Buat setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai Scholarship Hunter, pasti khatam banget soal beasiswa bergengsi satu ini, beasiswa yang bikin saya kemarin harus rela memangkas jam tidur siang demi bisa menelurkan esai yang stand out from the crowd. Apalagi kalau bukan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Beasiswa dari pemerintah Indonesia yang nominalnya bisa gila-gilaan ini juga sukses membuat saya jatuh – bangun – jatuh lagi – bangun lagi. Kenapa??

Pertama. Saya (dan ribuan orang lainnya) dibuat menunggu sekian bulan karena kepastian pembukaan pendaftaran tahun 2017 kemarin nggak kunjung datang. Iya, tahun ini LPDP menerapkan kebijakan baru yang lumayan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya pendaftaran dibuka 4 kali dalam setahun, tapi 2017 ini LPDP cuma ‘buka gerbang’ SATU KALI. Dan kepastian ini baru diumumkan sekitar bulan Februari.

Kedua. Adanya isu kalau mereka membatasi keberangkatan ke UK, bikin saya yang sudah punya LOA (Letter of Acceptance) dari 4 universitas di sana harus putar otak, atur strategi, dan siapkan kuda-kuda (apasih)Awalnya saya pede aja buat tetap mempertahankan tujuan UK ini karena memang jurusan yang saya mau banyak ditawarkan di sana. Tapi setelah bertapa di Gunung Kawi 7 hari 7 malam, saya putuskan maju tanpa LOA, alias ganti haluan ke Swedia.

Ketiga. Singkat cerita, saya pun berusaha memenuhi setiap persyaratan berkas yang diminta, termasuk esai yang direvisi habis-habisan sama salah satu awardee yang saya kenal. Dan selama menunggu kabar, saya kudu rela bolak-balik ke WC karena mules tiada henti! Akhirnya selang beberapa minggu setelah penutupan pendaftaran, saya kegirangan karena berdasarkan pengumuman, saya lolos seleksi administrasi!

Keempat. Nah, tahap selanjutnya adalah online assessment (OA). Tahap ini juga baru ada di 2017. Jadi OA ini semacam tes psikologi online. Nggak ada benar atau salah di tes ini, yang ada lulus atau nggak. Ini nih, tahap dimana saya harus jatuh, kesandung, njlungup, ke sekian kalinya, karena beasiswa tersohor ini. Jadi sudah bisa disimpulkan kan saya lolos OA atau nggak.

Advertisement

Kalau kebanyakan orang cuma haus cerita dari mereka yang berhasil lolos aja, di sini saya mau coba kasih perspektif yang sedikit berbeda. Karena menurut saya, motivasi bisa datang dari mana aja, termasuk dari mereka yang pernah gagal.

Satu hal yang saya lakukan pertama kali saat baca tulisan ‘Maaf, Anda Tidak Lolos Seleksi Online Assessment’ adalah pulang ke kos, cuci muka dan gosok gigi, lalu nangis sejadi-jadinya

Karena kadang, menangis adalah koentji via www.powerofpositivity.com

Oh nggak, saya nggak malu mengakui kalau saya memang cengeng dan hampir selalu nangis tiap kali gagal melakukan sesuatu. Karena seringnya, cuma dengan nangis saya bisa merasa super duper lega. Bahkan kadang ‘puk-puk’-an dari abang pacar justru nggak ngasih efek apapun (haha!). Nah kamu yang kebetulan juga lagi gagal percintaan, pekerjaan, pendidikan, atau yang lain, nggak usah segan-segan kalau mau nangis. Nangis aja sampai puas. Jangan lupa siapkan tisu atau sapu tangan.

H+1 setelah hari yang awalnya saya pikir jadi my bad day ever (oke, lebay), saya hubungi Ibu saya buat minta maaf kalau ada salah-salah

Hubungi ibu tersayang via www.shutterstock.com

Saya nggak tahu sih ini mengaruh atau nggak. Tapi ini jadi hal yang ada di pikiran saya kemarin waktu berusaha memetakan, kira-kira faktor apa aja yang bikin saya belum dikasih kesempatan buat lolos beasiswa. Siapa tahu ‘kan, dosa saya ke Ibu saya yang terlalu menumpuk ikut jadi penghambat. Terlalu mendramatisir? Mungkin bagi beberapa orang iya, tapi bagi mereka yang percaya “Surga di telapak kaki Ibu”, rasanya sah-sah aja. Ya nggak sih? Iyain aja dong.

Cerita ke orang terdekat adalah hal yang saya lakukan selanjutnya. Terutama ke sesama #TeamGagalLPDP2017, karena terbukti bisa lebih menggebu-gebu, emosional, dan manjur kayak jamu

Tsurhat ke teman terdekat via feedfad.com

Sepengalaman saya, tahap ini sukses bikin saya merasa nggak sendirian. Kebetulan beberapa teman saya juga ada yang gagal kemarin. Dimulai dari pertanyaan, “Gimana, lolos nggak?” berlanjut ke balas-balasan quote motivasi sampai jam 3 pagi. Nggak ding, yang terakhir bohong. Ya intinya kami saling berkeluh kesah, menyemangati, dan ngingetin jangan lupa makan. Percayalah, cari teman sepenanggungan ketika gagal itu penting dilakukan lho. Biar nggak tebersit keinginan buat bunuh diri live di FB.

Selanjutnya, atur ulang strategi dan kumpulkan serpihan-serpihan semangat yang sempat tercerai berai, dengan menanamkan keyakinan kalau masih ada sejuta kesempatan di luar sana

“Nggak apa-apa, coba yang lain dan ambil hikmahnya aja.” – Papa

Cuma ada 2 opsi yang bisa dipilih orang-orang gagal (termasuk gagal move on): A. Menyerah, mundur, nangis di pojokan, atau B. Maju terus, atur strategi, pasang wallpaper quote motivasi di HP. Saya nggak mau pilih A soalnya saya keras kepala dan ternyata banyak wallpaper quote motivasi bagus-bagus di Pinterest. Buat kamu yang juga senasib sama saya, percayalah kalau di luar sana masih banyak kesempatan yang bisa kamu coba. Serius, banyak banget.

Catatan penting lainnya, sering-seringlah bangun relasi dengan orang-orang yang juga berkecimpung di dunia perbeasiswaan, entah sesama scholarship hunter atau yang sudah lolos. Niscaya pintu menuju ke sana akan terbuka lebar, selama kitanya ngotot. Seenggaknya, itu sih yang masih akan saya lakukan. Selamat berjuang ya, para pemburu beasiswa!

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya