Beberapa hari belakangan berita tentang kekerasan berlatar belakang agama kerap kita temui di halaman depan koran nasional. Sedih nggak sih, saat suatu kelompok yang mengatas namakan agama tertentu dengan brutal menyerang prosesi ibadah agama lain? Kemana kerukunan antar umat beragama yang selama ini kita banggakan?

Kekerasan bernafas isu agama via 4.bp.blogspot.com

Ada pendapat yang bilang jika ini cuma pengalihan isu karena pemilihan presiden semakin dekat. Penyerangan tersebut terjadi tidak karena sentimen SARA. Tidak peduli apapun alasannya, kekerasan tidak pernah bisa dibenarkan. Sebagai upaya untuk mengingatkan pentingnya toleransi antar umat beragama, Hipwee ingin memaparkan sebuah artikel opini tentang pentingnya pengalaman pernah mengikuti prosesi agama lain supaya bisa lebih toleran.

Kekerasan tidak bisa jadi jalan keluar via schoolofjoker.com

Kamu tidak harus sepakat, tidak pula harus mencobanya. Disini Hipwee hanya akan menawarkan satu cara dari ribuan jalan lain yang bisa kamu tempuh agar lebih bisa menerima perbedaan. Selamat meretas jalan menuju perdamaian!

1. Membuat Kamu Sadar Bahwa Seluruh Agama Mengajarkan Kebaikan

Advertisement

Pooja untuk perdamaian, agama Hindu via www.mamadeva.com

Ketidaktahuan adalah sumber kekacauan logika. Tanpa pernah mengenal sisi lain yang ada disekitar zona nyamanmu, bagaimana kamu bisa membubuhkan cap buruk ke mereka? Apa yang membuatmu bisa punya otoritas kalau hal yang kamu yakini lebih baik?

Tahukah kamu?:

  • Setiap tanggal 21 September Paus menyerukan umat Kristen untuk berdoa bagi perdamaian dunia? (data, disini)
  • Pada 7 September 2013 umat Katolik menggelar doa dan puasa akbar bagi perdamaian di Suriah (data, disini)

Paus mengajarkan pentingnya berdoa untuk perdamaian dunia via 2.bp.blogspot.com

  • K.H Dian Nafi, seorang ulama asal Solo aktif bergerak dalam penyelesaian konflik antar agama di Indonesia. Beliau tergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara. (data, disini)
  • “Om sarve vai sukhinah santu. Sarve santu niramayaah. Sarve bhadraani pashyantu. Maa kashhid dukhamaapnuyat. Om Shanti, Shanti, Shanti”, adalah doa umat Hindu bagi perdamaian dunia. (arti, disini)

K.H Dian Nafi dan Wakil Dubes AS via images.solopos.com

  • Umat Budha di Surabaya berkumpul di Zhang Palace untuk mendoakan tercapainya perdamaian dimuka bumi (data, disini)

Sebelum memberikan stigma negatif ke agama lain, kenapa tidak coba mengenalnya lebih dulu? Bagaimana kamu bisa mempercayai bahwa keyakinan lain mengajarkan kebencian ke umat mereka tanpa pernah tahu apa yang mereka lakukan selama prosesi ibadah?

2. Merasakan Menjadi Minoritas

Umat muslim melindungi gereja di Timur Tengah via mtdata.ru

Punya pengalaman sebagai minoritas penting untuk menekan rasa paling dalam dirimu. Selama ini kamu merasa aman karena punya banyak teman yang keyakinannya sama denganmu? Apakah kamu tidak pernah merasa asing ditengah lingkungan sosial?

Cobalah perluas zona nyamanmu, cobalah membuka diri untuk ikut ibadah agama lain. Nggak perlu ekstrim kalau kamu merasa belum siap. Bisa dimulai dengan datang dan melihat pelaksanaan prosesi ibadah agama lain kemudian mencoba ikut jika kamu mulai nyaman. Dengan pernah merasakan jadi minoritas di tempat yang asing bagimu, kamu bisa lebih mengerti arti berbeda. Kamu juga bisa lebih memahami bagaimana perasaan seorang minoritas yang tetap ingin diperlakukan dengan adil dan hormat walau berbeda.

3. Kamu Akan Bisa Memaknai Moralitas Bukan Lagi Dari Sudut Pandang Agama

Moralitas tidak semata ditentukan oleh agama via 3.bp.blogspot.com

Mencoba ikut ibadah agama lain memang langkah besar yang nggak semua orang merasa nyaman melakukannya. Namun, jika kamu berani menembus batas kenyamanan itu maka akan ada pelajaran berharga yang bisa kamu ambil. Kamu akan bisa menilai orang secara lebih objektif, berdasar kepribadiannya. Bukan lagi darimana ia berasal.

Ditengah lingkungan asing, dalam kegiatan pemujaan yang tidak familiar bagimu — kamu akan memandang orang disekitarmu sebagai manusia, tidak lebih. Mereka yang baik dan menghargai keberadaanmu memang adalah orang baik. Sudah, titik. Opini mengenai moralitas juga akan kamu temukan mulai bergeser.

Sikap seseorang tidak lagi ditentukan oleh keyakinannya via www.religionfacts.com

Dengan membuka diri untuk mengikuti kegiatan peribadahan agama lain dan berinteraksi dengan umat berbeda keyakinan ditengah seremoni agama mereka, kamu bisa sadar: dimana-mana, dalam agama apapun, akan selalu ada orang yang baik dan buruk. Moralitas tidak semata ditentukan oleh keyakinan.

4. Tidak Lagi Mudah Menuduh “Sesat”

Mereka sesat atau hanya berbeda? via daulahislam.com

Kita punya kecenderungan membuat sesuatu selalu sama rata. Hal yang berbeda dan asing kerap kita anggap sebagai anomali. Kata tudingan “sesat” mudah dikeluarkan. Jangankan untuk pemeluk keyakinan lain, dalam satu keyakinan yang sama pun tuduhan sesat sering mudah terlontar. Apakah dengan mencoba mengikuti ibadah agama lain akan membuatmu lebih jernih mengambil sikap?

Seperti yang Hipwee sampaikan diawal, mencoba mengikuti prosesi peribadahan agama lain bukan jalan keluar handal bagi semua problem toleransi kita. Namun paling tidak, kamu akan lebih terbiasa pada hal-hal asing diluar zona nyaman keyakinanmu. Prosesi yang kamu tuduh menyembah berhala itu memang bagian dari keyakinan mereka yang layak dihargai. Sesat atau nggak sesat itu urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan.

5. Membuatmu Ingin Menggali Keyakinanmu Lebih Dalam Lagi

Memunculkan keinginan untuk menggali keyakinan via portalyvechnosti.ru

Tidak hanya mengenal sisi lain yang masih jarang terjamah tanganmu. Cara ini juga bisa memunculkan bara keingin tahuan dalam diri untuk lebih mengenal keyakinan yang selama ini sudah kamu anut. Jika sepanjang hidup kamu terbiasa menerima semua ajaran mentah-mentah, kamu akan menemukan dirimu lebih kritis terhadap ajaran agama yang kamu dapat.

Akan banyak pertanyaan yang muncul di benakmu. “Kok, ini bisa begini? Kenapa aku harus percaya hal ini?”. Rasa ini sangat wajar muncul, karena kamu dihadapkan pada hal-hal yang bisa jadi sangat bertolak belakang dari semua yang kamu yakini sepanjang hidup. Pilihan yang ada, mau tidak mau kamu akan menggali keyakinanmu lebih dalam. Pada akhirnya, iman dan keyakinan memang sebuah proses pencarian yang tidak akan pernah ada ujungnya bukan? Dan dalam setiap pribadi yang mengimani dengan kuat, selalu tersisa ruang bagi pertanyaan.

Bagaimana, apakah cara ini telihat cukup nyaman bagimu dan bisa kamu aplikasikan? Jika bisa, maka cobalah untuk melakukannya. Namun jika tidak, masih ada banyak cara lain yang bisa kamu tempuh demi bisa lebih menghargai perbedaan di sekelilingmu.