Apakah kau sering merasa gagal dan ingin menyerah?

Seringkah kau menyalahkan keadaan saat hidup terasa berat dijalani?

Atau kau merasa jadi orang paling tak beruntung di muka bumi?

Jika kau masih sering beralasan untuk mengejar mimpi, coba dengar ceritaku ini.

Aku tak ingin dikasihani.

Aku hanya ingin berbagi bahwa kita bisa memilih untuk berjuang — alih-alih meratapi nasib sendiri.

Hai, namaku Kayla. Bolehkah aku sedikit berbagi kisahku? Tidak, aku tidak ingin dikasihani. Aku juga tidak mengharapkan apapun dari kalian. Aku hanya ingin sekadar berbagi, supaya kamu yang saat ini sedang membaca curahan hatiku bisa menjadikan kisahku ini sebagai pijakan. Dan mungkin saja ceritaku ini bisa menjadi pelontar bagi kalian yang sedang berada di titik terendah kehidupan.

Apakah kamu pernah merasa dipercundangi keadaan? Sebelum berontak dan marah pada dunia, maukah kamu duduk di sisiku demi mendengar cerita?

Aku tinggal di North Carolina bersama kedua orangtua serta adik perempuanku. Usiaku menginjak angka 18 di tahun ini. Aku memang gadis yang sangat pemalu. Oleh karena itu Ayah dan Ibu memaksaku untuk terjun ke dunia olahraga sedari aku masih belia. Ya, sedari kecil aku memang sudah aktif sekaligus mencintai dunia olahraga. Bahkan, saat SMP aku bergabung bersama tim sepakbola putri.

Semuanya baik-baik saja, hidupku bahagia dan aku merupakan remaja normal sama seperti kalian. Sampai pada suatu senja di saat usiaku masih 14 tahun semuanya berubah, hidupku kehilangan porosnya seketika. Saat aku sedang menggiring bola di tengah pertandingan, aku terjatuh. Tidak ada yang luar biasa dari jatuhku. Aku sama seperti kalian ketika sedang berlari di lapangan kemudian terjatuh di atas permukaan tanah berumput basah.

Advertisement

Namun, sedetik kemudian aku merasa ada yang berbeda, kedua kakiku terasa aneh. Rasa geli mulai merambati dan membuatnya mendadak mati rasa. Aku ingat bagaimana perasaanku saat itu, aku panik luar biasa. Aku tidak tahu apa yang salah pada tubuhku. Kemudian, Ayah dan Ibu membawaku ke rumah sakit untuk menjalani tes kesehatan demi menemukan jawaban.

Penyakit Multiple Sclerosis menggerogoti mimpiku. Sama seperti kamu, aku pun sempat putus asa dan ingin berhenti berusaha saja saat itu

Penyakit MS mengubah hidupku seketika via gyanlab.com

Oktober 2010, dokter akhirnya mendiagnosis penyakitku. Di hari itu, aku mendapat kejutan dari Sang Maha Pencipta. Aku mengidap penyakit Multiple Sclerosis atau yang biasa disebut MS. Penyakit ini menyerang sistem syaraf pusat. Hal ini mengakibatkan otakku tidak dapat menerima dengan baik pesan-pesan yang dikirimkan oleh tubuhku. Aku akan mengalami kehilangan kendali otot (berjalan atau berbicara) serta mati rasa. Dan, ya, penyakit ini tidak ada obatnya. Luar biasa ‘kan kejutan yang aku terima di usia remaja?

Saat itu aku merasa limbung, rasanya seperti terjatuh di dalam sebuah lubang hitam besar menganga. Tubuh ini rasanya babak belur, terutama hatiku. Luluh lantak dibuatnya, semangatku padam saat itu juga. Aku mengurung diri di kamar dan tak membiarkan seorang pun mendekatiku. Aku meratapi nasib dan menangis sejadinya. ‘Kenapa harus aku? Apa salahku?’ Itulah pertanyaan yang selalu berdengung di dalam lingkar kepalaku. Yang belum aku tahu, perjalanan meniti hidup memang memiliki banyak lubang. Dan sekarang aku sedang terperosok di salah satunya.

Namun, kita sebagai manusia selalu memiliki dua pilihan, bukan? Diam saja di dalam lubang, berpasrah serta meratapi keadaan. Atau berusaha merangkak ke luar dan kembali meniti rute jalan menuju impian meski dengan tertatih.

Dengan kepingan semangat yang masih tersisa, aku memilih opsi nomor dua demi bisa menatap hidup ke depannya.

Kecewa, takut, dan pesimis bisa mengejar mimpi bercampur jadi satu. Tapi ketahuilah, tidak ada yang lebih terhormat dari menolak menyerah dan memilih berjuang sampai lelah

kamu harus berusaha sampai titik habis daya via www.huffingtonpost.com

Mengidap penyakit ini di usia remaja tidaklah mudah. Aku harus gigit jari saat melihat teman-temanku dengan gembira bermain dengan buih ombak di pantai saat musim panas tiba. Atau bahkan hanya mampu melempar tatapan iri sekaligus memuja ketika mereka sedang asyik-asyiknya bermain lempar tangkap bola. Ah, aku benar-benar rindu masa itu, masa ketika aku bisa dengan lincahnya berlari kesana kemari. Namun aku bisa apa, kakiku ini enggan diajak bekerjasama. Ya, sejak kejadian jatuhnya aku di lapangan sepakbola, aku masih belum mampu merasakan dan menggerakan kakiku 8 bulan lamanya.

Walaupun kemudian aku bisa berjalan lagi seperti biasa, aku harus memutuskan untuk keluar dari tim sepakbola. Penyakit ini akan datang kembali sehingga aku harus meminimalisir olahraga fisik supaya tidak memperparah kondisinya. Setelah keluar dari tim sepakbola putri, aku memutuskan untuk bergabung dengan klub lari. Aku jatuh cinta pada olahraga ini. Lari membuatku selalu terpacu untuk maju dan garis finish di depan sana mengingatkanku bahwa aku harus terus melaju menyongsong masa depan.

Ya, mulai detik itu kutetapkan bahwa menjadi pelari profesional dan mencetak rekor adalah mimpiku. Apapun akan kulakukan demi bisa mencapainya. Ah, tahukah kamu, hidup jadi terasa lebih terarah ketika kamu memiliki mimpi? Seketika kamu akan memahami kemana tujuan kakimu melangkah.

Penyakit yang kuidap juga bukan merupakan suatu halangan, aku percaya keterbatasan yang aku miliki jika diramu dengan semangat yang menggebu akan membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Dan, bagaimana denganmu? Apakah kamu yang memiliki kesehatan raga juga giat berusaha? Atau justru masih malas-malasan saja?

Dari semua perjalanan ini, satu hal yang ingin kubagi pada kalian. Hidup yang berarti ternyata adalah hidup yang diperjuangkan. Percayalah, kau dan aku dibekali kekuatan untuk mampu mengalahkan keadaan

Kayla Montgomery via www.pinterest.com

Bermimpi menjadi seorang atlit lari dan bisa memecahkan rekor membuatku harus berusaha setengah mati. Ya, aku merupakan pelari yang tergolong lambat, didukung dengan penyakit yang kuidap membuat kesulitannya jadi makin berlipat. Aku harus meluangkan banyak waktu untuk latihan berlari setiap minggunya. Bahkan, aku harus mendorong diriku untuk terus maju, memaksa ragaku hingga ambang batas kemampuanku. Aku selalu berkeyakinan bahwa kerja kerasku akan terbayar lunas suatu saat nanti.

Memang mimpiku ini memiliki konsekuensi, namun bukankah segala yang kita pilih memiliki resikonya sendiri? Jadi, apa yang perlu ditakuti? Tinggal tergantung dari seberapa besari nyalimu, beranikah kamu menghadapinya? Anggap saja resiko yang akan kamu terima merupakan rintangan yang sekali dua kali akan kamu temui dalam perjalanan menggapai mimpi.

Ya, mimpiku ini memiliki resiko karena penyakit yang aku idap. Ketika suhu tubuhku meninggi karena berlari, aku tidak akan bisa merasakan kakiku lagi. Aneh memang rasanya, aku seperti melayang, bahkan aku juga tidak bisa mengukur seberapa cepat aku berlari karena aku tidak merasakan pergerakan apapun di bawah sana. Tidak hanya itu saja, saat aku berlari melintasi lintasan terakhir menuju garis finish, aku akan ambruk dan terkapar karena kakiku tak bisa lagi menopang beban tubuhku. Untungnya selalu ada pak pelatih yang setia mendampingiku selama latihan hingga aku berlaga di pertandingan.

Ah, maafkan aku pak, karena selalu merepotkanmu. Di saat para pelatih dari pelari lain akan menyemangati sambil duduk nyaman di bangku penonton, pelatihku harus selalu bersiaga di garis akhir. Ya, beliau akan memasang badan untuk menangkapku kala kakiku ini tak kuat lagi menopang tubuhku. Beliau juga dengan sigap akan berlari membopongku ke tepi lapangan dan segera menyiramkan es di sekujur tubuhku supaya suhu badanku kembali normal dan aku bisa lagi merasakan di mana kakiku berada.

Akhirnya keputusan berani serta kerja kerasku tidak sia-sia. Aku berhasil menyabet juara pertama pada perlombaan lari putri jarak jauh. Coba kalian tebak bagaimana rasanya ketika semua mimpi dan kerja keras terbayar lunas? Ya, puas dan bangga luar biasa. Jadi, masihkah kalian menyangsikan kekuatan dari semangat yang berkobar di dalam diri?

Jika kalian memang ingin berhasil di dalam kehidupan, berjanjilah pada diri kalian sendiri untuk terus berusaha dan jangan membiarkan keadaan mengalahkan kalian. Bahkan, hal buruk yang datang bersua bisa kalian gubah menjadi pelecut yang akan mendorong kalian menggapai mimpi jika memang kalian mengamininya.

Semoga curahan hatiku yang sederhana ini bisa memantik semangat yang ada di dalam diri kalian ya. 🙂

Salam hangat dariku,

Kayla Montgomery