Stigma yang berkembang di Indonesia adalah perempuan yang sudah menjadi istri biasanya harus rela mengorbankan kariernya demi keluarga. Bahwa akan menjadi lebih baik jika perempuan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengurus anak dan suami, yang secara nggak langsung mengharuskan perempuan untuk melepaskan pekerjaannya demi menjadi full time mom. Tanpa bermaksud melarang perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga full time, kali ini Hipwee mencoba membahas bahwa perempuan meski sudah menikah harus tetap punya penghasilan sendiri. Karena perempuan yang sudah menjadi istri dan punya penghasilan sendiri, cenderung punya kehidupan yang jauh lebih tenteram dan sejahtera.

1. Tak ada yang mampu menerka masa depan, cuma bisa persiapkan sebaik-baiknya. Pastinya, dua pilar penopang finansial jauh lebih baik daripada satu

Tidak kelimpungan jika salah satu terjatuh via www.shutterstock.com

Bagaimana pun sebuah rumah tangga akan lebih kokoh jika terdiri dari dua pilar finansial. Supaya kelak saat penghasilan suamimu tengah tersendat, kamu punya tabungan dari penghasilan pribadimu. Pasangan juga bisa saling memberikan keleluasaan dalam mengejar target pribadi maupun bersama. Misalkan kesempatan untuk mengejar studi lagi jauh lebih terbuka ketika pasanganmu juga punya penghasilan. Atau ketika ingin berganti karier atau memulai bisnis sendiri, pilar keuangan keluargamu masih tetap bisa berdiri dihadapan tantangan-tantangan tersebut.

2. Bukannya berperasangka buruk pada pasangan, tapi nyatanya masalah keluarga besar memang isu sensitif. Lebih aman jika punya penghasilan sendiri untuk memberi bantuan finansial pada orangtua atau saudara-saudaramu

Meski punya keluarga masing-masing, tetap bisa menjaga orangtua via www.dr-lobisco.com

Meski kelak suamimu punya penghasilan yang lebih dari cukup, penghasilanmu sendiri bisa dialokasikan untuk membantu keuangan keluarga. Entah untuk menyokong finansial bulanan orangtua atau membantu biaya pendidikan adik-adikmu. Walaupun sudah menikah, tak berarti tekad kuatmu untuk menjadi tempat bersandar yang kokoh bagi keluarga, terhenti begitu saja. Setidaknya, kamu harus menyiapkan tabungan untuk menyokong finansial orangtua saat mereka pensiun kelak.

3. Zaman sekarang, punya penghasilan itu sama sekali tidak berarti harus mengorbankan peranmu sebagai istri atau ibu. Kalau postingan sedang menjaga anak saja bisa populer dan dapat bayaran, kenapa masih ada yang nggak punya penghasilan?

Advertisement

Jadi selebgram pun bisa via www.dailymoslem.com

Dengan kecanggihan teknologi saat ini, perempuan punya banyak peluang untuk punya penghasilan sendiri tanpa keluar rumah. Selama ada koneksi internet, mereka bisa terhubung dengan konsumen nun jauh di luar sana sekalipun. Beberapa pekerjaan yang bisa dilakoni di rumah diantaranya bisnis online, penulis lepas, hingga selebgram.

Adapun salah satu selebgram sukses yang bisa menjadi role model adalah Ibooknya Kirana, yakni Retno Hening. Ibook Retno sukses menjadikan Kirana begitu populer di Instagram. Ternyata hobi memposting tingkah polah lucu Kirana, mendatangkan rezeki tak hanya bagi Ibook sendiri tapi juga bagi bulek Kirana dan pedagang online lainnya yang kerap mempromosikan dagangannya di akun Instagram Ibook. Berniat mengikuti jejak Ibook?

4. Beruntunglah kita generasi millennial, keseimbangan antara kehidupan profesional-privat lebih diprioritaskan. Makin banyak karier yang jam dan jenjangnya fleksibel

Bekerja sebagai guru waktunya fleksibel kok via huffingtonpost.com

Menurut berbagai studi, preferensi orang dalam memilih karier sekarang telah bergeser. Salah satu prioritas baru yang terlihat adalah makin banyak orang-orang yang mencari pekerjaan yang fleksibel. Sampai-sampai disebut, generasi ini adalah akhir bagi jam kerja 9-5. Ini tentunya adalah berita menggembirakan bagi perempuan masa kini. Antara karier atau keluarga, bukan lagi harga mati yang harus dipilih. Perusahaan-perusahaan sekarang juga makin dituntut untuk lebih mengakomodasi karyawan perempuan yang sedang hamil dan menyusui.

Tentu saja karier tradisional dambaan perempuan seperti dosen atau guru masih bisa jadi pilihan bijak bagi perempuan yang ingin berkarier dengan jam fleksibel. Bekerja sebagai guru, misalnya berangkat pagi hari dan pulang paling telat jam 2 atau 3 sore. Sepulang itu kamu masih punya waktu luang untuk istirahat sejenak dan beres-beres rumah. Bahkan masih sempat bikin camilan sore untuk suami. Setidaknya, jika kamu bekerja sebagai guru, kamu masih bisa stand by menunggu suami pulang dan mengawasi anak-anak belajar.

5. Bahkan saat ini adalah masa perubahan dimana stay-at-home dad juga bisa dihargai dan tidak dicemooh. Yang lebih penting dari gengsi sosial, adalah apa yang terbaik dan sesuai untuk keluargamu

Dianggap keren karena rela jaga anak-anak ketika istri kerja via www.allkpop.com

Perempuan pun sekarang punya peluang untuk tetap bisa mengejar karier yang mungkin butuh jam kerja tinggi Ketika persentase perempuan yang mampu lulus S2 semakin tinggi, secara kualitas perempuan juga dapat bersaing memperebutkan karier penuh prestise yang sebelumnya hanya didominasi pria. Disinilah mungkin isu berkeluarga masih jadi dilema besar. Pekerjaan-pekerjaan tipe tersebut biasanya menuntut jam kerja dan dedikasi tinggi, yang membuatmu makin lama absen di rumah. Tapi sama sekali tidak mustahil.

Kuncinya adalah kerjasama kalian sebagai pasangan. Pastikan kalian mengerti dan menghargai potensi masing-masing. Kalau memang sang istri punya potensi lebih untuk mengejar karier yang menuntut jam kerja tinggi, sementara suami bisa saja berbisnis dari rumah, kenapa tidak? Jangan hanya demi menjaga gengsi dan jadi takut jadi omongan orang, kalian mematikan potensi satu sama lain.

6. Terlebih lagi kalau kamu tinggal di negara yang punya kebijakan cuti melahirkan terbaik di dunia. Di mana perempuan didukung secara penuh untuk dapat menjalankan perannya sebagai profesional dan ibu

Berpidato sambil menyusui pun sudah dianggap biasa saja via www.huffingtonpost.ca

Banyak dari kamu yang ingin tetap bekerja meski sudah menikah nanti. Dengan catatan bisa mengambil cuti beberapa waktu sejenak setelah melahirkan. Setelah cuti melahirkan, kamu tak ragu untuk kembali bekerja. Nah, jika ini menjadi rencanamu, mungkin kamu akan sangat iri dengan perempuan di Eropa Utara, seperti Swedia dan Islandia yang begitu ramah terhadap perempuan. Bagaimana tidak? Para ibu di Swedia punya jatah cuti melahirkan lebih dari 1 tahun (480 hari) dan tetap dapat upah bulanan sebesar 80 % dari gaji. Nggak hanya Ibu-ibu, para ayah di Swedia juga dapat jatah cuti melahirkan selama 2 bulan.

Lain lagi dengan Islandia yang beberapa waktu lalu sempat heboh dengan video anggota parlemen mereka bernama Unnur Bra Konradsdottir yang dengan santainya menyusui bayinya saat tengah berpidato di atas podium. Terkait hal ini, anggota parlemen lainnya nampak santai saja dan memandang apa yang dilakukan oleh Unnur itu adalah hal yang sangat lumrah. Ini jadi bukti kalau Islandia tergolong negara yang menerima dengan seutuhnya potensi perempuan, baik sebagai politisi atau ibu.

Bertekad kuat untuk punya penghasilan sendiri, tak berarti mengecilkan peran suami atau tidak bersyukur dengan rezeki yang didapatnya. Melainkan semata demi orangtua, adik-adik, dan juga dirimu sendiri agar tetap berkembang nantinya.