Kalau kamu melihat kondisi negara kita, mungkin kamu akan merasa sedih. Isinya banyak sekali nyinyir, cacian dan saling hujat. Nah yang bikin sedih, nyatanya banyak penyebar kata-kata kasar dan saling menghujat itu ternyata adalah anak-anak yang usianya masih belia. Kata-kata kasar dengan nada sok keren mereka ucap tanpa ada rasa sungkan sekalipun pada pengguna sosial media lainnya. Kan sedih, ya…

Padahal mereka adalah penerus bangsa. Kalau kelakuannya seperti itu, mau jadi apa bangsa kita nantinya?

Beruntung nggak semua anak bangsa prilakunnya kasar seperti itu. Banyak juga anak muda Indonesia yang bisa memberi inspirasi pada sekitar kita. Hal itu yang dilakukan oleh kelima remaja ini. Usia mereka boleh saja masih belia dan banyak yang masih SMA, namun semangatnya bisa bikin kita-kita yang lebih dewasa jadi minder.

Mereka berlima adalah remaja dengan semangat tinggi untuk menyebarkan semangat positif kepada orang-orang di dekatnya. Atas semangat positifnya tersebut, mereka terpilih sebagai duta #GenMatchaKini, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Garnier Pure Active Matcha. Melalui kelima duta #GenMatchaKini ini, Garnier ingin menemukan representatif anak muda yang aktif, kreatif, pemberani, suka menolong, dan berani sehingga bisa menyebarkan positivity tersebut ke sesamanya.

Sebagai calon-calon penerus bangsa, tentunya rugi besar kalau anak-anak muda cuma sibuk gegalauan atau malah bertikai di media sosial. Karena itu hal-hal yang berbau positivity harus disebarkan, meski hanya sesederhana membantu teman untuk belajar.

Nah, kalau mereka saja bisa menginspirasi dan punya mimpi sekeren ini, kenapa kita nggak meniru mereka? Yuk, simk cerita mereka!

Amrita Saraswati Suteja dari SMA Santa Ursula Jakarta

Bagi Saras, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Tugas sesulit apapun nggak terasa sulit asal ada kemauan. Ia percaya bahwa dengan membulatkan tekad, kamu pasti bisa mengerjakan apa saja. Selain jago main gitar dan hobi nge-DJ, gadis asal Jakarta ini juga punya ketertarikan pada alat musik yang tak biasa: gamelan bali! Wow, di antara gencarnya gelombang musik hiphop dan kpop seperti ini, tentu jadi kabar baik bila anak muda tertarik pada kesenian tradisional kekayaan Indonesia.

Saras yang super aktif mengikuti berbagai kegiatan ini merasa prihatin kalau melihat media sosial yang seringkali digunakan sebagai sarana untuk bertikai atau bahkan membully. Melalui #GenMatchaKini ini, Saras ingin sekali menyebarkan positivity, sehingga anak muda bisa memanfaatkan media sosial untuk hal-hal baik, bukan untuk saling caci dan merasa paling benar sendiri. Wah, keren banget misi remaja satu ini!

Pramudya Ardyagarini dari SMA 102 Jakarta

Awalnya karena penasaran dengan kepribadian diri sendiri, Pramudya yang kerap dipanggil Aya ini jadi peduli terhadap isu sosial anak muda. Dia ingin agar anak muda Indonesia nggak cuma jadi generasi yang berani ngomong doang, namun juga memberi aksi nyata bagi sesama. Aya suka sebal dan prihatin dengan kondisi anak muda zaman sekarang yang sok-sokan berani di mesos, tapi aslinya nol besar. Nah ini yang ingin Aya ubah.

Sehari-hari Aya sangat tertarik pada bidang seni. Selain ikut ekskul jurnalistik, Aya juga hobi membuat kerajinan tangan. Tapi jadi orang kreatif nggak selalu mudah. Hobi Aya membuat benda-benda yang “nyeni” malah sering dibilang kurang kerjaan sama orang-orang di sekitarnya. Aya punya moto yang keren lho. “Berikan yang terbaik, urusan menang atau kalah itu urusan nanti.” Nah moto yang kayak gini nih yang harus kita tiru. Karena kadang kita gagal sebelum maju ke medan perang, hanya karena takut gagal duluan.

Vira Hannisya dari SMA 6 Bekasi

Gadis yang punya hobi main voli ini juga layak ditiru semangatnya. Melalui kegemarannya ini Vira juga mendapat banyak pelajaran berharga. Mulai dari kenalan dengan orang-orang baru dan belajar untuk lebih toleran dengan perbedaan. Meski mencoba banyak hal mulai seni hingga olahraga, remaja yang baru lulus SMA ini mengaku lebih menyukai aktivitas fisik yang berbau tantangan.

Selain voli dan renang, Vira juga senang hiking. Wah! Cocok deh kalau ke depan Vira bercita-cita jadi polwan. Vira sendiri yakin bahwa masih banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan oleh generasi Z agar bisa memberikan manfaat kepada sekitarnya. Nggak perlu muluk-muluk, bagi yang suka hiking seperti Vira, cukup dengan tidak membuang sampah sembarang di gunung. Bagi yang hobi traveling, kamu bisa menuliskan pengalamanmu. Siapa tahu nanti akan ada yang terbantu dari tulisanmu. Terus kalau hobimu belajar gimana dong? Sesederhana membantu teman untuk belajar sudah termasuk kegiatan positif lho. Ilmu ‘kan akan semakin bertambah kalau dibagi-bagi.

Rifka Rajbi dari SMA 103 Jakarta

Beda cerita dengan Rifka. Gadis asal Jakarta ini menilai komunikasi adalah aspek penting dalam kehidupan sehari-hari. Setuju dong, soalnya komunikasi yang buruk bisa membawa dampak negatif yang berbahaya. Selain merugikan diri sendiri, juga bisa memicu konflik. Ya nggak? Rifka menganggap dengan komunikasi yang bagus, dia bisa menyebarkan banyak positivity kepada rekan-rekan di sekitarnya. Mulai dari bisa membantu jadi teman curhat yang baik hingga membantu teman-temannya saat mereka menghadapi masalah.

Nah, untuk melatih kemampuan komunikasinya, Rifka mengikuti banyak organisasi mulai dari Rohis, Paskibra, hingga Taekwondo. Di sana dia bisa bertemu orang banyak dan melatih diri sendiri untuk menghadapi berbagai macam orang. Meski kelihatan kalem dan anggun, tapi Rifka ini peraih medali emas Taekwondo Nasional tahun 2016 lalu lho. Sabuknya saja sudah merah!

 

Rengganis Annisa Salma SMA 9 Bandung

Sementara itu, Rengganis punya caranya sendiri untuk menyebarkan positive vibe ke anak muda Indonesia. Nah cara yang da tempuh adalah dengan turut aktif membela hak-hak dan menuntun anak muda di Bandung agar jadi generasi yang positif. Melalui “Forum Anak Kota Bandung”, Rengganis nggak mau hanya labelnya saja yang jadi “Kota Layak Anak”, tapi juga bagaimana anak muda di Bandung didengar aspirasinya. Keren nggak tuh? Coba dulu waktu seusia Rengganis, kamu ngapain aja?

Perjuangan Rengganis nggak gampang lho. Komitmennya untuk memajukan anak-anak di Bandung ternyata sempat nggak mendapat dukungan dari teman-teman sekolahnya. Rengganis pernah dianggap sebagai “anak dinas” karena keaktifannya tingkat kota. Meski sedih, Rengganis nggak patah semangat. Daripada sibuk membalas omongan orang, dia lebih suka membalas dengan prestasi yang wow abis!

#GenMatchaKini

Kelimanya terpilih dari 17.000 pendaftar lho. Nggak heran deh hebat-hebat, karena seleksinya sudah pasti ketat! Nah, sebagai apresiasi terhadap kelima penerus bangsa ini, Garnier Pure Active Matcha menyenggarakan workshop content creative selama dua hari di Bogor dan Jakarta, tanggal 5-6 Agustus 2017 kemarin. Para duta #GenMatchaKini ini dibekali dengan ilmu-ilmu baru seperti fotografi, creative writing dan public speaking agar bisa menjadi anak muda agen positivity!

workshop bersama Ririe Pram

Mereka memang usianya masih belia. Namun untuk urusan semangat menyebarkan hal-hal positif, kepeduliannya terhadap generasi muda Indonesia jangan ditanya. Semangat dan komitmen mereka untuk masyarakat jelas bikin kita jadi minder dan bertanya-tanya.

Duh, dulu waktu seusia mereka aku ngapain aja ya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya