Di usia pertengahan 20-an, perihal jodoh memang menjadi bahasan yang tidak pernah membosankan. Mungkin karena itu juga lagu-lagu cinta dan novel-novel drama selalu laku dijual. Jodoh sama misterinya dengan kematian. Tak bisa ditebak kapan, siapa, dan bagaimana awalnya. Namun dalam tradisi ketimuran yang kental, soal jodoh tak lagi bisa santai. Ada usia kesepakatan yang dilabeli dengan ‘saatnya berumah tangga’. Melihat teman-teman sudah menikah dan dibombardir pertanyaan kapan nikah, membuat banyak orang kelabakan.

Namun, apa iya untuk disebut normal kamu harus sudah punya jodoh pada usia yang ditentukan?

1. Usia 22 lulus kuliah, bekerja, lantas di usia 25 menikah. Ah, di masa remaja membuat rencana terasa begitu mudah

Sudah sarjana, saatnya kerja dan menikah via makeup.vidalondon.ne

Ironis memang, namun sepertinya lebih mudah membuat rencana saat kita tidak tahu apa-apa. Bila flashback ke masa-masa remaja dulu, hidupmu terlihat begitu tertata. Setelah sekolah, kuliah. Empat tahun harus sudah lulus, kemudian mencari pekerjaan. Tiga tahun bekerja seharusnya sudah membuatmu matang secara emosi maupun pendapatan. Jadi jangan terlalu lama, di usia 25 kamu harus sudah berumah tangga. Waktu itu, kita begitu optimis. Kita juga tak keberatan menerima siklus hidup yang sudah paten: lahir – sekolah – kuliah- kerja – menikah – punya anak – mati. Seolah-olah semua sudah digariskan dan tak bisa diotak-atik lagi.

2. Angka 25 terlalui sudah. Namun rasa bungah itu masih tertunda, sebab ternyata segalanya tak sesuai rencana

Seiring waktu berlalu, ternyata kamu masih sendiri via www.flickr.com

Advertisement

Pada akhirnya, baik dengan legowo ataupun terpaksa, kita diminta untuk menerima kenyataan. Kini laju usiamu sudah melampaui angka 25. Namun yang kamu capai ternyata baru sekadar lulus kuliah dan bekerja saja. Pasangan belum punya, beberapa kali menjalin hubungan hanya berbuah kegagalan. Pernikahan pun masih terlalu jauh untuk diangankan. Apa yang salah? Padahal kamu sudah merencanakannya dengan begitu matang dan sederhana. Kamu juga bukan orang yang pilih-pilih pasangan. Tak perlu tampan yang kaya, yang penting baik saja. Jawabannya sederhana: tidak semua yang direncanakan berjalan sesuai harapan.

3. Sering merasa dikejar-kejar tenggat waktu yang ditetapkan oleh orang lain. Buat kita terlalu panik mencari,  sampai lupa memantaskan diri

Ingin segera seperti teman-teman, kamu mulai kelabakan via edwintcg.com

Dia yang tak cukup kuat diterpa badai pertanyaan ‘kapan nikah’, akan mengalami masa-masa yang berat. Setiap kali undangan pernikahan dari teman, hatimu tersayat. Kamu merasa ada yang salah dalam dirimu bila tak kunjung merencanakan pernikahan, atau setidaknya memperkenalkan seseorang di usiamu yang sudah seperempat abad. Kamu seperti sedang dikejar-kejar waktu.

Apalagi dibombardir pertanyaan kapan nikah yang tiap tahu makin sering terdengar. Panik dikejar waktu, kamu sibuk mencari. Mulai dari minta dicomblangi teman sampai memakai jasa mak comblang digital. Saking sibuknya mencari seseorang yang pantas dan berkualitas, lupa bahwa kamu juga perlu memantaskan diri.

4. Telanjur jatuh cinta begitu dalam, memaksa untuk mempertahankan. Padahal ada titik di mana sesuatu memang lebih baik dilepaskan

Mati-matian mempertahankan hubungan via www.noconectado.com

Lain orang, lain pula cerita. Sementara kamu sedang berusaha keras mencari seseorang yang tepat, ada orang lain yang mati-matian mempertahankan seseorang agar tetap tinggal. Cinta yang terlalu dalam membuatnya tak mau berdarah-darah karena ditinggalkan. Lagipula hubungan ini sudah terlalu lama berjalan dan usia juga sudah rawan, tentu berat sekali bila harus memulai dari awal lagi. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya hubungan harus tetap berjalan, meski itu berarti harus melukai diri sendiri.

Tapi apa iya, cinta adalah sesuatu yang bisa dipaksakan?

5. Cinta sudah sama, kesiapan sudah di depan mata. Tapi bila Tuhan berkata “bukan dia”, kamu bisa apa?

Dia yang kamu cintai sepenuh hati, belum tentu yang digariskan via www.reshareit.com

Soal jodoh memang tidak bisa ditebak apalagi dipesan. Cinta saja tidak cukup. Sebab ada kalanya kita jatuh cinta begitu dalam, namun timbal baliknya tak sepadan. Kamu yang sudah yakin bahwa dialah yang digariskan, harus berlapang dada karena ternyata Tuhan memberi kejutan di akhir cerita. Dia yang kamu harap menjadi pelabuhan selamanya, ternyata hanya sekadar singgah saja. Hubungan yang lama dijaga mau tidak mau hanya bisa direlakan. Patah hati yang mendalam membuatmu bertanya-tanya tentang takdir Tuhan. Namun, bukankah masuk akal bila begitulah cara Tuhan memberitahukan rencananya?

6. Jodoh tak selalu diawali dengan cinta. Pada akhirnya, banyak faktor yang membuat seseorang bertemu dengan teman hidupnya

Belahan jiwa tak selalu diawali oleh jatuh cinta via www.logancoleblog.com

Lantas jodoh itu apa? Apa kedatangannya diawali dengan cinta menggebu dan rasa klik pada pertemuan pertama?

Mungkin salah kita sendiri yang terlalu percaya bahwa tanda-tanda jodoh datang berupa sebuah bisikan di telinga saat pertama kali kalian beradu mata. Lalu kita mengidentikkan dia yang tepat, adalah dia yang kepadanya kita punya cinta yang menggebu sejak awal hingga akhir usia. Jodoh tak selalu diawali dengan cinta.

Lihat saja kisah cinta Ditto dan Ayudia, yang mengawali hubungan dengan kata teman. Lalu kembali pada hidup kakek dan nenekmu di masa lalu, mereka yang berpisah karena tutup usia tak sedikit yang mengawali kisah karena perjodohan orang tua. Makanya siapa kita yang bersikeras cinta itu harus pada pandangan pertama.

7. Jodoh memang harus dicari, tapi tak perlu heboh dan memaksakan diri. Karena tak ada gunanya menunggu matahari terbit di jam 2 dini hari

Sunrise hanya muncul di saat yang tepat via www.courtneydaylong.com

Jodoh perlu diusahakan, itu sudah pasti. Sebab jodoh tidak bisa datang sendiri. Tidak berarti pula, bila sudah jodohnya maka hubungan akan berjalan lancar jaya tanpa kendala tanpa tutup usia. Namun mengusahakan jodoh tidak sama dengan memaksakannya. Tak perlu terburu-buru dan tak perlu memaksakan apa yang memang belum waktunya. Seperti bila kita ingin melihat sunrise di pantai, tentu berlebihan bila kita sudah menunggu sejak pukul 2 dini hari. Semua ada waktunya sendiri-sendiri, tak perlu memaksa karena jelas jodoh bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.

8. Daripada sibuk mencari, lebih baik fokus memperbaiki diri. Karena mungkin saja jodoh belum datang karena kita belum purna dengan diri sendiri

Fokuslah pada diri sendiri dulu via www.pinterest.com

Mengusahakan jodoh bisa dimaknai dengan banyak cara. Kamu bisa melakukannya dengan mencari sekuat tenaga, dari satu cara ke cara yang lainnya. Tapi kamu juga bisa memilih satu cara yang lebih elegan, yaitu dengan fokus untuk memantaskan dirimu sendiri dulu. Toh, pada akhirnya jodoh adalah cerminan diri.

Pertama-tama penuhi tanggung jawabmu pada diri sendiri, untuk menjadi lebih baik setiap hari. Jangan dulu berharap hubungan yang dewasa, bila kamu masih sering bersikap seperti remaja. Jangan dulu berharap ada yang datang menawarkan keseriusan, bila kamu juga tidak serius menjalani hidupmu. Jodoh datang di saat yang tepat. Karena Tuhan tahu kapan giliranmu tiba. Bila sekarang doa-doamu belum dijawab, tentu menurut Tuhan, kamu belum siap.

Jodoh tidak bisa diburu-buru. Karena jodoh tak bisa hanya disatukan oleh cinta, tapi juga rasa ‘klik’ meski pendapat tak selalu berjalan. Santai saja, semua ada waktunya. Tak perlu tergesa-gesa, sebab memang butuh waktu untuk menemukan dia yang bisa diajak bekerja sama menyusun rencana dan menjalani masa depan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya