Di antara kamu pasti pernah mengalami fase kehidupan yang membuatmu ingin cepat menyelesaikannya atau bahkan ingin kamu lewati begitu aja. Fase-fase tersebut biasanya dihadapi mulai dari kamu duduk di bangku sekolah menegah pertama dan seterusnya.

Nah, buat kamu yang belum ngerasain galaunya fase itu atau baru aja ngerasain sedikit dari banyak fase tersebut, coba deh simak beberapa hal ini supaya kamu selalu bisa bersyukur dan terus berusaha menyelesaikan apapun yang lagi kamu jalanin.

1. Bermula dari keinginan untuk segera bisa masuk ke sekolah menengah atas. Katanya memang masa paling indah.

SMA berasa paling gaul via daraprayoga.com

Ketika kamu duduk di bangku SMP, pasti pernah mikir untuk bisa segera masuk SMA. Pikiran itu ada karena kamu menganggap di sekolah menengah pertama kamu capek menghadapi tugas yang numpuk dari guru yang seringkali diadakan mendadak, bahkan pikiran itu muncul karena alasan sepele bagi siswa laki-laki, yakni ingin mengenakan celana panjang ke sekolah untuk menutupi bulu kaki yang mulai tumbuh, dan yang paling utama adalah karena kamu menganggap ketika sudah SMA, kamu akan lebih bebas.

Keinginan untuk bisa lebih bebas datang karena kamu mulai puber dan merasa dirimu bukan lagi anak kecil. Kamu menganggap saat sudah duduk di bangku SMA persoalan terkait memiliki waktu bermain yang panjang akan selesai, kamu juga bisa menunjukkan dengan bangga seragam apa yang kamu pakai. Namun, apa persoalan tersebut akan semudah itu? Kenyataannya…

2. Tapi setelah duduk di bangku SMA yang terjadi adalah kamu pengen cepet lulus aja. Rasanya bangku kuliah lebih menjanjikan.

Advertisement

kuliah itu enak! via www.google.co.id

Keinginanmu untuk bisa masuk SMA sudah terwujuda dan nyatanya apa yang kamu jalani nggak sesuai dengan apa yang kamu bayangin waktu SMP. Pasti kamu pernah memikirkan itu, kan? Kenyataanya saat di bangku SMA kamu juga tetap mendapatkan tugas yang numpuk dan gurumu pun tetap memberikan ulangan dadakan di awal pelajaran.

Rasa bebas yang kamu harapkan juga berganti begitu saja saat kamu mulai jenuh dengan kehidupanmu di SMA yang nyatanya nggak juga membawa kamu pada kebebasan. Perasaan itu kemudian membentuk keinginamu agar bisa segera lulus dari SMA dan menginjakkan diri ke jenjang perkuliahan. Keinginan itu terbentuk dari pikiranmu akan kebebasan sebenarnya yang bisa kamu dapatkan di sana.

Nggak berhenti di situ aja, kamu juga pasti menganggap jika kuliah itu menyenangkan karena nggak perlu repot membawa banyak buku dan juga nggak perlu lagi menggunakan seragam sekolah. Kamu merasa jika menggunakan almamater akan jauh lebih membentuk rasa banggamu ketimbang menggunakan seragam putih abu-abu. Tapi, apa iya seperti itu rasanya?

3. Kenyataannya saat sudah kuliah, kamu pun ngerasa untuk bisa segera menyelesaikannya atau bahkan nggak ingin untuk melanjutkannya. Mah Pah, aku mau nikah aja deh 🙁

kapan wisuda? via www.google.co.id

Rasa bangga setelah bisa duduk di bangku kuliah dan menggunakan almamater perguruan tinggi pasti kamu rasain di awal-awal perkuliahan. Menjadi mahasiswa baru memang pada awalnya sangat menyenangkan, hal itu dirasa karena kamu bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai tempat. Selain itu juga kamu nggak lagi perlu untuk mengganti seragam dengan baju bebas saat ingin bepergian ke mall setelah usai kuliah.

Kebebasan yang kamu harapkan sedikit bisa kamu rasain. Yap! Kamu nggak lagi terpaku dengan jam sekolah yang rutin, dengan begitu pasti kamu pernah beralasan untuk izin pulang sore atau malam pada orang tuamu untuk bekerja kelompok atau dengan bilang ada kegiatan kampus lainnya. padahal sih mau nongkrong doang.

Tapi kesenanganmu akan segera tergantikan dengan rasa jenuh akan tugas dan kuis yang lagi-lagi nggak bisa kamu hindari. Belum lagi saat menginjak tingkat ketiga, kamu akan dihadapkan oleh praktik kerja lapangan yang berbarengan dengan kewajibanmu sebagai mahasiswa lainnya. Ditambah bayang-bayang skripsi yang mulai menghantuimu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Di situlah pasti mulai timbul pikiran untuk bekerja agar mendapatkan pundi-pundi rupiah dan bisa menghindari masa angker itu. Oleh karena itu, nggak sedikit banyak mahasiswa yang mendapat gelar mahasiswa abadi. Atau banyak dari kamu yang memilih menyerah dan memilih buat nikah aja ~

4. Kemudian sampailah kamu pada tahap masuk di dunia kerja. Tapi justru bikin kamu sadar bahwa yang kamu butuhkan lebih dari sekadar uang, yakni nyaman dan bahagia.

ternyata kerja itu… 🙁 via www.google.co.id

Yeay! Pada akhirnya kamu sampai pada tahap di mana kamu bisa merasakan kebebasan. Nggak lagi pusing sama tugas, kuis, skripsi, dan pertanyaan kapan wisuda. Kamu merasa senang dan tentunya bangga karena sudah menjadi seorang pekerja dan bisa menghasilkan uangmu sendiri.

Kesenangan itu pun nggak jarang berhenti di titik saat kamu merasa mulai bosan dan capek dengan apa yang kamu kerjakan. Jika tahap itu sudah kamu rasain, kamu akan kembali mengenang masa di mana kamu masih menjadi seorang pelajar atau mahasiswa. Masa di mana saat masalah terberatmu cuma PR Matematika! Kamu akan memiliki keinginan untuk bisa kembali menjadi seorang yang nggak perlu repot mencari uang untuk melanjutkan hidupmu.

Nggak berenti di situ aja, kamu juga pasti akan mulai memikirkan untuk mencari kebahagiaan dan kenyamananmu di tempat lain. Pikiranmu akan mengawang pada indahnya sebuah pernikahan karena kamu menganggap dengan menikah kamu bisa berbagi kelelahan sepulang bekerja dengan pasanganmu. Kamu juga menganggap jika telah menikah apa yang jadi masalahmu saat kamu bekerja sendirian akan selesai dengan mudah. Tapi… Apa semudah itu?

5. Pada akhirnya, setelah menikah pun kamu jadi paham bahwa hidup bersama tak selamanya mudah. Ada hal yang harus selalu dikompromikan berdua.

nikah ngga sebahagia keliatannya. via www.google.co.id

Pada akhirmya, setelah bekerja kamu akan mencari kenyamanan dan kebahagian berikutnya dengan memutuskan untuk menikahi pasanganmu dengan harapan kamu bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang kamu hadapi. Tapi, lagi dan lagi, kamu harus paham jika apa yang ada dalam bayanganmu itu belum tentu sejalan dengan kenyataan yang akan kamu hadapi.

Persoalan menikah bukanlah hal yang mudah untuk kamu hadapi. Menyatukan dua pemikiran yang berbeda bukanlah perkara yang mudah. Belum lagi ketika kamu nantinya akan memiliki anak. Akan ada banyak hal yang sulit kamu lakukan. Akan berbeda rasanya melakukan yang biasa kamu lakukan sendiri saat kamu sudah menikah. Akan beda rasanya waktu berkumpulmu dengan sahabat saat nanti kamu sudah menikah. Akhirnya, kamu akan tau jika menikah bukan untuk menyelesaikan berbagai persoalanmu.

Mulai sekarang, coba berhenti melihat segala sesuatu yang belum kamu miliki jauh lebih indah. Segala sesuatu yang kamu bayangkan itu tidak melulu akan sama dengan kenyataan yang akan kamu hadapi. Kamu nggak akan pernah bisa menghindari apalagi lari dari apa yang seharusnya kamu jalani. Bersyukurlah dengan apa yang kamu punya sekarang. Nikmatilah apa yang tengah kamu lakukan saat ini, karena hidup nggak akan pernah bisa kembali. Kamu nggak bisa terus menghidupi dirimu dengan berbagai kemauan, karena sejatinya manusia nggak pernah merasa puas. Nikmatilah, jalanilah, dan bersyukur.