Hari bertambah hari menyambut pekan dan bulan, sampai akhirnya menginjak usia tahunan. Grup WA keluarga bagiku semakin menjenuhkan. Kalian, keluargaku tercinta yang kini erat berpegangan di seutas kuota internet, dengarkan curhatanku tentang kalian ini. Grup WA keluarga yang paman buat setahun yang lalu kukira akan menemukan keasyikan dengan obrolan hangat, berbagi informasi penting dan saranaku menghimpun dukungan. Nyatanya semua telah berubah. Bahkan baru sebulan berdiri, kalian mulai menyakitiku dengan beruntai-untai kalimat.

Aku sayang kalian sejak dari masih kecil. Aku sayang ke semua sepupuku yang lucu-lucu. Tapi kenapa semua berubah jadi menjenuhkan sejak grup WA keluarga ini dibuat. Semoga ini hanya perasaanku yang sedang kacau saja, semoga ini hanya luapan mood burukku saja, semoga hanya aku yang bermasalah. Beberapa hari terakhir aku rasakan kekesalan karena niat baik kalian di grup WA keluarga. Aku lantas berpikir untuk menyudahinya saja, keluar dari grup WA dengan alasan pasti. Mungkin, kalian perlu tahu alasanku kenapa aku ingin keluar, dengarlah curahan hatiku ini! Aku mengadu… .

1. Aku lelah setiap kali lebaran tiba kalian menanyakan kapan aku akan menikah, sungguh itu menyakitkan hatiku yang kosong ini

Aku pasti menikah… via unsplash.com

Iya, aku akan menikah. Suatu saat nanti kalau jodoh datang, sewaktu keuangan aman dan nyaman pasti aku akan menikah. Jangan terlampau mengingatkan aku akan hal ini, tak mungkin aku lupa. Jangan juga mengatur jodohku, lihat aku di sini juga berusaha mencari pasangan yang terbaik, yang penuh cinta. Percayalah… .

2. Dengarkan baik-baik, masalah pekerjaan dan keuangan sudah kupikirkan sungguh-sungguh. Jangan terlalu membelengguku harus daftar ini melamar itu

Harusnya kalian tahu hal ini. via unsplash.com

Advertisement

Aku lulus dengan sebuah kebanggaan kepada bapak ibuku yang mampu merawat dan membiayai semua kebutuhanku. Pekerjaan yang akan kujalani pasti sudah kuperhitungkan, seberapa baiknya untuk kebanggan orang tuaku juga. Jadi paman dan pakde tak perlu khawatir berlebih dan mengarahkanku kepada pekerjaan yang menjenuhkan aku.

3. Aku merasa kesal jika kalian terus bandingkan nasibku dan nasib sepupuku itu. Aku percaya Tuhan sudah menakar dengan adil rezeki masing-masing manusia

Semua sudah ada yang mengatur. via unsplash.com

Dengan pasti, aku sudah tahu dan paham bahwa rezeki akan datang bagi mereka yang berusaha dan bersabar. Oleh karena itu, jika nasib baik menghampiri saudaraku atau sepupuku jangan lantas kalian bandingkan denganku yang masih mencoba bersabar. Jangan dipukul rata dalam sekali waktu begini, Tuhan adil kepada manusia-manusia.

4. Sumpah, cerita-cerita garing yang kalian anggap lucu itu sama sekali tak bisa menghiburku. Tapi kenapa ada saja yang balas “hahaha”!? Itu menjenuhkan

Kurang lucu. via unsplash.com

Kalian pernah bagikan sebuah cerita yang kalian anggap lucu, misal si Mukidi itu. Tapi, terus terang cerita-cerita semacam itu sekarang terlalu membosankan, membuat jenuh. Aku kesusahan menyelami kelucuannya, tapi di antara kalian masih saja ada yang membalasnya dengan “hahaha”. Kalian yakin?

5. Meme jadul yang kalian bagikan sudah kelewat basi, belum lagi kualitas gambar yang kebanyakan resolusinya rendah. ‘Kan nggak kebaca!

Kualitas gambar yang kadang terlampau buruk… . Sebel… via unsplash.com

Meme jadul yang kalian bagikan di grup WA keluarga ini sebenarnya lucu dan mengundang gelak tawa, paling tidak selama 5 detik. Sungguh disayangkan kualitas gambar yang kadang terlampau kejam, resolusi rendah dan memaksaku untuk memperbesar tampilan gambar, ini menjenuhkan.

6. Aku juga lelah setiap kali harus meluruskan berita hoax yang kalian bagikan, kalian harusnya verifikasi dulu lewat portal berita terpercaya

Kalian pasti paham berita yang jelas sumbernya. Tapi kenapa masih saja begini… via unsplash.com

Mungkin ada miliaran berita dan artikel-artikel penting tersebar di dunia maya. Beberapa di antaranya menarik untuk dibagikan, tapi kenapa dari sekian banyak berita penting masih saja ada yang bagikan tulisan hoax dan tak tentu kejelasannya. Mari sama-sama kita benahi ini.

7. Ini yang paling aku benci dari grup WA ini, acap kali ada saja yang bagikan konten-konten yang mengumbar kebencian. Aku muak!

Perdebatan yang membuang waktu untuk berbagi kehangatan. via unsplash.com

Siapa yang perlu disalahkan jika di antara kalian sudah termakan berita politik yang penuh tipu muslihat? Kadang dengan polosnya kalian bagikan artikel yang memojokkan figur publik yang tentu belum pasti kebenarannya. Bahkan kita harus berdebat membela si ini dan si itu. Tolong, semua berita politik baiknya disikapi sebagai sebuah fenomena, kadang membela seorang tokoh malah bikin masalah serius di grup WA keluarga. Sudahilah saudaraku… .

Harapanku semoga semua cepat berubah, hal-hal yang negatif dan menyakitkan hati semoga berubah jadi mata air kebahagiaan bagiku dan kalian semua. Sebenarnya bukan berarti kalian salah, tapi aku menyayangkan sikap kalian yang kadang memaksakan kehendak. Aku dan kalian sama-sama paham bahwa grup WA yang paman ciptakan bukan tempat untuk saling mendiskriminasi satu sama lain. Semoga semua berubah jadi lebih baik, aku nantikan semua kebaikan itu sehingga grup WA keluarga semakin mendekatkan kita dan menciptakan suasana harmoni tiada tara. Sayang kalian semua :*

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya