Seperti sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mereka yang menganggap dirinya sudah dewasa justru sebetulnya belum sungguh-sungguh dewasa. Sebaliknya, orang dewasa yang sesungguhnya adalah mereka yang selalu berharap bisa kembali menjadi anak-anak. Di usia yang sudah menginjak 20-an, tak sedikit dari kamu yang bertanya-tanya tentang kedewasaan diri. Gue udah benar-benar dewasa belum ya? Sebuah pertanyaan yang sekilas terlintas dalam benak. Meski tak ada ukuran mutlak yang mampu menakar kedewasaan diri seseorang, setidaknya 8 hal ini membantumu untuk menemukan jawabannya.

1. Kamu masih suka bingung menghadapi sudut pandang yang berbeda darimu. Sehingga dalam sebuah diskusi, kamu sukar untuk menerima pendapat orang lain

Duniamu belum terbuka via unsplash.com

Selama ini kamu mungkin terbiasa bergaul dengan teman-teman yang sepemikiran. Jarang ada benturan pendapat. Sehingga, pada suatu kesempatan kamu dihadapkan pada sebuah diskusi di mana orang-orangnya punya sudut pandang yang berbeda denganmu, kamu kesulitan untuk menerima pendapat mereka.

Kamu hanya belum punya cukup pengalaman untuk menanggapi perbedaan sudut pandang. Jika kamu mengalami hal ini, baiknya perluas pergaulanmu dengan banyak orang yang punya sudut pandang berbeda. Karena dari bertukar pikiran dengan mereka, kamu akan jadi pribadi yang lebih bijak menanggapi perbedaan pendapat.

2. Tanpa disadari, kamu belum cukup kuat untuk menghadapi sebuah masalah, tak ayal kamu lebih banyak mengeluh daripada mencari solusinya

Masih terbiasa mengeluh terlebih dulu via unsplash.com

Advertisement

Kamu masih malas untuk mencari solusi dari masalah yang menghadang. Sehingga mengeluh jadi caramu untuk melampiaskan kebingunganmu. Baiknya kamu kurangi deh kebiasaan mengeluh ini, karena khawatir orang di sekitarmu akan merasa nggak nyaman dengan keluhanmu. Nah, daripada mengeluh, baiknya kamu tanya pendapat teman terdekatmu tentang solusi dari permasalahanmu. Siapa tahu pendapat mereka membantumu dalam menyelesaikan masalah.

3. Belum banyak juga perselisihan yang kamu alami, karenanya kesalahan orang lain tampak membekas dalam. Memaafkan masih merupakan hal yang sulit bagimu

Semua luka masih tampak seperti akhir dunia via unsplash.com

Kamu belum cukup kuat untuk memaafkan kesalahan orang lain. Kadang, kesalahan kecil yang orang lain lakukan pun sukar untuk kamu maklumi. Bukannya kamu terlalu angkuh, kamu hanya belum cukup kuat terluka karena kesalahan orang lain. Tak bisa memaafkan memang bukan kejahatan, tapi apa iya kamu membiarkan dirimu untuk terus menerus menjadi seorang pendendam? Hal tersebut membahayakan, karena bakal bikin hidupmu nggak tenteram. Karenanya, belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Kamu hanya butuh waktu untuk memaafkan, bukan menutup pintu hati selamanya. Maafin ya..

4. Kamu masih memedulikan pandangan orang lain tentangmu, karena masih belum nyaman dengan dirimu yang sebenar-benarnya

Masih harus memakai topeng di depan orang lain via unsplash.com

Tanpa kamu sadari, seringnya tindakanmu masih didasari oleh ketakutan akan pandangan orang lain. Mereka bakal benci gue nggak ya? Jangan-jangan kalau gue jujur tentang dia, nanti gue dibenci lagi. Pertimbangan-pertimbangan seperti itu kerap membayangi benakmu. Contoh nyatanya adalah saat kamu memberi pendapat tentang orang lain, kamu akan memberikan pendapat yang sekiranya bisa membuat dia senang dan merasa tersanjung. Berbeda dengan mereka yang sudah dewasa, yang berani berpendapat sejujur-jujurnya karena tak khawatir dengan reaksi orang lain. Dengan kata lain, mereka yang dewasa, berpendapat semata karena ingin berkata jujur, bukan untuk menyanjung orang lain.

5. Terlalu muda untuk paham bahwa waktu tak akan ada untuk selamanya, terpaku pada masa lalu atau terobsesi pada masa depan. Lupa menikmati saat ini

Dibutakan oleh masa lalu dan masa depan via unsplash.com

Kesedihan di masa lalu atau cita-cita yang belum sempat kamu usahakan, seringnya menjadi batu sandungan untukmu menikmati hidupmu yang sekarang. Kesedihan di masa lalu membuatmu menjadi pribadi yang apatis. Sementara itu mimpi tinggi yang tak berani kamu wujudkan membuatmu menjadi pribadi yang nggak realistis. Sehingga tak salah jika potensi dalam dirimu belum sepenuhnya kamu manfaatkan.

6. Sewaktu kecil kita semua hanya tahu cara menerima kasih sayang dan perlindungan orangtua. Kehilangan dan merelakan adalah insting kedua yang masih harus terus dilatih

Masih belajar merelakan via unsplash.com

Selama ini kamu tergolong pribadi yang sukar berdamai dengan kehilangan. Seperti saat putus cinta, sukar bagimu untuk menerima kenyataan bahwa dia bukan lagi menjadi milikmu. Bukannya posesif, kamu hanya belum cukup kuat untuk terluka. Tak hanya dalam hal hubungan percintaan, dalam hubungan pertemanan pun demikian. Kamu masih memaksakan diri untuk terus bersama dengan teman-teman. Padahal, seiring bertambahnya usia dan menjadinya kesibukan, intensitas kebersamaanmu dengan teman-teman pasti akan berkurang. Namun, itu bukanlah hal yang patut untuk dimasalahkan.

7. Kamu belum merasa cukup jika hanya menjadi pendengar saja, karenanya dalam percakapan kamu lebih senang mendominasi pembicaraan

Masih harus didengarkan via unsplash.com

Pantang bagimu hanya sekadar menjadi pendengar. Mengungkapkan pendapat dalam sebuah forum adalah ajang untukmu menunjukkan jati diri. Bahkan kalau bisa kamu mendominasi pembicaraan. Bukannya angkuh, kamu mungkin hanya tak merasa cukup jika hanya sebagai pendengar. Akan ada saatnya nanti, kamu lebih merasa nyaman dengan hanya menjadi pendengar.

8. Lepas dari zona nyaman, kamu akan bertemu banyak orang baru dengan berbagai latar belakang. Belum bisa memahami dan menghargai keberagaman itu, kamu tak akan menemukan sukses

Tidak bisa menerima perbedaan itu sifat kekanak-kanakan via unsplash.com

Mereka yang sudah dewasa, lebih bisa memaknai perbedaan karakter orang di sekeliling sebagai sebuah keunikan. Perbedaan sudut pandang dan gaya hidup pun dimaknai sebagai sebuah keberagaman. Sementara itu pribadi yang belum dewasa lebih suka memaksakan orang lain untuk menjadi pribadi yang sepemikiran dengannya.

Menjadi dewasa terkadang hanya persoalan waktu. Pada saatnya nanti, pengalaman dan rasa sakit yang pernah kamu alami menjadikanmu pribadi yang lebih bijak dan dewasa.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!