“Lo sekarang lanjut kuliah dimana? “

Di STIE EITS, Bro.”

“Hah? Di mana tuh?”

“Di Jogja, Sekolah Tinggi Imu Ekonomi Eka Intan Tulus Suci.”

“… Itu nama anak-anak pendirinya? Emang di Jogja ada ya kampus itu?” *Pasang muka tak berdosa*

Kuliah memang impian banyak anak muda. Namun, tak semua orang bisa mendapatkan tempat di kampus unggulan setelah berusaha mati-matian. Mungkin juga kamu tidak diizinkan orangtua untuk merantau jauh-jauh, dan sebagai konsekuensinya harus rela kuliah di kampus sederhana. Sebagian besar orang tak mempermasalahkan tempat kuliahmu. Sayangnya, kamu tetap merasa tak percaya diri dengan universitasmu itu.

Padahal toh kuliah di kampus terkenal juga bukan jaminan bahwa masa depanmu akan cerah. Seklise apapun kedengarannya, pada akhirnya semua tergantung dari usaha pribadimu dan keahlian yang kamu punya. Kamu pun punya kesempatan untuk lebih bersinar dibandingkan mereka yang mengenyam ilmu di kampus terkenal.

Masih gak yakin? Berikut ini adalah 8 alasan yang membuatmu yakin bahwa kuliah di kampus yang tak terlalu sering masuk koran bukanlah hal yang perlu kamu sesalkan.

1. Mungkin kamu memang tidak dianugerahi fasilitas kampus yang mewah dan mentereng. Namun, kamu punya ruang kelas yang baik dan internet untuk mencari apa yang kamu butuhkan.

Keterbatasan fasilitas via brantakanstudio.blogspot.com

Advertisement

Kampusmu mungkin tidak terlalu megah. Gedungnya tidak bisa dijadikan syuting sinetron atau film, buku-buku di perpustakaannya tak selalu lengkap dan sinyal WiFi pun belum tentu stabil. Tak hanya itu, keterbatasan fasilitas laboratorium membuatmu kesulitan melakukan penelitian. Kamu pun benar jika bilang bahwa ini adalah hambatan pada pengembangan akademismu.

Namun kamu tak boleh lantas menyerah. Sudah masuk di sini, inilah yang kamu punya dan sekarang tugasmu untuk memaksimalkannya. Saat perpustakaan tidak menyediakan buku yang dibutuhkan, cari buku itu sampai perpustakaan kota dan daerah. Kalau itu gagal juga, paling tidak kamu selalu punya layanan Google Books. Paling tidak ada internet yang selalu bisa menyediakan apa yang kamu butuhkan. Jika internet kampusmu tidak memadai, cari tahu apakah kamu bisa mengunduh item-item yang ada di internet itu dengan modem pribadimu. Apapun yang kamu lakukan, pacu dirimu untuk berpikir kreatif. Jangan menyerah dengan keadaan.

2. Mungkin juga kamu berharap kampusmu punya lebih banyak dosen ahli. Saat itu masih jadi mimpi, kamu wajib menggembleng otak untuk berpikir lebih mandiri.

dosen ahli via muhsinbudiono.com

Berguru pada sang ahli adalah impianmu sejak dulu. Mungkin kamu ingin berdiskusi masalah skripsi, atau tema penelitian yang baru-baru ini sedang booming. Sayang, dosen ahli yang kamu incar tersebut tidak mengajar di perguruan tinggimu yang sekarang.

Namun punya mentor atau tidak, sebenarnya kamu punya kapasitas berpikir sendiri. Justru ini saatnya kamu berusaha keras untuk  menggali informasi dari berbagai sumber secara mandiri. Kamu pun akan mampu untuk semakin mendalami peranmu sebagai seorang pembelajar. Ikuti rasa penasaranmu, dan dengan begini, kamu layak menjadi mahasiswa sejati yang ketagihan untuk belajar secara mandiri.

3. Camkan: tidak kuliah di kampus yang terkenal bukan berarti ilmu yang kamu dapatkan dangkal!

Belajar keras via 101hdwallpapers.com

Tidak kuliah di kampus yang terkenal mungkin membuatmu berprasangka bahwa ilmu yang kamu dapat sebenarnya dangkal. Padahal, itu belum tentu benar. Toh bukannya kamu sering juga harus berhadapan dengan jurnal-jurnal internasional yang membahas ilmu ter-update saat ini? Kamu sering juga, bukan, ditugaskan untuk mengumpulkan esai dan makalah dalam seminggu? Itu sebenarnya sistem pembelajaran yang sama yang dihadapi mereka yang kuliah di kampus favorit.

Sia-sia jika kamu masih merasa minder saat berdiskusi dengan mereka yang berasal dari kampus yang notabene terbaik se-Indonesia. Toh silabus yang diberikan juga sama, ilmu dasar yang disampaikan juga sama. Yang membedakan adalah bagaimana pikiranmu terangsang untuk berpikir kearah yang lebih maju. Selain itu, yang menentukan isi otak adalah seberapa besar usahamu untuk menyerap semua ilmu yang ada di depan mata. Jadi kualitas kampus tidaklah menentukan segalanya.

4. Mungkin kampusmu tak begitu punya banyak alumni terkenal. Hei, buktikan saja bahwa kamu bisa jadi lulusan unggulan!

Menjadi unggulan via nengkoala.com

Teman A : “Aku kuliah di fakultas yang sama kayak Chairul Tanjung, lho! Hoho…”

Teman B : “Dulu Miriam Budiardjo alumni kampus gue. Tahu gak Bro dia siapa?”

Kamu : (dalam hati) “Yah, kampus gua aja baru buka lima tahun lalu… Mana gua tahu alumninya udah sampe mana aja…”

Mungkin kamu nggak akan bisa “pamer” alumni di hadapan teman-temanmu. Pasalnya, institutmu memang baru buka dan masih muda. Saringan masuknya pun bukan yang paling ketat se-Indonesia. Namun, bisa jadi ini justru membuat peluangmu menjadi unggulan lebih besar. Persaingan yang tidak sekompetitif kampus-kampus terkenal membuatmu bisa lebih mudah menjadi bintang. Ketika lulus, selempang cum laude pun bisa kamu amankan.

Nah, saat kamu menjadi unggulan di kampusmu, kesempatan emas melanjutkan pendidikan akan mudah kamu temui. Mungkin dekan akan merekomendasikanmu untuk pertukaran pelajar keluar negeri, atau kamu bisa masuk kandidat untuk mendapatkan beasiswa S-2. Jadi, tidak ada takdir yang perlu dikutuki. Tuhan tak jarang memberikan kejutan manis dalam bungkus yang bagimu “tidak terlalu menarik”…

5. Nama kampus boleh asing di telinga masyarakat Indonesia. Tapi kamu punya kesempatan yang sama dengan mahasiswa lainnya untuk membuat karya besar yang mendunia.

Kamu punya kesempatan untuk berprestasi via kemahasiswaan.ump.ac.id

Gak sedikit orang akan mengernyitkan dahi saat kamu menjelaskan tentang kampusmu yang gak banyak orang tahu “emang ada ya?” ” Kok gak pernah denger” “Ooooh, itu nama kampus!”.  Bahkan ada juga yang sampai memandangmu sebelah mata. Kamu tidak perlu mengutuki keadaan, karena sebenarnya kamu dan orang yang memandangmu sebelah mata itu punya kesempatan yang sama untuk berkembang.

Meskipun kamu adalah mahasiswa kampus dengan nama asing, bukan hal yang mustahil untuk membuat karya yang mendunia. Mungkin kamu bercita-cita membuat desain kostum yang bisa dipakai para artis luar negeri. Atau kamu yang ingin menciptakan software musik untuk android. Bolehlah sekarang orang gak tahu letak kampusmu, tapi jika kamu mampu membuat karya yang bagus, maka semua orang wajib tahu. Tak perlu merasa sial, kamu sebenarnya juga punya kemungkinan yang besar untuk mencetak prestasi yang membanggakan.

6. Konon katanya, gaji besar akan lebih mudah dimiliki dia yang kuliahnya prestis. Tapi sejak kapan sih kesuksesan didapat dari prestise, bukan dari kerja keras?

Siapapun berpeluang untuk mendapatkan bergaji besar via penyukakopi.wordpress.com

Untuk menarik mahasiswa, tak jarang kampus-kampus kecil menetapkan biaya kuliah yang lebih murah dibandingkan kampus swasta atau negeri yang sudah ternama. Tapi murah bukan berarti murahan!

Gak sedikit orang-orang dari kampus “eksotis” yang bisa berhasil menjadi pemimpin yang adil. Kamu pun bisa juga terpacu menjadi seorang wirausaha muda yang melenggang di pasar internasional. Melanjutkan sekolah di luar negeri juga bukan hanya monopoli mereka yang dari universitas negeri.

Seseorang tidak akan otomatis sukses hanya ketika dia kuliah di kampus ternama. Sebaliknya, kamu juga tidak layak dicap gagal hanya karena kampusmu mungil dan kecil. Kesuksesan tidak berasal dari prestis, namun dari kerja keras. Jika gaji besar memang impianmu, gemblenglah dirimu untuk bekerja lebih keras dibandingkan yang lainnya.

7. Walau banyak perguruan tinggi berlomba-lomba jadi world class university, yang paling penting dari pendidikan tetaplah ilmu bagi sesama — bukan ranking yang tercantum dalam brosur promosi mereka.

Ilmu yang bermanfaat lebih penting dari titel world class university via simomot.com

Sekarang banyak sekali kampus yang berlomba-lomba untuk mendapatkan predikat world class university. Gak jarang kamu akan merasa bangga jika predikat itu tersemat di kampus kuliahmu. Banyak orang mengira predikat ini bisa jadi garansi akan kesuksesanmu di masa depan. Padahal gak sepenuhnya benar. Jika ilmu yang kamu dapat tidak bermanfaat bagi sesama, maka predikat ini tidak bermakna apa-apa.

Tanpa harus merasa jadi mahasiswa kelas dua, kamu bisa merasa bangga jika ilmu yang kamu punya bisa bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Tanpa harus merasa rendah diri, inilah saatnya kamu berjuang untuk menjadi orang yang berhasil secara pribadi. Maka, gak heran jika kamu justru bisa menjadi juara soal kebaikan.

8. Mungkin kuliah di kampus nomor satu berhak membuat seseorang jemawa. Tapi kalau pikirannya tidak terbuka, ya sama saja. Peringkat kampus bukan penentu segalanya — pola pikirlah yang bisa membuatmu bangga.

Kemajuan pola pikir yang menentukan kesuksesanmu di masa depan via www.joshuahodge.com

Bisa menjadi bagian kampus unggulan memang seringkali membuat seseorang jemawa. Tapi jika fasilitas lengkap dan nama terkenal justru membuat dia mentok dan di situ-situ saja, apa artinya. Jika dosen hebat malah membuatmu malas berpikir kritis, maka kamu gak bakal berkembang.

Nomor berapapun peringkat kampusmu, tak akan ada artinya jika mentalmu tempe. Kuliah toh bukan hanya perkara mendapatkan gelar atau ilmu, namun juga perkembangan pola pikir. Jika pola pikir dan mentalmu lebih maju dari mereka yang menjadi mahasiswa kampus ternama, maka tak peduli dari manapun kamu, kamu patut berbangga!

Kuliah di kampus yang gak banyak dikenal orang bukan berarti karirmu akan tenggelam. Sebaliknya, kuliah di kampus rangking pertama juga gak ada jaminan kamu akan sukses dimasa depan. Faktor kesuksesan yang paling penting adalah pembentukan pola pikir yang maju dan komitmen untuk berusaha keras. Jangan pernah merasa jadi kelas dua. Kemampuanmu untuk berpikir jernih dan semangatmu yang terus membara sudah sepantasnya membuatmu berbangga!