan. Menurut mereka, latar belakang penelitian, rumusan masalah, dan teori yang kamu pilih tak sesuai. Akhirnya, kamu pun harus rela menerima banyak revisi lalu mengulang semuanya dari awal. Meski menelan rasa kecewa, kamu tak punya pilihan selain memperbaiki pekerjaanmu dan mencoba sekali lagi ‘kan?

“Sekali gagal bukan berarti selamanya, sedangkan berhasil itu soal seberapa gigih kamu mau berusaha.”

Sayangnya, semua tak berjalan sesuai harapan. Banyaknya revisi dan sulitnya mencari referensi membuat semangatmu tak seperti dulu lagi

bimbingan skripsi bikin frustasi via arsip.bewara.co

Skripsi bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam hitungan hari. Mungkin, kamu hanya butuh waktu antara 3 – 6 bulan lamanya. Sementara, temanmu yang lain terpaksa harus menempuh lebih dari 1 tahun untuk menyelesaikannya. Ya, kemampuan dan kesulitan yang dialami tiap-tiap mahasiswa saat mengerjakan skripsi memang berbeda-beda.

Beruntung jika kamu bisa melewati masa-masa ini dengan mulus alias tanpa hambatan. Cukup 1 atau 2 kali bertemu dosen pembimbing, kamu bisa dengan mudah mendapat ijin untuk ujian. Tapi, apa yang terjadi jika sampai hari ini kamu masih sedang berjuang mati-matian untuk skripsimu? Menghadapi dosen pembimbing yang tak mudah diajak kompromi, perfeksionis, atau terlalu sibuk hingga sangat sulit ditemui. Betapa jengahnya mengakrabi lembar demi lembar tulisan yang direvisi, atau rasa kesal yang kamu rasakan saat diminta mencari referensi tambahan hingga ke kampus-kampus lain.

Apapun kesulitan yang saat ini kamu alami, yakinlah bahwa semuanya pasti bisa kamu lewati. Sebagai manusia, kamu boleh kok sesekali mengeluh atau bersedih. Tapi setelahnya, kembali tegakkan kepala karena perjuangan harus dilanjutkan.

Tanpa sadar hambatan dalam skripsi membuatmu lebih suka mengasingkan diri. Waktu bersosialisasi tergadai demi mencari inspirasi

kamu jadi lebih sering menyendiri via reviewtouchscreenmonitor.blogspot.com

Saat masa-masa mengerjakan skripsi, kamu mungkin lebih suka menyendiri. Jarang keluar kamar, tak pernah terlihat ke kampus, enggan bertemu teman, atau tak muncul di jejaring sosial. Menurutmu, menyendiri adalah cara yang efektif untuk meminimalisir distraksi. Kamu percaya bahwa segala sesuatu selain skripsi memang seharusnya dikesampingkan dulu.

Tapi, bukankah sebagai manusia normal kamu pun butuh bersosialisasi? Kamu selayaknya menjalani hari-harimu seperti biasa; membaca koran, menonton televisi, kumpul dengan keluarga, atau mengerjakan hobimu. Sekadar bertemu teman dan minum kopi bersama juga tak ada salahnya. Justru di momen ini kamu bisa berbagi berkeluh kesah dengan teman-temanmu. Mengajak mereka berdiskusi untuk membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang kamu alami.

Meski memilih sendiri itu sah-sah saja, sesekali menikmati saat-saat bersama teman dan keluarga pasti akan membuatmu lebih bahagia. Ingat, hidupmu bukan cuma soal skripsi, masih banyak sisi kehidupan lain yang harus kamu hidupi!

Harus diakui masa-masa skripsi adalah masa paling penuh tekanan. Ketika ditanya orangtua dan teman tentang kemajuan skripsimu, tak jarang kamu dilanda kepanikan

skripsi membuatmu tertekan via digilib.isi-ska.ac.id

“Gimana, Mas? Skripsinya udah sampai mana? Kira-kira kapan wisuda?”

Kadang, masa-masa mengerjakan skripsi terasa melelahkan lantaran kamu merasa dikejar-kejar. Kamu merasa diinterogasi ketika keluarga, pacar, atau teman menyampaikan pertanyaan seperti di atas. Kesulitan saat menyelesaikan skripsi menjadikanmu cenderung sensitif dan perasa. Kamu jadi mudah tersinggung, sedih, atau marah ketika ada orang yang menanyakan soal skripsimu.

Tak perlu membebani diri sendiri dengan pikiran-pikiran negatif. Tenangkan dirimu dengan cara berpikir positif. Bertanya bukan berarti ingin membuatmu tertekan. Sebaliknya, mereka yang bertanya adalah orang-orang yang benar-benar peduli denganmu. Justru pertanyaan-pertanyaan mereka yang sebenarnya bisa dijadikan motivasi. Bersama mereka membuatmu selalu ingat bahwa kewajibanmu belum selesai. Dan bukan sekadar fokus ingin cepat selesai, tapi kamu ikhlas menjalani setiap proses dan tahapnya dengan penuh semangat.

Kadang kamu bertanya pada diri sendiri. Apakah hambatan skripsi ini disebabkan oleh kamu yang tak bisa menyemangati diri sendiri? Atau standar dirimu yang terlalu tinggi?

tidak berusaha mencari solusi via www.societywellness.com

Saat menghadapi masalah atau kesulitan, banyak orang yang justru memilih terus-terusan mengeluh daripada berusaha mencari solusi. Apakah kamu termasuk salah satu dari mereka, yang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menyalahkan diri sendiri dan mengutuki keadaan?

Seperti sudah disinggung sebelumnya, setiap mahasiswa pastilah punya tingkat kemampuan dan kesulitan yang berbeda-beda. Sudah sepatutnya kita bisa introspeksi diri dan merenungi segala yang sudah dilalui. Dengungkan pertanyaan-pertanyaan ini dalam dirimu, lalu mulailah berpikir untuk menemukan solusi atau jalan keluarnya.

“Kenapa aku harus takut bertemu dosen pembimbing? Kenapa aku tak cukup percaya diri mempertahankan argumenku sendiri? Kenapa setiap merasa stuck dan tak punya ide menulis, aku justru memilih “lari”?”

Bagimu neraka kecil adalah saat melihat teman-temanmu wisuda. Memandang mereka bertoga, hatimu mencelos sembari bertanya: “Apakah aku bisa segera menyusul dia?”

momen wisuda teman bisa jadi menakutkan via syambarkah.blogspot.com

Setiap mahasiswa akan menjalani prosesnya sendiri-sendiri. Bukan berarti kamu dan teman-temanmu bisa lulus bersama meskipun kalian berasal dari satu angkatan yang sama. Dulu, kalian terbiasa mengerjakan tugas-tugas kuliah bersama. Bahkan, saat ujian pun kalian akan berusaha saling membantu meskipun itu berarti berbuat curang.

Namun, masa-masa menyelesaikan skripsi akan terasa jauh berbeda. Temanmu yang terkenal rajin pasti akan buru-buru menyusun proposal dan menemui dosen pembimbingnya. Sementara, temanmu yang lain masih gamang menentukan topik skripsinya. Bahkan, ada pula yang masih harus mengulang beberapa mata kuliah karena tak lulus.

Nah, hal-hal semacam itulah yang akan membedakan pencapaian tiap-tiap mahasiswa. Kalau akhirnya ada salah satu temanmu yang bisa lebih dulu wisuda, apakah pantas jika kamu merasa tak terima? Ataukah kamu justru ketakutan karena merasa tak akan bisa seperti dia?

Jujur kadang kamu ingin menyerah dan berhenti. Tapi kamu sudah berjuang sejauh ini, memilih menyerah dan berhenti sama saja menyakiti diri sendiri

skripsi = jangan menyerah via ecc2.careernews.web.id

Ada perasaan sedih, kecewa, dan tak terima saat harus merelakan teman-temanmu diwisuda lebih dulu. Sementara, kamu masih harus rajin-rajin ke kampus dan menunggui dosen demi bisa bimbingan skripsi. Tak jarang, kenangan-kenangan semasa jadi mahasiswa baru tiba-tiba berseliweran. Betapa dulu kamu dan teman-temanmu selalu kompak bersama; saat di kelas, nongkrong di kantin, jalan-jalan seusai jam kuliah.

Kesepian yang saat ini mendera bukannya membuatmu termotivasi, kamu justru memilih bersedih dan ingin menyerah. Tapi, tunggu! Bukankah kamu sudah bisa melewati lebih dari setengah perjalanan? Ibarat sebuah pendakian, beberapa langkah lagi kamu bisa menjejak puncak gunung yang sudah diimpikan.

Tak ada yang bisa dilakukan kecuali bertahan dengan sisa-sisa kekuatan yang kamu punya. Meski harus berkali-kali revisi dan diminta menambahkan referensi, lakukan sebisamu semaksimal mungkin. Pikirkan bahwa mundur atau berhenti bukanlah opsi yang bisa dipilih. Kamu hanya boleh melangkah maju, sekecil apapun kesempatanmu.

“Karena kemungkinan terbesar adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan,” – HOMICIDE

Skripsi itu soal kemampuan intelektual dan kecerdasan emosional, sedangkan lulus itu perkara waktu dan seberapa keras usahamu

soal intelektual dan kematangan emosional via favim.com

Ketika butuh waktu lama untuk menyelesaikan skripsi bukan berarti kamu tidak pintar. Pasti ada berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Apakah topik yang kamu ambil terlalu sulit? Apakah dosen pembimbingmu yang terlalu perfeksionis? Apakah kamu terlalu sibuk dengan hal lain yang membuatmu tak bisa fokus menuntaskan skripsimu? Ataukah justru kamu sendiri yang perfeksionis dan terlalu menikmati masa-masa ini?

Ada banyak alasan yang menyebabkan seseorang harus menyelesaikan skripsinya dalam waktu yang lama. Skripsi tak sama dengan ujian yang harus kamu lakoni setiap akhir semester. Lebih dari itu, skripsi jelas jauh lebih rumit. Tak sekadar berbekal kecerdasan, kematangan emosionalmu pun akan diuji.

Kamu memang harus memahami teori yang kamu pakai, metode penelitian yang kamu pilih, dan data-data yang kamu gunakan. Tapi, bagaimana kamu bisa mengatur waktu antara mengerjakan skripsi sambil menjalankan bisnis sendiri misalnya? Bagaimana kamu bisa bersikap profesional atau tak merasa sakit hati saat dosen pembimbing mengkritik tulisanmu habis-habisan? Dan bagaimana kamu bisa menerima rasa sedih dan kecewa sambil terus melanjutkan skripsimu?

Meraih gelar sarjana memang butuh perjuangan yang tak sederhana, ingatlah kedua orang tua dan keluarga yang ingin melihatmu segera memakai toga wisuda

keluarga pasti ingin kamu lulus via aliyamuafa.wordpress.com

Berbulan-bulan sudah kamu lewatkan tapi ijin untuk ujian belum juga kamu dapatkan. Ada-ada saja bagian yang dikembalikan dosenmu dan harus segera direvisi. Ibarat seorang prajurit perang, tubuhmu sudah penuh luka berdarah dan entah berapa lama lagi bisa bertahan.

Di saat-saat terendah dalam hidupmu, ingatlah orang-orang yang kamu cintai. Pikirkan mereka yang menggantungkan harapan di pundakmu dan mengharapkan kesuksesanmu. Ada kedua orang tua, keluarga besar, teman-teman, dan bahkan pasangan yang ingin melihatmu mengenakan toga wisuda. Mereka yang akan turut berbahagia saat kamu berhasil jadi sarjana dan menambahkan gelar di akhir namamu.

Setiap rasa ingin menyerah datang pikirkan tentang apa yang bisa kamu lakukan setelah lulus nanti, bukankah kehidupan yang lebih baik sudah menantimu esok hari?

selesaikan skripsimu demi kehidupan lebih baik! via namakumira.blogspot.com

Skripsi hanyalah bagian kecil dari kisah hidupmu. Ibarat bersepeda, kamu sedang melewati jalan yang menanjak. Nanti setelah berhasil melewatinya, kamu akan menemukan jalan lurus dengan pemandangan indah di kanan-kirinya. Kamu tak harus berhenti, memutar arah, atau memilih kembali  ke tempatmu sebelumnya. Maksimalkan tenaga, kayuh sepedamu sekuat mungkin hingga kamu bisa melewatinya.

Selesai dengan skripsi, kamu bisa lebih bebas menentukan jalan hidupmu. Apakah ingin bekerja, melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya, atau memilih segera menikah? Pilihan sepenuhnya ada di tanganmu. Yang pasti, kehidupan yang lebih baik sudah menantimu. Tuntaskan sisa kewajibanmu di kampus, lalu kamu bisa memulai kehidupan baru yang lebih bebas dan membahagiakan.

Apa kabarmu hari ini wahai pejuang skripsi? Semoga api semangatmu tak pernah mati sebelum gelar sarjana bisa kamu kantungi, ya! 🙂