“There’s no place like home”

Rumah. Satu kata yang maknanya sama sekali tak sederhana. Bukan sekadar tempat tinggal atau tempatmu dibesarkan. Tapi di sanalah cerita perjalanan hidupmu dimulai, dan di sana pula kelak cerita itu akan menemui akhirnya.

Saat ini, kamu mungkin sedang berada jauh dari rumahmu. Kuliah di luar kota, bekerja di negara berbeda, atau tinggal di benua lainnya. Jarak yang kini membentang jelas tak bisa dijangkau dalam sekejap mata. Demi bisa pulang ke rumah, kamu harus berkompromi dengan waktu dan isi kocekmu.

Tapi bukankah menunggu sambil merindu adalah momen yang paling menyenangkan? Karena ketika kelak rindu itu dituntaskan, bahagia yang kamu rasakan tak lagi bisa diungkapkan. Sudahkah kamu rindu dengan rumahmu, sekarang?

Bicara soal rumah membuat kenanganmu terbang pada sepetak bangunan sederhana. Tempatmu tumbuh dan menerima cinta yang hangat dari keluarga

rumah adalah tempat kumpul dengan keluarga via www.kaosdhikr.com

Advertisement

Sebelum merasakan tinggal jauh dari rumah, mungkin kamu melihatnya sekadar bangunan biasa. Ya, rumah adalah sebuah bangunan yang fungsinya sebagai tempat tinggal. Yang melindungimu dari derasnya hujan atau terik matahari seharian. Rumah yang membuatmu merasa aman dan bisa tidur dengan nyaman. Rumah pula tempatmu bertemu orang tua, kakak, atau adik – mengakrabi hari-hari dengan mereka sebagai satu keluarga.

Tapi, senyaman apapun sebuah rumah, ia pun tak pernah luput dari cela. Dianggap kurang luas, bangunannya sudah terlalu kuno, sering bocor di sana-sini, hingga satu-satunya yang dibutuhkan adalah renovasi. Selain itu, momen kebersamaan dengan keluarga pun tak melulu bahagia. Ada kalanya, hawa di rumahmu terasa terlalu panas sehingga tak ada pilihan selain keluar mencari udara segar. Ayah dan ibumu mungkin sedang bertengkar atau adikmu sedang jadi makhluk paling menyebalkan. Ah, bukankah hal-hal semacam ini wajar saja dirasakan?

Dialah yang menyimpan kenangan tentang cerita masa kecilmu. Tembok yang penuh coretan crayonmu hingga lantainya yang jadi saksi langkah kaki pertamamu.

tembok rumahmu jadi papan tulis dadakan via adiskaputri.abatasa.co.id

Jika rumahmu bisa bicara, mungkin dia akan detail bercerita. Betapa tembok-temboknya tak pernah keberatan jadi papan tulis dadakan. Tempatmu belajar menggambar atau membuat garis warna-warni sekenanya dengan crayon saat masih balita. Meski sekarang tak ada lagi bekasnya lantaran sudah dicat ulang berkali-kali, toh kenangan ini pasti masih baik-baik kamu simpan dalam ingatan.

Lantai-lantainya pula yang merasakan perjuanganmu saat masih belajar berjalan. Menjajal untuk melangkahkan kaki meski dengan susah payah. Walaupun seringkali terjatuh, kamu yang masih balita tetap bisa tersenyum lucu lalu bangkit dan mencoba langkah yang berikutnya. Segala cerita dan kenangan di masa lalu memang akan terekam baik-baik di setiap sisi dan sudut-sudut rumahmu.

Dia pula yang jadi saksi gejolak masa remajamu. Bertengkar dengan orangtua, putus cinta, sampai kini menjelma jadi manusia dewasa

rumah saksi perubahan dalam hidupmu via www.chasingadventure.net

Rumah dan keluarga adalah tempatmu belajar sebelum keluar dan menjejak dunia yang sebenarnya. Selain belajar berjalan atau menggambar, di rumah pula kamu diajarkan tentang agama dan bagaimana selayaknya bersikap pada orang yang lebih tua. Ibaratnya, rumah jadi tempatmu menempa diri sehingga dunia yang sebenarnya bisa kamu hadapi dengan lebih mawas diri.

Ya, rumah itu saksi bisu pertumbuhanmu sebagai seorang individu. Betapa dulu saat masih kanak-kanak kamu jadi anak kesayangan karena selalu rajin belajar. Bagaimana kamu yang menginjak usia remaja dianggap predikat nakal karena hampir setiap hari selalu bertengkar dengan kedua orang tuamu. Rumah lah yang merekam cerita tentang segala perubahan dalam hidupmu.

Berat rasanya meninggalkan rumah dan segala kenangannya. Tapi atas nama mimpi dan cita-cita, langkah kakimu harus mantap dan penuh rasa percaya

akan tiba saat kamu harus meninggalkan rumahmu via travelersdaily.com

Jelek atau bagus, sempit atau luas, terawat atau tidak – rumah tetaplah rumah. Berpikir untuk pergi dan hidup jauh dari rumah mungkin hanya muncul sekali-kali. Tak pernah terpikir olehmu bahwa kelak kamu akan benar-benar mewujudkan hal itu. Tapi dengan tekad bulat untuk segera meraih cita-cita dan mimpi, langkahmu untuk pergi dan merantau terasa lebih ringan dijalani. Kamu pun percaya bahwa pergi selalu sepaket dengan kemungkinan untuk pulang kembali.

“Home is a place you grow up wanting to leave, and grow old wanting to get back to.”

Hidup sendiri di perantauan membuatmu sadar. Hari buruk di rumah tetap terasa jauh lebih hangat dari kesendirianmu di tanah orang. Kamu rindu — pulang

hidup sendiri jauh dari rumah via mahdiyamira21.blogspot.com

Rumah adalah tempat yang nyaman karena segala yang kamu butuhkan sudah tersedia. Berbeda ketika akhirnya hidup sendiri di perantauan, apa-apa yang kamu butuhkan harus diusahakan sendiri. Selain itu, kamu tak pernah merasa sepi atau benar-benar sendiri saat di rumah. Meski rumahmu kosong karena ditinggal penghuninya beraktivitas di luar rumah, mereka tetap akan pulang ketika menjelang sore hari.

Sementara, tinggal sendiri berarti benar-benar sendiri. Tak ada ayah atau ibu yang menungguimu pulang, atau mereka yang bisa kamu tunggu-tunggu kedatangannya. Rumah dan perantauan jelas tak bisa dibandingkan. Rasanya, tak ada alasan untuk tak merindukan rumah dan segala sisi kehidupan di sana.

Berkelebat wajah keluargamu satu persatu. Ketika harus tinggal berjauhan, merekalah yang nyatanya paling kamu rindu

apa kabar orang tuamu di sana? via agastya.wordpress.com

Ketika ingat tentang rumah atau sedang meremang karena rindu pulang, wajah-wajah keluarga lah yang akan berkelebat dalam lamunanmu. Ada ayah dan ibumu yang keriput di wajahnya mungkin sudah bertambah banyak tanpa kamu tahu. Sementara, adikmu yang terakhir kali terlihat masih imut-imut mungkin sekarang sudah bertambah tinggi dan tumbuh besar. Meski tak bisa dekat dengan mereka, setidaknya kamu tetap bahagia. Kamu beruntung karena masih punya keluarga karena setidaknya kamu tahu kemana harus pulang.

Makanan restoran perlahan terasa membosankan. Kamu cuma ingin tumis dan gorengan sederhana yang biasa ibumu siapkan di meja makan

makan bareng keluarga via lifestyle.kompasiana.com

Kebersamaan dengan mereka memang tak pernah terasa biasa. Makan bersama di satu meja makan dengan keluarga jelas jadi momen yang istimewa. Bisa makan sambil berbagi cerita tentang segala hal adalah sebuah kemewahan. Sesekali kamu bisa tertawa lepas, entah saat mendengar cerita lucu atau karena kelakuan konyol adikmu. Makan bukan lagi perkara apa yang di makan, tapi dengan siapa kamu menyantap makanannya.

Ketika banyak pikiran dan sakit flu, rasanya makin menjadi segala dengung rindu. Rumah dan usapan hangat ibu jadi satu-satunya tempat yang ingin kamu tuju

saat sakit kamu akan semakin rindu rumah via www.beyondthecoupon.com

Sakit memang tak menyenangkan. Tapi yang lebih tak kamu harapkan adalah jatuh sakit saat sedang sendirian perantauan. Betapa kamu harus berjuang untuk sekadar bangun dari tempat tidur dan keluar kamar kos demi bisa membeli makanan atau obat. Meski tubuhmu rasanya tak kuat, tak ada pilihan lain karena diam justru membuat keadaanmu semakin parah.

Tapi bayangkan apa yang terjadi jika kamu sakit di rumah? Ada ibu yang akan bolak-balik ke kamarmu. Memeriksa apakah kompres di kepalamu harus di ganti, menyuapimu bubur yang senagaja dia buat sendiri, dan memastikan bahwa semua obat sudah kamu minum. Sama halnya saat sedang dilanda masalah, rumah lah satu-satunya tempat yang terasa menenangkan. Karena di sana ada keluarga yang bisa diajak berbagi keluh kesah dan siap membantumu menemukan solusinya.

Kekasih dan teman memang bisa membuatmu merasa tak sendirian. Tapi hanya pada keluargalah akan kau temukan balasan cinta yang benar-benar sepadan

keluarga yang membalas rindumu dengan sepadan via klikkanan.deviantart.com

Punya keluarga yang bisa dirindukan adalah sebuah keberuntungan. Karena mereka tak pernah mengecewakan, mereka yang pasti membalas rindumu dengan sepadan. Buktinya, ayah atau ibu adalah yang paling rajin meneleponmu. Sekadar menanyakan kabar atau meyakinkan bahwa kuliah atau pekerjaan yang kamu jalani berjalan lancar. Mereka juga bisa dengan polosnya bertanya; “kapan pulang? Belum dapat libur, ya?”. Tanpa perlu ditanya, seandainya bisa kamu juga ingin sering-sering pulang ke rumah.

Demi melunasi rindu pada rumah, mengantre berjam-jam hingga membobol uang tabungan tak akan jadi masalah

rela mengantre demi tiket pulang via e-tvberita.com

Bagi kamu yang tinggal di perantauan, pulang adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Rasanya, tak ada alasan yang membuatmu enggan atau malas pulang ke rumah. Bahkan segala usaha sengaja kamu lakukan demi bisa sejenak menengok rumah untuk menuntaskan rindumu.

Tabungan sudah kamu persiapkan ketika niatmu pulang di Hari Raya tak lagi bisa ditawar. Harga tiket yang pasti naik pun sudah baik-baik kamu antisipasi. Loket-loket dengan antrian yang mengular juga sudah siap kamu hadapi. Satu-satunya yang menguatkanmu adalah rasa rindu pada rumah yang sudah lama tertahan.

Melihat mereka yang menungguimu di teras rumah adalah momen paling indah. Tak lagi bisa berkata-kata ketika pulangmu disambut pelukan hangat dan senyum yang merekah

pulang adalah saat yang paling dinantikan via fikrifikri.wordpress.com

Pulang adalah saat yang paling kamu nantikan. Dan salah satu momen yang paling kamu rindukan adalah sambutan keluarga. Ya, mereka yang sengaja duduk-duduk di teras rumah di hari kedatanganmu. Melihatmu membuka pintu gerbang, mereka terlihat girang dan segera menyambutmu dengan pelukan. Begitu masuk ke dalam rumah, beberapa menu dan camilan sudah terhidang di meja makan. Mereka tahu, keduanya bisa jadi obat paling mujarab menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan panjang.

Sejauh apapun kaki melangkah, rumah dan keluarga akan membuatmu tetap menjejak tanah. Tunggu aku di rumah, tabungan rindu ini sudah makin membuncah

tak ada tempat sehangat rumah via teen488.blogspot.com

Pendidikan atau pekerjaan yang kamu tekuni mungkin jadi satu-satunya alasan yang membuatmu ikhlas tinggal jauh dari rumah dan keluarga. Tapi tak apa, anggap saja kamu sedang berjuang demi masa depan yang kelak bisa dibanggakan. Mungkin, kamu hanya harus menunggu waktu yang paling tepat untuk kembali pulang dan menikmati waktumu bersama keluarga di rumah.

“A man travels the world over in search of what he needs, and returns home to find it.”

Apa kabarmu yang saat ini tinggal jauh dari rumah? Sudahkah rindumu membuncah mengingat tempat tinggal yang lama tak dijamah?