Masih sendiri di tengah usia yang sudah saatnya berdua di pelaminan memang menimbulkan dilema. Meski kamu merasa baik-baik saja, tapi tidak dengan orang-orang di sekitarmu. Dengan alasan sudah saatnya, sudah umurnya untuk memikirkan rumah tangga, kamu akan dijejali dengan pertanyaan kapan nikah setiap harinya. Apapun alasanmu, orang tidak akan peduli. Karena sudah dilakukan oleh banyak orang di dunia, begitu saja kamu diharuskan untuk melakukannya juga.

Kamu yang masih betah sendiri diam-diam dianggap perawan tua, tidak laku, dan tidak bahagia. Seolah-olah seluruh pencapaian yang kamu punya tidak berharga hanya karena kamu belum menikah di usia yang seharusnya.

Tapi jangan dipikirkan terlalu dalam. Kamu tidak sendirian merasakannya. Hanya saja, kamu pasti sudah paham, bahwa pernikahan bukanlah hal yang bisa dijalani hanya karena omongan orang.

Pernikahan bukan sekadar hidup berdua dengan pasangan. Ada konsekuensi sosial di baliknya, karena kamu menikahi sebuah keluarga

Pernikahan via www.tumblr.com

Sepakat menikah artinya kamu dan dia sepakat untuk mengendarai perahu berdua. Kini kamu tidak bisa lagi mengarahkan perahumu sesuka hati, karena ada orang lain di sana yang mungkin kehendaknya berbeda. Kamu dan dia akan belajar untuk membuat kesepakatan-kesepakatan agar perahumu tetap tegak berdiri meski diterpa angin dan samudera. Itu saja tidak cukup. Karena pernikahan bukan hanya soal dua orang saja. Ketika kamu menikahinya, otomatis kamu menikahi keluarganya dan lingkungannya. Persoalan keluarga bisa menjadi satu problem yang membuatmu sakit kepala. Siap tidaknya kamu menanggung semua konsekuensi itu, hanya kamu sendiri yang tahu.

Disadari atau tidak, pernikahan memberikan sekaligus mengambil sesuatu. Sesal setelah pernikahan tak bisa diselesaikan sesederhana itu

Advertisement

Ada kebebasan yang hilang via 41.media.tumblr.com

Benar memang, sebuah pernikahan memberimu satu kaki penopang. Kamu yang selama ini menjalani hidupmu sendiri, menanggung dan memecahkan masalah sendiri, kini memiliki seseorang untuk bersandar dan membantu menanggung beban. Pernikahan juga memberimu satu tujuan hidup yang jelas. Tapi diakui atau tidak, pernikahan juga mengambil banyak hal darimu. Pertama, kebebasanmu. Kamu tidak bisa lagi pergi ke sana dan kemari sesuka hati. Dan kedua, kamu tidak bisa lagi melakukan dan memutuskan segala-galanya sendiri. Akan banyak kompromi yang harus kamu jalani. Ego dalam dirimu, mau tidak mau harus dibasmi.

Usia produktif memang ada batasnya. Tapi kamu menikah untuk bahagia bukan? Tak cuma menciptakan manusia

Anak hanya salah satu tujuan via glee.wikia.com

Usia produktif sering dijadikan alasan. Terutama untuk kaum perempuan, yang memang produktivitasnya terbatas. Semakin tua, semakin sulit untuk mendapat keturunan. Memang betul salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk regenerasi keturunan. Membesarkan anak sendiri dan membentuk keluarga yang bahagia. Tapi keturunan bukan satu-satunya tujuan pernikahan bukan? Sedang untuk menjadi orang tua yang baik untuk keturunanmu, mentalmu sendiri haruslah sudah mapan.

Menikah bukan hanya soal mengisi kekosongan dalam hati. Kamu masih bisa tetap kesepian walau sudah beristri atau bersuami

Kesepian masih tetap ada, meski sudah menikah via mychemicalsecret.tumblr.com

Banyak yang beralasan menikah karena merasa kesepian. Ada rasa kosong dan sepi dalam hati yang menunggu untuk diisi. Setidaknya, dengan punya pasangan sah, kamu bisa ngobrol berdua sepanjang malam. Sehari-hari ada yang menemani, sehingga tidak harus melakukan apa-apa sendiri. Padahal meskipun kamu sedang berdua, atau sedang dalam keramaian pun, kamu tetap bisa merasa sepi. Sepi bukan soal ada teman atau tidak, melainkan bagaimana hatimu relate dengan dunia luar. Rasa sepi munculnya dari dalam hati. Pernikahan bukan jaminan untuk kamu tidak lagi merasakannya.

Jangan sampai kamu melakukannya, karena orang bilang sudah waktunya. Kamu sendiri yang tahu kapan harus melangkah menujunya

Tak perlu dengar omongan orang via anjainsight.com

Teman-teman seumuranmu sudah menikah. Lantas mereka bertanya-tanya kamu kapan? Apalagi yang kamu tunggu? Apa nunggu tua dulu baru mau memikirkan soal itu? Apa kamu tidak takut dianggap tidak laku? Semakin kamu pikirkan, omongan orang semakin kejam. Karena itu, mengabaikannya adalah jalan yang paling masuk akal. Boleh saja kamu menjadikan saran dari orang sebagai pertimbangan. Namun jangan menjadikannya sebagai alasan untuk menikah. Karena hidupmu, kamu sendiri yang menjalani. Bahagia atau menderita, kamu sendiri yang rasakan. Mereka hanya melihat dari luar. Apa yang terjadi di dalam, mereka tidak tahu. Dan mungkin tidak peduli.

Setiap orang memiliki kondisi mental yang berbeda. Belum siap sekarang, bukan berarti kamu kalah dengan yang sudah siap. Pernikahan bukan lomba

pernikahan bukan lomba via thestrangeher.wordpress.com

Mungkin kamu lelah dengan komentar “Dia yang lebih muda darimu saja sudah berani berkomitmen. Kamu yang sudah tua, masa nggak berani?”. Seolah-olah komitmen adalah soal usia saja. Komitmen adalah soal kesiapan hati. Usia boleh sudah tinggi, tapi soal keberanian mengambil komitmen belum tentu mengikuti. Bukankah lebih baik menunggu sampai saat yang tepat datang sehingga semuanya sudah matang, daripada begitu tergesa-gesa dan menyerah di tengah jalan?

Ingatlah bahwa setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri. Mereka bisa berkomentar ini itu tentang hidupmu, tapi mereka punya hidupnya sendiri untuk dijalani. Kamu tidak harus selalu mendengarkan mereka, sebab hidupmu itu, kamu sendiri yang tahu. Mereka menuntut ini dan itu, tapi mereka tidak melihat realitamu. Wajar saja, karena realita setiap orang bisa berbeda. Meski hidup sendirian terlihat sepi dan menyedihkan, namun belum tentu kamu lebih tidak bahagia daripada mereka yang hidup berdua. Dan orang-orang, tentu tidak tahu hal ini. Biarkan saja.