Go-Jek tengah kehilangan salah satu tokoh yang membidaninya. Yakni Alamanda Shantika selaku salah satu Vice President-nya. Ala (Alamanda red-) dikenal sebagai salah satu dari tim yang merancang aplikasi Gojek yang menghidupi lebih dari 250 juta kepala. Sebelum di Go-jek, pekerjaan Ala di perusahaan lamanya terbilang sudah nyaman. Namun, CEO Go-jek , Nadiem Makarim merayu Ala yang tadinya hanya sebagai pekerja lepas menjadi pekerja tetap. Selama di Go-jek, setidaknya Ala sudah menduduki beberapa jabatan penting, dari Vice President Technology Product dan Vice President People’s Journey-People and Culture.

Ketika berita hengkangnya Ala mengemuka, tak sedikit yang mempertanyakan alasannya. Yang salah satunya adalah dugaan sudah tak lagi sevisi dengan para petinggi lainnya. Benarkah demikian?

Bukan karena sudah tak lagi sevisi, keputusan Ala resign semata demi mewujudkan mimpi

Alamanda Shantika resign demi mewujudkan mimpi. via Infobisnis.id

“Ngambil PhD di Stanford University, balik ke Indonesia saya benar-benar fokus ke edukasi. Jadi dosen, guru besar dan Menteri Pendidikan,” ujarnya kala itu

via detik.com

Pada beberapa kesempatan, pada sejumlah media Ala mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi menteri pendidikan. Untuk mewujudkan karirnya tersebut, Ala bahkan sudah menyiapkan segudang rencananya, yakni meneruskan studi ke jenjang doktoral dan akan menseriusi karirnya sebagai akademisi. Hingga nantinya bekal pengalaman dan latar belakang pendidikan yang ia punya akan memudahkan jalannya menuju kursi menteri pendidikan. Tak hanya itu, selepas dari Go-jek, Ala juga bertekad kuat untuk membantu banyak anak muda Indonesia dalam membangun startup.

Setelah berhasil membidani lahirnya Go-jek, Ala bertekad kuat untuk mendukung lahirnya startup baru di Indonesia

Advertisement

Ala kini bergabung dengan Kibar guna mendukung lahirnya 1000 startup digital di Indonesia. via e27.co

“Satu Go-Jek saja bisa menghidupkan 250 ribu orang. Kalau ada seribu startup seperti Go-Jek artinya bisa menghidupkan 250 juta orang,” ujarnya (Alamanda).

via detik.com

Mengekor kesuksesan Go-jek dan startup sejenis, banyak anak muda Indonesia yang tergerak untuk turut membangun startup. Valuasi yang lebih dari Rp 13 triliun menjadikan Go-jek sebagai startup panutan bagi banyak anak muda Indonesia. Hal itulah yang mendorong Ala untuk membagi ilmu dan pengalaman yang dia punya kepada anak muda Indonesia yang ingin membangun startup baru.

Setelah dari Gojek, Ala memutuskan untuk bergabung dengan Kibar untuk menginisiasi lahirnya 1000 startup digital baru. Menurut wanita yang menempuh studi bidang IT, Matematika, Desain ini, banyak anak muda tanah air yang bersemangat membangun startup namun masih butuh bimbingan. Nah, karena itulah Ala memutuskan untuk bergabung dengan gerakan 1000 startup digital, guna mendukung mimpi-mimpi anak muda Indonesia membangun startup mereka sendiri.

Terkadang sebuah perusahaan mampu membuatmu jadi pribadi yang lebih berkembang, seperti Go-jek yang mampu membuat Ala berani bermimpi tinggi

Gojek membuat Ala berani bermimpi. via maxmanroe.com

Perusahaan mana pun, entah itu yang benar-benar mensejahterakan atau hanya menanggalkan tekanan batin saja, tetap memberimu banyak pelajaran. Seperti halnya Ala yang mendapat banyak pelajaran dari Go-jek. Tak hanya ilmu dan pengalaman, Go-jek nyatanya mampu membuat Ala optimis bermimpi tinggi. Bermimpi untuk menularkan semangat membangun startup yang sukses.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari kisah Alamanda adalah untuk selalu berpikir positif terhadap perusahaan yang kamu tinggalkan. Apa pun alasannya, selalu ada hal yang bisa kamu pelajari yang pada akhirnya membuatmu menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berpengalaman.

Kamu bisa belajar dari seorang Ala bahwa resign bukan semata karena tertekan atau beda visi, tapi justru demi mewujudkan mimpi

Ala menyangkal bahwa keputusannya resign karena tak lagi sevisi dengan Nadiem. via dailysocial.id

“Nadiem lalu bilang, bekerja di Go-jek itu bukan untuk diri sendiri. Tapi bagaimana kita terus berinovasi dan memberi hidup bagi ratusan ribu mitra ojek di luar sana. Mereka bergantung pada perusahaan ini,” kisah Alamanda.

via cnnindonesia.com

Ketika berita hengkangnya Ala dari Go-jek menguar ke udara, banyak yang menduga bahwa keputusannya tersebut disebabkan dirinya tak lagi sevisi dengan Nadiem, CEO Go-jek. Namun, Ala menyangkal dugaan tersebut. Bagi wanita berusia 28 tahun tersebut, Nadiem-lah yang membuatnya belajar banyak hal dan optimis mewujudkan mimpi. Yakni mimpi untuk membantu melahirkan startup baru. Jadi, keputusan Ala keluar dari Go-jek bukan karena dihimpit tekanan atau tak lagi sevisi, namun semata karena ingin mewujudkan mimpi.

Apalagi resign yang hanya karena jenuh semata, sungguh alasan yang dangkal jika benar demikian

Jangan resign jika alasannya jenuh semata. via nydailynews.com

Pertimbangkan dengan matang saat kamu ingin resign hanya karena jenuh saja. Sebab bisa jadi kamu hanya belum memaksimalkan potensi yang kamu punya saat ini. Tanya balik pada dirimu, apa alasan kuat dibalik itu. Resign hanya karena jenuh atau tak cukup kuat menahan tekanan, tergolong keputusan yang kurang dewasa. Sebaliknya, keputusanmu untuk keluar dari pekerjaanmu saat ini seharusnya demi mengembangkan potensi diri atau mewujudkan mimpi yang belum terealisasi.

Pastikan keputusanmu resign bukan karena emosi sesaat, tapi dengan pemikiran yang matang

Pertimbangkan dengan baik saat akan mengajukan surat ini. via cv-library.co.uk

Perlu dipikirkan dengan matang apa yang akan kamu lakukan selepas resign dari kantormu yang sekarang. Apakah di tempat baru kamu akan berkembang lebih baik atau malah sebaliknya mengalami kemunduran potensi? Kalau setelah resign nasibmu masih mengawang, baiknya urungkan niatmu untuk hengkang.

Kamu bisa belajar dari Alamanda yang resign bukan karena berbeda visi tapi semata ingin mewujudkan mimpi. Untukmu yang saat ini berniat resign, baiknya pikir-pikir ulang ya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!