Mungkin ada di atas layang-layang, dua kodi tabir surya dan serombongan turis asing asyik berpakansi dalam minivan

Pernah kamu merasa curiga? Terhadap apapun, yang absurd dan nyeleneh sekali pun? Kita tak bisa mengenang begitu jelas masa kecil kita, dunia yang penuh pertanyaan dalam tempurung kepala paling imut itu. Saya juga tak pernah ingat kapan tepatnya saya pertama kali bisa makan pakai sendok, pakai sempak sendiri, atau lepas tangan saat pipis. Ada pun yang belakangan saya pikirkan, sejurus kecurigaan paling banal tentang warna kuning, “kapan terakhir kali berakmu berwarna kuning?” Pertanyaan penuh kecurigaan itu lahir melihat betapa apesnya Spongebob dan mereka penggemar warna kuning, alih-alih keren pakai warna kuning malah dikira tokai plesiran yang mengambang.

HipweeJurnal yang saya tulis kali ini adalah pengalaman saya tentang rasa curiga. Kecurigaan tampaknya bagi saya adalah pintu ke mana saja milik Doraemon yang saya pinjam dari Nobita. Lewat kecurigaan saya jadi lebih peduli terhadap suatu hal seperti; peristiwa apa yang terjadi di belakang lemari es atau bagaimana tekstur keramik kantor Hipwee yang jarang disentuh orang. Tapi saya lebih tertarik mengeja jarak alis dan pupil mata yang mondar-mandir saat orang-orang menulis. Omong kosong! Tentu saja saya lebih suka menaruh curiga pada menu makan yang tertutup tudung saji siang ini!

Beberapa hal di bawah ini adalah pengalaman menarik saya bersama rasa curiga selama 23 tahun terakhir. Kamu boleh menolak membacanya, tapi biar rasa curigamu itu lunas dulu, baca saja sampai selesai. Di akhir tulisan nanti kamu akan jumpai satu paragraf bikinan Managing Editor berbunyi “#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu”. Lupakan…! Saya bukan penulis kesayanganmu, kalau kamu sayang kamu pasti ke sini sekarang!

1. Saya pernah curiga jangan-jangan pernah ada orang ketiga dalam hubungan antara saya dan pasangan

Kecurigaan saya membawa kejujuran baginya, bagi saya juga begitu. via unsplash.com

Advertisement

Saya menjalani hubungan LDR sejak 2010, pacar saya adalah sosok yang paling setia yang saya kenal, kejujurannya sangat istimewa. Pernah suatu sore di bulan November yang basah itu, saya dengan penuh curiga bertanya “adakah lelaki lain yang pernah bersamamu di sana?” Lalu dengan tangkas dia menjawab, “maafkan saya, itu pernah dan saya kapok” pipinya basah sebab tempias dari hujan kala itu begitu keras. Pacar saya memang begitu adanya, saya pun pernah melakukannya dan kami bertengkar hebat selama dua jam dan diakhiri dengan pelukan paling panas di muka Bumi! Semua terjawab karena saya curiga.

2. Saya vokalis sebuah band, awalnya hanya main gitar. Saya curiga suara saya bagus, jadi saya memutuskan untuk menyanyi!

Ini saya sedang menyanyikan lagu yang lucu. via hipwee.com

Kalau kamu pernah dengar lagu “Perahu Napas” di kanal Youtube, suara cowok yang menenangkan itu adalah suara saya. Kenapa demikian saya sombong, sebab saya juga curiga jangan-jangan sombong itu baik. Bukan satu dua seleb dan poitikus mengumbar kesombongan, lihat lah mereka yang terpilih pasti sombong. Khusus untuk masalah sombong, kalian para pembaca harus berkenalan dengan Soni Triantoro. Dia adalah sosok supremasif dengan paksaan, mengagungkan UGM dan tunggangan Satria FU, di lain sisi setiap hari dia kerepotan menahan kelemahannya di depan saya. Saya curiga!

3. Saya selalu curiga pada kemampuan diri sendiri, termasuk menulis di Hipwee. Jangan-jangan saya tak mampu lagi menulis di sini

Saya butuh bukti untuk menghapus kecurigaan ini… via unsplash.com

Di antara semua penulis Hipwee yang happy-happy, mungkin saya yang paling newbie. Dari sekian banyak penulis yang pernah menulis di Hipwee, mungkin saya yang harus punya banyak waktu untuk beradaptasi. Saya curiga jangan-jangan saya tak mampu bekerja di sini, tapi saya juga curiga jangan-jangan Hipwee belum siap dengan kebodohan saya. Atau saya yang belum siap dengan Hipwee yang lucu dan menggemaskan ini. Saya perlu banyak bukti! Tapi sekarang saya bersyukur, saya bisa tetap menulis. Apapun itu!

4. Masa depan begitu misterius, saya selalu curiga jangan-jangan kita tak pernah menyambut masa depan melainkan hanya terhuyung dan terseret menuju ke sana

Tiba-tiba umur sudah tua. Saya curiga kalau saya bisa lebih santai semuanya lebih muda dan waktu berjalan lambat. via unsplash.com

Bangun pagi, melihat jam, mandi dan merawat diri dengan berdandan. Jangan lupa pakaian terbaik untuk hari ini, menyemprot baju dengan deodoran, mendorong pintu Indomaret bertuliskan “pull“. Dalam kegairahanmu akan masa depan, kamu sering luput dari gairahmu sendiri untuk hari ini. Saya menaruh curiga kepada mereka yang merias diri dengan kesibukkan pasti, menganggap waktu adalah segalanya dan dengan garang bicara “menyambut masa depan!”. Sadarlah kita hanya memberangus waktu santai dengan menyaru diri sendiri menjadi komoditi bagi mereka yang punya modal pasti.

Empat hal di atas tentu bukan jawaban absolut atau yang benar dan harus dijalani oleh semua orang. Paling tidak saya tahu apa yang musti jadi pegangan saya dalam berayun nasib di hidup ini. Kecurigaan saya tak pernah tuntas, belum ada sepekan menyimak Hipwee Jurnal milik kawan saya yang lain di Hipwee. Andrall Intrakta memulai kegelisahannya dengan penghancuran mengesankan tentang impresi Kota Jogja. Sayangnya dia tak sadar hampir tiga tahun terakhir dia hidup dan tidur di Sleman. Lain lagi yang paling khianat; namanya Fhai, kawan-kawan yang lain berpikir dia penuh misteri, dari kosan sampai pacaran. Namun, baru-baru ini kawan-kawan yang lain merasa harus meralat semua yang dituduhkan kepada Fhai, sebab orang misterius macam apa yang mengumbar ukuran BH di perbincangan santai sore hari?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya