“Mas, kamu kok gak becus gitu, sih!”
“Pakai otak makanya!”
“Ini orang kok gitu sih kerjanya?!”

Kamu pasti pernah menemui orang-orang yang hobinya memberi kritikan kepada hal-hal yang dikerjakan orang. Entah itu langsung melabeli dengan kalimat kasar, mencaci dengan sindiran, atau bahkan menghina secara terang-terangan. Mungkin maksudnya baik agar kamu sadar akan kesalahan yang kamu lakukan. Tapi bukannya malah sadar, kamu malah jadi makin kesal.

Nah, daripada kritikan yang dilemparkan malah bikin orang lain kesal dan balik membenci, yuk kita introspeksi lagi cara kita mengkritik dan berkomentar. Jangan-jangan selama ini memang sikap kita yang kelewatan…

Menggiring dia agar lebih mengerti apa yang akan kamu sampaikan lebih baik daripada langsung menyalahkan. Memulai dengan pertanyaan adalah cara sederhana yang bisa kamu lakukan.

Giring dengan pertanyaan dulu, ya via www.stocksy.com

“Ji, menurutmu kalau ada orang yang suka nyolot gitu enaknya diapain, ya?”
“Waaah… Digebukin aja tuh kalau ada orang yang kayak gitu!”

Advertisement

Nah, bisa dicoba deh itu, karena orang akan merasa tersinggung dan langsung naik pitam kalau kamu tiba-tiba ngajak ngobrol dan langsung ngasih kritik. Mending sebelumnya, kamu giring aja tuh teman yang mau kamu kritik. Salah satu caranya adalah lewat pertanyaan. Jadi kamu gak langsung ngritik apa yang jadi kekurangannya. Dengan begitu dia juga bisa introspeksi sendiri juga ‘kan?

Jangan sampai kamu mencampuradukan emosi dengan kritikan. Niatmu mengkritik ‘kan untuk menyadarkan orang, bukannya malah nantang perang.

Jangan pakai emosi, yes? via www.huffingtonpost.com

Ini yang kadang kita kelupaan. Mungkin saking emosinya gitu, ya. Jadi kalimat kritikan yang kamu maksudkan untuk membangun malah terdengar seperti ajakan berkelahi. Ujung-ujungnya dia jadi emosi dan gak mau kalah saat kamu beri kritikan. Nah, ini yang harus dihindari. ‘Kan niatmu ingin menyadarkan, bukan ingin mulai perang.

Nembak gebetan aja butuh timing yang pas, demikian pula saat akan mengkritik. Tunggulah waktu yang pas untuk mulai menyampaikan komentar dan kritikanmu.

Tunggu momen yang pas juga kalau mau ngritik via www.lds.org

Timing itu hal yang harus kamu perhatikan. Orang nembak aja butuh timing yang pas kok untuk diterima, pun demikian dengan memberi kritikan. Perhatikan suasana hati dan pikirannya, apakah saat itu dia lagi marah atau bahagia. Kalau pas marah mending gak usah ngritik dulu. Takutnya dia tambah emosi lagi sama kamu.

Selain waktu yang pas, tempat dan suasana yang tepat itu juga perlu. Sekali lagi, tujuanmu ingin menyadarkan, bukan untuk mempermalukan.

Tapi ya gak perlu stalking juga Hehe

“He Ji, harusnya kamu gak boleh kasar sama Ibumu, dong!”
*Padahal itu ditengah-tengah rapat organisasi

Siapa yang gak malu dan marah coba kalau dikritik saat posisi lagi ramai seperti itu. Meskipun niatmu baik dan omonganmu nadanya gak nyolot, tapi kalau situasinya seperti itu ya sama aja. Kalau mau ngritik orang, mending ditunggu saat keadaan gak ramai. Syukur-syukur kalau kamu bisa mendapat momen yang pas saat kalian hanya berdua. Jadi gak mempermalukan dia di depan orang banyak.

Mengutarakan pendapat sih sah-sah saja, tapi jangan menggunakan kalimat yang menyinggung perasaan. Apalagi kalau pakai awalan, “Tuh kan, dibilangin gak percaya sih!”

Ntar dianya malah ngerasa diceramahin via www.meltycampus.fr

“Tuh kan, dibilangin gak percaya, sih.”
“Makanya, nurut kalau dibilangin orang”

Sebenarnya kamu gak salah sih kalau ngritiknya seperti itu, dengan catatan dulu kamu memang sudah pernah menasehatinya terlebih dahulu tapi dia gak mau dengerin omonganmu. Tapi tetap saja, cara seperti itu ngeselin banget. Bukannya malah sadar, salah-salah dia malah makin kesal.

Ingat bahwa yang kamu kritik itu tindakannya, bukan orang yang melakukannya. Jadi, tak perlulah sampai kamu membenci orang lain.

Jangan benci orangnya dong

Boleh saja kamu mengkritik orang, tapi yang perlu diingat adalah jangan membenci orangnya. Yang kamu kritik kan tindakan yang dia lakukan dan itu wajar memang. Kalau kamu rasa tindakannya layak untuk kamu kritik ya kritik aja. Tapi ingat, yang kamu kritik adalah tindakan, bukan manusianya. Gak perlu lah kamu sampai membenci orangnya. Toh semua manusia pasti pernah punya salah.

Ada kalanya kita harus berkaca. Jangan sampai kamu malu sendiri karena kritikan yang kamu ucapkan ketika ternyata kamu pun masih melakukannya.

Berkaca itu perlu via www.thegoodvader.com

“Kamu gak seharusnya ngejek orang depan umum, Ji!”
“Nah ini lu juga ngejek Oji di depan umum, Pri! Gimana sih, lu!”
“Oh, iya ya….”

Kalau kata pribahasa sih, Mulutmu harimaumu. Jadi hati-hati ya sama kritikan yang kamu ucapkan ke temanmu. Jangan sampek kamu malu sendiri karena kritikan yang kamu ucapkan. Selain itu, sebaiknya kritik yang kita berikan juga kita jadikan bahan refleksi diri. Agar kita nantinya gak jadi orang ngeselin yang kita kritik saat ini.

Kritik akan ditanggapi dengan baik kalau dimulai dengan pujian dan diakhiri dengan solusi. Pokoknya biar kelihatan kalau kamu nggak asal bicara deh…

Selain beri saran, beri juga solusi via galleryhip.com

“Kalau cuman ngomong doang mah gampang! Semua orang juga bisa!”

Ini nih yang paling penting, setiap kritikan yang kamu tujukan untuk seseorang sifatnya harus membangun, bukan menghina. Mulailah dengan pujian atau pertanyaan yang menggiring agar dia tidak langsung emosi. Setelah kamu ucapkan kritikanmu, akhirilah dengan memberi solusi. Dengan begitu dia merasa kamu benar-benar berniat membantu dan gak cuma omong kosong yang terdengar seperti membully.

Cobalah sedikit cerdas ya untuk memberikan kritikan dan komentar kepada orang-orang yang ada disekitar. Berkomentar dan memberi kritikan itu sah-sah saja kok. Tapi tetap perhatikan kaidah agar kamu gak menyakiti dan malah bikin hubunganmu dan dia jadi terbawa emosi. 🙂