Di sebuah samudera, dua ikan muda berenang seperti biasa. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seekor ikan yang lebih tua. Ikan tua ini menyapa dengan ceria: “Pagi, Nak! Hari ini airnya hangat, ya?” Dua ikan muda tersebut cuek saja. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka menatap yang lain dan bertanya: “Air itu apa sih?”

“Karena kenyataan hidup yang paling penting dan sederhana seringkali terlewatkan oleh kita.”

Anekdot di atas adalah pembuka “This is Water”, pidato dari novelis Amerika David Foster Wallace — yang meledak di internet setelah kematian tragis Wallace di tahun 2008.

Hipwee akan menyajikan bagian-bagian paling penting dari “This is Water” disini. Semoga bisa menjadi sesuatu yang akan kamu pikirkan lagi dan lagi.

David Foster Wallace: “Saya bukan ikan tua yang bijak, dan kamu bukan ikan muda yang tak tahu apa-apa. Niat saya menceritakan kisah di atas adalah menyampaikan bahwa kenyataan hidup yang paling penting dan sederhana seringkali terlewatkan oleh kita.

Advertisement

Kenapa? Karena kita tak otomatis lahir dengan kepedulian pada lingkungan sekitar. Kita di-setting untuk selalu memikirkan diri sendiri. Bayangkan betapa mudahnya menjadi egois! Dari seluruh pengalaman hidupmu selama ini, kamulah – bukan orang lain – tokoh utamanya. Duniamu ada di depan KAMU, atau di belakang KAMU, atau di kanan dan kiri KAMU, atau di layar HP maupun laptop KAMU.

Perasaan dan pikiran orang lain harus disampaikan padamu melalui tulisan atau obrolan yang melelahkan. Perasaan dan pikiranmu sendiri terasa begitu “langsung”, begitu mudah dimengerti, begitu alami, begitu penting, begitu benar.

Semakin pandai kita, semakin besar resiko kita untuk terjebak dengan pemikiran-pemikiran egois. Kita akan mudah overthinking. Overworrying. Nanti kalau SAYA begini bagaimana, nanti kalau SAYA begitu bagaimana — sampai-sampai kita tak sempat memperhatikan hal-hal di sekeliling kita. Kita tidak mampu mengontrol apa-apa yang terjadi di kepala kita.

Padahal, kunci dari hidup bahagia adalah berusaha agar tak menjadi budak dari pikiran dan perasaan kita sendiri.

Klise, memang, saya tahu. Tapi seperti hal-hal klise yang lain, di balik kata-kata yang membosankan tersimpan kebenaran yang mengerikan. Memangnya kamu pikir cuma kebetulan kalau orang-orang yang bunuh diri dengan pistol akan menembakkan pistol itu ke kepala mereka?

Itu adalah cara mereka mengambil kontrol. Itu cara mereka meneriakkan, ‘Aku sudah tak tahan!’

Mau tahu kebenaran mengerikan yang lainnya? Sebenarnya orang-orang itu sudah mati lama sebelum mereka menarik pelatuknya.

“Kita di-setting untuk selalu berpikir tentang diri sendiri.”

“Kalau kamu merasa contoh di atas terlalu berlebihan, mari bayangkan hal berikut. Kamu sedang menjalani harimu seperti biasa. Kamu bangun subuh-subuh, mandi, berlomba-lomba pergi ke kantor. Di kantor, kamu bergulat dengan pekerjaan yang luar biasa berat. Sebegitunya kamu banting tulang, sampai sore harinya yang tersisa darimu cuma rasa capek dan keinginan untuk cepat-cepat pulang.

Begitu sampai rumah, kamu baru ingat kalau kamu belum belanja bulanan. Semua gara-gara kamu terlalu sibuk kerja. Kamu terpaksa harus keluar lagi dan tancap gas ke supermarket. Sayangnya, di jalanan kamu harus ketemu macet karena itulah saat dimana semua orang seperti kamu pulang dari kantor.

Di belakangmu ada bapak-bapak pengemudi SUV yang dari tadi nggak berhenti-berhenti nglakson, sementara kamu maju satu sentimeter pun nggak bisa. Kamu kesal luar biasa.”

“Kamu capek dan cuma ingin cepat-cepat pulang. Sayangnya, kamu lupa belanja bulanan untuk makan malam. Kamu pun terpaksa keluar lagi, dan terjebak macet berjam-jam.”

“Akhirnya setelah susah payah, sampai juga kamu di supermarket. Hatimu mencelos karena ternyata orang-orang tumpah ruah disana. Kamu baru ingat bahwa itulah saat dimana orang-orang yang sama seperti kamu pergi ke supermarket untuk keperluan makan malam mereka.

Kamu pun terpaksa harus menyenggol siku sana-sini, berlari kesana kemari di antara rak-rak yang tinggi, di bawah cahaya lampu toko yang silau, dan jingle lagu pop yang benar-benar kamu benci.”

“Kamu benar-benar lagi capek dan sebenarnya nggak pingin pergi ke supermarket.”

“Kamu berjalan gontai ke arah tempat pembayaran, hanya untuk menyadari bahwa sebagian besar line kasir – entah kenapa – tutup. Akibatnya, ada antrian super panjang di line kasir yang buka. Kamu harus berdiri hampir setengah jam di belakang ibu-ibu cerewet yang dari tadi ngobrol keras-keras dengan teleponnya.”

“Kamu harus mengantri hampir setengah jam di belakang ibu-ibu yang ngobrol keras-keras dengan teleponnya.”

“Setelah hampir mati berdiri, kamu pun sampai di hadapan kasir. Kasir itu menatapmu cemberut, padahal kamu nggak salah apa-apa.

“Silakan datang kembali!” kata sang kasir setelah kamu selesai membayar, dengan nada kasar seolah menyampaikan ancaman pembunuhan.”

“‘Silakan datang kembali!’ kata sang kasir, seperti memberikan ancaman pembunuhan.”

“Kamu pun mengangkut plastik-plastik belanjaan ke mobil. Sampai rumah, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Kamu makan sendirian sambil nonton TV. Kamu nggak suka TV, tapi kamu nggak tahu lagi mau ngapain sambil makan.

Kamu gosok gigi, tidur, dan nggak terasa hari sudah pagi lagi.

Begitu terus bertahun-tahun, hingga nanti kamu pensiun.”

“Begini terus bertahun-tahun, sampai nanti kamu pensiun.”

“Ada bagian dari hidup orang dewasa yang tidak pernah dibicarakan orang-orang di media massa, di pidato kelulusan, di buku-buku motivasi, atau di manapun.

Bagian itu adalah rasa bosan, rasa frustasi, rasa marah karena diperlakukan kasar. Dan kalau kamu nggak punya kemampuan untuk mengontrol apa yang akan kamu pikirkan di kepalamu, perasaan-perasaan itu akan perlahan-lahan membunuhmu.

Yang akan ada di kepalamu cuma betapa KAMU capek dan kelaparan, betapa KAMU cuma ingin pulang cepat ke rumah, betapa semua hal di dunia ini adalah tentang KAMU, betapa semua orang di jalan dan di antrian supermarket cuma hidup untuk menghalangi KAMU mencapai keinginanmu.”

“Yang KAMU inginkan cuma pulang dan makan! Kenapa sih semua orang ini menghalangi jalan-MU?”

“Kabar baiknya, tentu saja, adalah bahwa kamu bisa memilih untuk berpikir dengan cara yang berbeda.

Mungkin saja, bapak SUV yang menglaksonmu di jalan tadi sedang panik mau mengantar anaknya yang demam tinggi ke rumah sakit. Mungkin KAMU lah yang sebenarnya menghalangi jalannya, bukannya dia menghalangi jalanmu.

Mungkin juga, ibu-ibu ribut di depanmu tadi pernah berbaik hati membantu nenekmu menyeberang jalan, dulu sekali.

Atau mungkin, semua orang di jalan dan di supermarket itu juga sama capeknya dengan kamu. Mungkin, bukan cuma kamu yang merasa lelah dan marah di luar sana.”

“Atau mungkin, kamu bukan satu-satunya orang yang merasa lelah dan marah.”

“Tentu saja, hal-hal ini terdengar hampir mustahil. Tapi bukankah itu inti dari sekolah dan pendidikan?

Mengkritik dan selalu mempertanyakan asumsi-asumsi yang kamu pegang.

Menyadari bahwa selalu ada beberapa cara untuk melihat suatu hal.

Memaknai sesuatu yang sebenarnya tak punya makna.

Memilih dengan sadar dan bijaksana apa yang ingin kita sembah.”

“Inti dari pendidikan…adalah agar kita tahu cara memaknai sesuatu.”

“Karena di hidup ini, tidak ada yang namanya ateisme. Manusia selalu menyembah sesuatu, baik itu Allah atau Tuhan Yesus atau YHWH atau nilai-nilai moral yang tak bisa dikompromikan.

Pastikan bahwa kamu hanya akan menyembah salah satu dari hal-hal di atas.

Kalau kamu menyembah uang, kamu nggak akan pernah merasa cukup.

Kalau kamu menyembah kecantikan, kamu akan selalu merasa jelek.

Kalau kamu menyembah kecerdasan, kamu akan selamanya merasa diri kamu palsu, bahwa kamu melakukan segala sesuatu cuma agar orang-orang menilaimu pintar.”

“Manusia selalu menyembah sesuatu, baik itu Tuhan ataupun nilai-nilai moral. Dan ingat: Kalau kamu menyembah hal yang lain, ‘hal yang lain’ itu akan memakanmu hidup-hidup.”

“Dunia kita penuh dengan orang-orang yang sibuk mengejar harta, yang sibuk berebut kekuasaan — dan kita dibutakan oleh tipe kebebasan yang mereka punya.

Faktanya, ada lebih dari satu macam kebebasan…dan jenis kebebasan yang paling berharga adalah kebebasan yang jarang dielu-elukan oleh orang di sekitar kita.

Kebebasan yang paling berharga akan menuntut kita memperhatikan hal-hal di luar diri kita.

Kebebasan yang paling berharga akan menuntut kita untuk peduli, untuk berkorban demi orang lain, lagi, dan lagi, dengan cara yang tak akan pernah kasat mata. Kebebasan yang paling berharga akan memaksamu menjadi disiplin, menjadi sadar sepenuhnya akan dunia di luar sana.

Dan itulah makna dari pendidikan. Itulah maksud dari istilah ‘mampu mengendalikan pikiran’.”

“Kebebasan yang sebenarnya akan menuntut kita untuk berkorban demi orang lain, lagi dan lagi, dengan cara-cara yang tak akan pernah kasat mata.”

“Saya minta maaf kalau ini tak terdengar inspiratif, atau bijaksana, atau memotivasi. Tapi inilah faktanya.

Pertanyaan hidup yang paling mendasar adalah pertanyaan tentang kehidupan sebelum kematian.

Tentang kebaikan apa yang mau kamu lakukan di hidupmu sekarang.

Tentang bertahan hidup — sampai umurmu 40, 50, tanpa pernah berpikir untuk menembak kepalamu dengan pistol.”

“Pertanyaan hidup yang paling mendasar adalah pertanyaan tentang bertahan hidup.”

“Karena nilai pendidikan yang sebenarnya…hampir tak ada hubungannya dengan kesuksesan karirmu.

Nilai pendidikan yang sebenarnya adalah kesadaran sederhana: kesadaran akan hal-hal yang begitu kecil dan tak terlihat, namun begitu penting dan dibutuhkan.

Kesadaran yang akan membuat kita terus mengingat dalam kepala: ‘This is water. This is water. This is water.'”

“This is water” via flavorwire.com

“Sekian dulu dari saya.

Saya mendoakan kesuksesanmu, serta hal-hal yang lebih agung daripada itu.”

David Foster Wallace (1962 – 2008) via www.marionettlinger.com