Dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu, ketika cacar air masih bisa menjadi penyakit mematikan yang membunuh warga desa, teknologi saat ini jelas adalah kemajuan zaman yang harus dibanggakan. Kini cacar air bisa dicegah dengan vaksin, dan penyakit-penyakit berat bisa dicarikan solusinya. Sementara soal komunikasi, bila dulu seseorang harus membayar mahal untuk mengirim tiga atau lima kata via telegram yang penerimanya pun butuh waktu berjam-jam, kini orang bisa mengirim essay dan bahkan cerpen secara gratisan via chat yang bisa datang di saat yang bersamaan.

Kemajuan teknologi memang sudah membawa banyak perubahan. Banyak hal yang dulu adalah mustahil, namun kini jadi hal biasa. Namun selain membawa kemudahan, teknologi juga membawa dampak-dampak buruk yang seringnya diabaikan. Perang atau perlombaan senjata adalah salah satu wujud dampak negatif dari teknologi yang tidak bisa disangkal. Berkembangnya kemampuan manusia yang mampu membuat senjata pemusnah massal, tentu membuat bertanya-tanya: apakah ini harga mahal dari sebuah teknologi?

Namun kali ini Hipwee tak akan membahas soal perang ataupun keadilan sosial. Karena ada kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang juga tak kalah bahayanya, tapi sering tidak disadari. Sementara kita menikmati kemajuan teknologi, yuk mulai waspadai efek-efek samping ini.

1. Pembicaraan via teks memang praktis dan asyik. Namun karena tulisan tidak bisa bicara, terkadang konflik terjadi karena banyak tafsirnya

Tulisan sering diterjemahkan berbeda via www.businessinsider.com

Zaman dulu, orang-orang perlu menempuh perjalanan untuk bisa berkomunikasi atau sekadar menjalin silaturahmi. Namun di masa kini, kamu hanya tinggal ngetik dari atas kasur untuk menanyakan kabar. Tak sampai dua menit, balasan bila langsung diterima. Obrolan via chat, SMS, email, ataupun postingan di media sosial begitu mudahnya diterima dan dibalas. Tak butuh waktu lama dan tak butuh banyak biaya. Tapi bicara dengan teks, melalui chat atau SMS, juga lebih rawan pada salah menafsirkan. Typo atau kesalahan tanda baca sudah bisa mengubah makna. Kamu maksudnya begini, tapi dia membacanya begitu. Ini kan salah satu hal yang membuat kamu sering baper dan galau?

2. Media sosial hadir untuk memudahkan komunikasi. Namun tanpa sadar itu juga membuat kita malas keluar untuk berinteraksi

Advertisement

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat via pumpic.com

Dengan adanya media sosial, maintenance pertemanan jadi mudah. Tak perlu saling bertemu untuk saling menuntaskan rindu, cukup stalking timeline kita sudah tahu kegiatan sehari-harinya. Dengan media sosial kita juga bisa berteman dengan orang-orang yang jauh di sana dan bahkan yang belum pernah kita temui secara tatap muka. Meski dengan koneksi internet yang sekadarnya, kita sudah bisa membuat jaringan luar biasa dengan orang-orang yang hanya kita lihat foto profilnya.

Meskipun dengan begini yang jauh jadi dekat, jangan dilupakan pula bahwa ini membuat kita malas keluar untuk berinteraksi dengan orang sekitar. Kita lebih memilih chatting seharian daripada bertemu langsung meski hanya satu jam. Kita memilih ngobrol via mention-mentionan daripada keluar rumah dan bertemu orang.

3. Drama korea, game, TV series dan video-video memang sangat membantu untuk menghibur diri sendiri. Tapi karena semua hiburan ada di depan layar, sekarang manusia sering lupa untuk gerak

Seharian di depan laptop, kesehatanmu? via roogirl.com

Di era teknologi ini hiburan juga terasa murah. Asal kamu kreatif dan bisa menghibur dirimu sendiri, kamu tak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk bisa membuat diri tertawa. Dengan internet cepat, kamu bisa streaming menonton drama korea atau video di Youtube. Bila tidak ada internet, kamu bisa menonton film yang file-nya sudah kamu copy dari teman. Game-game yang menjamur, mulai dari yang bayar sampai yang gratisan, sudah bisa membuat harimu cukup seru tanpa harus keluar rumah dan keluar uang.

Kamu tinggal nyetok cemilan dan mie instan, lalu kamu bisa diam di depan laptop seharian. Meski sekilas terlihat hemat (karena kamu nggak keluar ke mana-mana), namun efek jangka panjangnya bisa mengganggu kesehatan. Mulai dari obesitas karena makanan yang tak sehat, terlalu banyak duduk juga bisa menyebabkan kematian.

4. Di Amerika bahkan sudah ada elektronik cart untuk kamu yang malas jalan saat belanja bulanan. Fenomena orang tak bisa jalan karena kegemukan seperti di film Wall E, sudah jadi kenyataan

Nyata, bukan fiksi atau animasi via tywkiwdbi.blogspot.co.id

Bila di Indonesia kita sedang gandrung dengan metode belanja online yang bisa membuat belanjaan kita diantarkan langsung ke rumah, di Amerika adalah elektronik trolley untuk kamu yang masih suka belanja langsung ke supermarket. Elektronik trolley ini sistemnya seperti kamu naik motor keliling supermarket sambil bawa keranjang. Jadi kamu harus berjalan keliling supermarket untuk mencari barang yang dia butuhkan.

Selain mempersingkat waktu, juga mendorong manusia untuk mengembangkan sifat malasnya. Padahal berjalan juga merupakan salah satu aktivitas yang bisa mencegah obesitas. Kalau sudah begini, mau tak mau jadi teringat kisah film Wall E. Ketika manusia yang mendiami pesawat Axiom terlalu gemuk dan tidak bisa lagi bergerak, sehingga semua aktivitasnya harus dibantu oleh robot. Duh, serem kan kalau fungsi kita diambil alih oleh robot?

5. Teknologi juga membuat kita lupa pada pentingnya privasi. Segalanya diumbar tanpa menyadari bahwa mungkin itu berbahaya untuk diri sendiri

Posting sekadar pamer, tanpa tahu bahaya yang mengancam via www.galvestonbaykeeper.com

Beberapa saat yang lalu kita mendapatkan instruksi agar tidak mengunggah foto tiket perjalanan ke media sosial dengan alasan keamanan. Ternyata di selembar kertas yang sering kita tunjukkan ke khalayak ramai sebagai bukti bahwa kita akan pergi ke suatu tempat, menyimpan info-info rahasia yang bisa membahayakan diri kita.

Dunia internet adalah dunia yang saling berhubungan. Jalin menjalin dengan begitu rapatnya, sehingga sebuah info begitu mudah tersebar. secara teknis, media sosial dan internet memberikan kita kontrol untuk menentukan info mana yang boleh dishare dan tidak boleh dishare. Sayangnya kita seringkali lupa bahwa ada info yang yang lebih baik kita simpan sendiri saja. Bukan hanya lupa pada pentingnya privasi, kita juga lupa apa itu privasi.

6. Tak disangkal, kemajuan teknologi membawa kemudahan untuk seruan aksi. Namun jangan lupa bahwa teknologi juga membuat dunia jadi rawan bully

Teknologi memudahkan bully via www.channel4.com

Ketika kasus-kasus tidak adil dan pelanggaran HAM terjadi, dengan dukungan teknologi dan internet, masyarakat luas bisa mengetahui. Dari situ, banyak seruan aksi yang bisa dilakukan untuk menggalan bantuan demi menegakkan keadilan. Begitu juga ketika ada kabar tentang bencana alam. Cepatnya kabar menyebar membuat bantuan juga lebih cepat datang. Karena kemajuan teknologi dan mudahnya komunikasi, keadilan dan kemanusiaan menjadi perjuangan bersama.

Namun di sisi lain, netizen juga begitu jahatnya. Ketika ada seseorang yang melakukan kesalahan, dan infonya tersebar, semua orang akan berlomba-lomba menghakiminya. Public figure yang upload foto harian bisa mendapat caci maki yang tak keruan. ‘Pembully-an’ kini tak lagi berupa tindakan kekerasan fisik, tapi dari jari-jari yang mengetik kata-kata sadis.

7. Tanpa disadari, teknologi juga melahirkan sistem kasta baru. Karena kini fungsi sudah mulai digantikan oleh gengsi

Beli demi gengsi atau fungsi? via voolas.com

Bersama teknologi kita meninggalkan masa lalu yang penuh diskriminasi. Mulai dari diskriminasi perempuan dari laki-laki, si kaya dan si miskin (meskipin hingga kini ini masih terjadi), si bangsawan dan rakyat kecil, setiap perlakuan yang diterima berbeda. Sekarang hak setiap manusia mengemukakan pendapatnya dan mengejar kepentingannya sudah dilindungi oleh undang-undang, tanpa terkecuali. Ironisnya, bersamaan dengan teknologi menghapus ketidaksetaraan, teknologi justru melahirkan ‘kasta’ baru yang ditentukan oleh: apa merk gadgetmu?. Di awal kemunculannya, ponsel berfungsi sebagai alat komunikasi. Kini ponsel punya fungsi tambahan sebagai perwujudan gengsi.

8. Dan barangkali, teknologi juga membuat kita semakin sulit menemukan pasangan sejati. Sebab bukannya ngobrol orang-orang baru di tempat umum, kita malah sibuk main HP melulu

Dulu lebih pilih lihat pemandangan atau ajak ngobrol yang di depan mata via ragtimerye.blogspot.co.id

Untuk kamu yang jomblo dan galau kenapa tak juga dipertemukan dengan jodohnya, mungkin perlu memikirkan ini baik-baik. Cinta bisa saja bersemi saat kamu dan dia duduk bersisihan di angkutan umum. Atau saat kamu menunggu kereta yang tak datang-datang juga. Romantis sekali kan bila kita bisa seperti Celine dan Jesse di film Before Sunrise yang berawal dari ngobrol dengan orang asing di kereta lalu berlanjut ke kisah asmara.

Tapi sekarang, untuk membunuh waktu di perjalanan, atau menghabiskan waktu saat menunggu sesuatu, kita lebih sibuk dengan ponsel melulu. Padahal kalau kita mau mengantongsi ponsel sebentar, lalu mengamati sekitar, bisa jadi kita menemukan teman bicara. Dan, tentu saja, bisa jadi kita menemukan teman hidup ;p

Teknologi jelas tak bisa dihindari. Sebab untuk posting dan membaca artikel ini pun kita butuh teknologi. Namun sama seperti obat kimia. Dalam takaran yang pas, obat bisa menyembuhkan. Namun bila dikonsumsi terlalu lama bisa merusak tubuh juga. Sementara bila dikonsumsi secara berlebihan, bisa membuat kita mati karena overdosis.

Kemajuan teknologi wajib kita syukuri dan rayakan sebagai bentuk kreativitas dan kecerdasan umat manusia. Namun perayaan ini setidaknya harus dibarengi dengan rasa waspada, sebab dampak buruk dari teknologi juga nyata adanya. Tak perlu jauh-jauh membicaraan soal perang yang sudah jelas kaitannya, banyak hal-hal sepele yang kita lakukan sehari-hari, yang efek buruknya sudah siap menanti di masa depan.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!