Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hidup kita sebagai makhluk sosial terdistraksi teknologi. Definisi sosial kini makin luas. Terutama semenjak teknologi internet makin mudah untuk ditemui di pelosok dunia. Dari kampung sampai kota, sudah tak terhitung manusia yang menjadikan gawai (Bahasa Indonesia dari gadget) untuk berkomunikasi sebagai kebutuhan. Kebutuhan yang tak sekadar tersier atau sekunder lagi, tapi primer bahkan sebuah keharusan.

Satu hal yang pasti dalam lahir dan eksisnya perubahan adalah munculnya dua sisi: baik dan buruk. Sisi baiknya, banyak pekerjaanmu meman bisa jadi lebih mudah untuk digarap. Lalu, kamu bisa dengan sangat mudah berinteraksi dengan orang lain — meskipun lintas benua. Namun, kelebihan-kelebihan yang diagungkan itulah yang membuat kita lupa kalau kemajuan zaman juga melahirkan sisi buruk, terutama ihwal manusia sebagai makhluk sosial.

Mau teknologi secanggih apapun, tak ada yang bisa gantikan kekayaan komunikasi lewat tatapan mata. Bahaya juga kalau sekarang manusia lebih terbiasa nunduk ke layar, daripada ngobrol dengan teman sebelah

Banyak yang tak bisa tertangkap kamera via unsplash.com

Ada ratusan bahkan ribuan teman yang kamu punya di media sosial, bukan? Kalau tak percaya, Hipwee mau minta waktu kamu buat cek sendiri jumlah temanmu di media sosial. Bisa sampai minimal ratusan kan? Namun yang harus diri sendiri kritisi adalah seberapa sering kamu berinteraksi dengan mereka? Seberapa kenal kamu dengan dia?

Pun komunikasi terjadi lewat dunia maya, kualitas komunikasi takkan bisa seberkualitas komunikasi secara riil. Seorang pakar media sosial, John Pavlovitz, mengatakan komunikasi lewat media sosial sebagai metode terendah dalam kasta komunikasi. Saling berinteraksi di media sosial bahkan lebih sering mengundang perdebatan karena apa yang kita sampaikan kadang mendapat multitafsir dari sang penerima pesan. Nggak ada kemampuan untuk mengetahui secara jelas apa yang dikatakan. Sebab kita tak tahu persis bagaimana intonasi penyampaian pesan, mimik wajah atau sampai tinggi rendahnya pesan.

Advertisement

Berteman di era media sosial ini memang jadi semudah memencet tombol. Tapi pastikan saja daftar friends-mu bukan sekadar pajangan online dalam hidupmu yang sebenarnya sepi

Ironi masa kini. Banyak friends, hidup tetap sepi via unsplash.com

Apakah ada di antara kamu yang bisa merasakan kehangatan dari sebuah hubungan pertemanan atau persahabatan yang secara maya? Rasanya sulit deh. Meskipun kini berkumpul bersama bukan lagi jadi sebuah keutamaan, tapi bukankah kita selalu merindukan untuk bisa benar-benar berkumpul secara nyata dengan teman-teman? Kita bisa saling merasakan sentuhan, kontak mata, berbagi cerita canda dan tawa, bahkan hingga duka.

Sekarang, ketika kamu benar-benar terbelenggu oleh hal-hal yang maya, meskipun jumlah teman-teman pada tabel friend list media sosialmu sangat banyak, kamu malah sering merasa kesepian sendiri. Berinteraksi di media sosial memang bisa bikin kamu lupa waktu, tapi sesekali, kamu pasti akan merasakan kesepian yang sulit untuk dibendung. Kamu merasa tidak punya siapa-siapa.

Bentuk apreasiasi dan persetujuan pun sekarang lebih sering dinilai dalam jumlah love atau like. Jangan terlena dengan pujian online yang tak bisa kamu nilai sendiri tulus atau tidaknya

Kebahagiaan online itu harus di cek dan ricek di kehidupan nyata via unsplash.com

Apa yang kita temukan di media sosial saat ini adalah orang-orang berlomba-lomba mendapatkan like dan love untuk setiap momen yang mereka posting. Media sosial bukan hanya jadi tempat berpendapat, berbagi informasi atau berbagi hiburan lagi, melainkan jadi media untuk berbagi kebahagiaan yang sedikit-banyak terindikasi pamer diri.

Banyak orang bahkan bilang bisa mendapatkan kebahagiaan ketika ada notifikasi yang berisi orang lain menyukai apa yang dia postingan di gawainya. Kalau ada yang bisa sangat mudah mendapatkan kebahagiaan dengan cara itu, sungguh malang sekali generasi kita. Standar bahagiannya rendah sekali. Padahal banyak sekali kebahagiaan yang bisa seseorang dapat ketika menjauhkan gawai dari tangannya. Buktinya, manusia pra sejarah bisa dengan mudah bahagia hanya dengan mengejar-ngejar buruannya secara berkelompok.

Atau mungkin malah kamu sendiri yang sering memberikan love dan like pada sebuah postingan? Rasa kemanusiaanmu hanya terhenti pada tahap simpati, bukan empati

Percaya atau tidak, dunia maya membuat kita kehilangan rasa untuk berempati. Sikap kita biasanya hanya berhenti pada tahap simpati. Dengan cara apa? Nggak lain dan nggak bukan lewat menekan tombol love dan like. Contohnya: bukankah kita sering sekali memberikan like pada sebuah postingan seseorang yang mengabarkan adanya ketidakberesan?

Liking isn t helping. Be a volunteer. Change a life. Begitulah kampanye kemanusiaan yang pernah diciptakan Crisis Relief Singapore. Menekan tombol like atau love pada Facebook, Twitter atau Instagram nggak akan membantu orang yang kesusahan dalam postingan tersebut menyelesaikan masalah. Lebih baik kita ikut turun dan membantu mereka yang malang dengan sebuah tindakan yang nyata. Like atau love di media sosial nggak cukup membantu.

Terlebih lagi ketika media sosial jadi distraksi yang mengurangi keintimanmu dengan orang-orang terkasih. Beneran deh walaupun mendekatkan yang jauh, parahnya justru menjauhkan yang dekat

Padahal orang yang cinta sama kamu ada di samping via www.playcast.ru

Sudah berapa kali kamu mengacuhkan seseorang hanya karena memilih bermain-main dengan gawai? Dibanding menikmati waktu berkualitas dengan orang yang kamu cintai, kamu memilih ingin terlibat dalam riuh ramai yang terjadi secara maya. Semua indera yang ada kaku dan hanya terpaku pada hal yang hanya dikendalikan oleh ujung jemari.

Apa arti cinta jika mengacuhkan pasanganmu yang berbicara hanya karena sesuatu yang maya dalam gadgetmu? Padahal bukankah lebih mengasyikan ketika kita memandang warna mata orang yang kita cintai, melihat senyumnya, hingga mendengar suara tawanya? Apalah arti ukuran kehidupan interaksi yang berkualitas di media sosial dibanding dengan kehidupan di dunia nyata.

Coba kita renungkan sekali lagi. Secara nyata kita kini sedang dijajah oleh sesuatu yang maya. Kita diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri. Kita lupa kalau kita adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup secara maya. Teknologi membuat kita lupa cara untuk hidup berdampingan dengan sesama manusia seutuhnya.

Bukannya Hipwee mengajak kamu menolak kemajuan zaman, tapi ada baiknya kita lebih bijak lagi dalam menyikapi teknologi yang progresif. Akan ada masa di mana kamu akhirnya menyadari: geliatmu untuk tampil eksis di dunia yang maya adalah hal yang tak begitu berarti. Pasti ada masanya.