“Dia pakai jilbab tapi kelakuannya begitu banget?”

“Percuma pakai jilbab kalau kelakuan masih blangsak begitu. Mending gue deh, apa adanya.”

Barangkali kamu tidak asing dengan komentar-komentar semacam itu. Barangkali salah satu temanmu (atau mungkin kamu sendiri) gemar melontarkan komentar semacam itu kepada orang yang menurutmu sikapnya tidak mencerminkan seorang yang alim.

Mau tidak mau kita harus menerima bahwa hijab merupakan simbol agama. Pemakaianya identik dengan orang-orang yang berniat melaksanakan perintah agama. Meskipun salah bila mengasosiasikan menilai hijab berdasarkan kelakuan seseorang yang menurutmu kurang sopan, karena yang buruk adalah orangnya bukan hijabnya. Namun tidak bisa disalahkan pula bila seseorang menaruh ekspekstasi alim dan suci kepada perempuan-perempuan berhijab. Sebab dari segi esensinya, hijab memang seharusnya menjadi pengontrol segala perilaku. Tak sekadar menjadi aksesoris yang dipadu-padankan ketika memilih baju.

Hijab telah menjadi semacam aliran fashion. Banyak yang berlomba mengenakannya hanya agar terlihat gaya

Hijab bukan sekadar penutup kepala via theislamicmonthly.com

Bila dulu perempuan berhijab bisa dihitung dengan jari, kini hijab sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kabar bagus, sebab ini berarti kebebasan perempuan untuk menunjukkan identitas diri sudah dihargai. Secara sekilas, kita layak mensyukuri karena semakin banyak perempuan muslim yang berkomitmen memperbaiki akhlak diri. Namun sayang banyak yang harus dipertanyakan. Sebab hijab kini sudah menjelma menjadi sebuah aliran fashion. Menjadi trend di masa-masa tertentu, yang membuatnya sekadar dipakai tanpa dihayati. Akibatnya bagi beberapa orang, Hijab diperlakukan sama seperti penutup kepala. Dipakai ketika suka, dan dilepas ketika bosan.

Padahal hijab jelas bukan sesuatu yang berputar seperti dunia busana. Hijab adalah kewajiban, yang didalamnya terkandung nilai-nilai religius umat Islam

Advertisement

Hijab tidak berputar seperti dunia fesyen via broadly.vice.com

Sebuah penutup kepala, atau aksesoris penghias rambut, bisa kamu pakai dan lepas sesuka hati. Seperti mode-mode yang terus berputar, apa yang populer sekarang belum tentu masih dianggap keren di masa depan. Meskipun kini hijab baragam modelnya, namun hijab jelas bulan salah satu fashion busana yang bisa kita lepas-pasang begitu saja. Sekali menggenakan hijab, tentu seharusnya sampai selamanya. Sebab untuk perempuan muslim hijab adalah kewajiban. Hijab bukan sekadar gaya berbusana, melainkan di dalamnya ada nilai-nilai agama islam yang sedang kamu terapkan.

Hijab memiliki serangkaian konsekuensi yang harus kita pahami. Sekaligus sebuah simbol pembentukan jati diri

Pembentuk jati diri via www.mostresource.org

Sebagai sebuah pelaksanaan tuntunan agama, ada banyak konsekuensi dari hijab yang harus kita pahami. Sebagai penegasan jati dirimu sebagai umat muslim, berhijab ada seperangkat aturan dan tuntunan yang harus kamu perhatikan. Celana ketat dan baju pembentuk lekuk tubuh jelas tak cocok untuk dipadukan dengan hijab, karena fungsi hijab adalah untuk menyimpan sesuatu yang tak seharusnya diumbar. Sifat-sifat buruk yang liar dan semaunya juga tidak sesuai untuk kamu yang mengenakan hijab, sebab fungsi hijab sebagai tali yang membuat tingkah laku kita lebih tertata dan terpuji. Lidah yang tajam dan pikiran yang penuh dengki juga bukan cerminan dari sifat muslim, sebab hijab seharusnya membuat pikiran lebih bijak dan peduli.

Tak harus menunggu iman sempurna ataupun kealiman yang luar biasa untuk mulai menutup aurat. Namun komitmen untuk sejalan dengan nilai agama dan perilaku yang harus dijaga

siapa saja boleh berhijab via aquilastyle.tumblr.com

Salah satu orang berpendapat “Belum siap. Aku mau memperbaiki akhlak dulu, baru pakai hijab. Daripada maksa pakai hijab tapi kelakuan masih begini-begini aja.”. Sementara orang yang lain membantah: “Kalau nunggu siap, kapan kamu akan siap? Yang namanya kewajiban kan memang harus dipaksa.”. Untuk berhijab, kita tidak perlu menunggu sampai akhlak benar-benar sempurna, sehingga catatan malaikan nyaris nihil dari dosa. Tidak perlu menunggu diri menjadi alim seperti ustadz ustadzah untuk menggenakan hijab. Kita bisa menutup aurat dan memperbaiki sikap di saat yang bersamaan. Tak mengapa bila kita belum sempurna sekarang, asalkan komitmen untuk selalu memperbaiki diri agar sejalan dengan agama itu selalu ada.

Hijab adalah pelindung diri dari fitnah. Memakainya, seharusnya mencegah kita melakukan hal-hal tercela dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya

Hijab adalah kontrol perilaku via finance.yahoo.com

Hijab lebih dari sekadar penutup kepala. Hijab adalah pelindung diri dari fitnah dan segala tindakan tercela. Kita tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan sebagai umat Islam. Inilah fungsi hijab yang sebenarnya selain sebagai penutup aurat. Hijab juga pengontrol perilaku. Dengan identitas agama yang kita kenakan, kita harus mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tercela yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sholat yang masih bolong-bolong harus segera diperhatikan. Kebiasaan bergosip dan membicarakan kejelekan orang sudah saatnya dihentikan. Hijab bukan hanya pembentuk kecantikan diri, melainkan pembentuk pribadi.

Kita memang tidak harus punya iman yang sempurna dan akhlak yang sudah sempurna untuk mulai menutup aurat. Sebab hidayah bisa datang kapan saja dan melalui apa saja. Sementara dua hal itu, mengenakan hijab di kepala dan menganakan hijab di hati, bisa berjalan bersamaan. Berhijap tidak sekadar menutupi kepala, tapi juga sebuah komitmen untuk menaati perintah agama. Pemakaiannya tak bisa secara ala kadarnya. Menutup aurat saja tidak cukup, sebab yang tidak kalah pentingnya adalah komitmen untuk terus memperbaiki diri. Sebab bila benar-benar dihayati, hijab tidak hanya menciptakan rasa aman bagi kaum perempuan, tapi juga bisa pencegah dari segala perbuatan dosa.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!