Pernah nggak sih kepikiran bagaimana jadinya kalau tiba-tiba besok dunia akan berakhir? Apa yang orang sebut kiamat itu akhirnya terjadi? Fenomena Supermoon yang terjadi kemarin dan gejala alam lainnya belakangan dikaitkan dengan akhir dunia yang kabarnya semakin mendekat. Entah benar atau tidak, semua memang kembali pada wewenang Tuhan yang menentukan. Terlalu lancang bagi kita kalau sok-sokan meramalkan hari akhir. Ya, meski tanda-tandanya sudah jelas diterangkan, tapi kapan waktu pastinya manusia tak punya kemampuan untuk memastikan.

Sehebat apa pun kemampuan meramal seorang cenayang, tetap nggak akan bisa memprediksi kapan datangnya hari penghakiman. Namun, kalau boleh berandai-andai, jika benar esok semesta akan berakhir, sudah siapkah kamu mengikhlaskan segala perjuangan yang belum usai? Siapkah kamu mengikhlaskan banyak hal yang belum sempat kamu lakukan?

1. Sudah sampai tahap mana perjuanganmu meraih mimpi? Siapkah kamu untuk mengikhlaskan segudang cita-cita yang bahkan selangkah pun belum sempat kamu usahakan?

Merelakan mimpi via unsplash.com

Ternyata gue belum sempat melakukan apa-apa untuk mimpi gue.

Selama ini gue cuma bermimpi, tapi nggak pernah berani memulai langkah.

Di usiamu yang saat ini menginjak 20-an, tentu ada segudang rencana yang sudah kamu agendakan. Melanjutkan studi, mendaftar beasiswa, hingga mimpi untuk membangun bisnismu sendiri. Memang, semua itu masih sebatas rencana yang baru akan terealisasi 1 hingga 5 tahun ke depan. Saat ini kamu baru ancang-ancang sih. Jika benar hari ini adalah hari terakhirmu memeluk mimpi-mimpimu, sudahkah kamu merelakannya hanya sebatas angan? Sudikah kamu menerima kenyataan bahwa mimpimu selama ini selalu bersanding dengan kata nanti.

2. Atau justru kamu terlalu tenggelam dalam kesibukan sampai lupa memberi penghargaan diri atas segala pencapaian yang diraih. Hari ini mungkin kesempatan terakhir untuk menghargai diri sendiri

Advertisement

Hidup harus seimbang agar tak menyesal via www.rd.com

Ini jauh lebih berat. Mungkin kamu adalah tipe orang yang selalu berlari sepenuh tenaga ke depan. Bekerja sekeras mungkin demi masa depan yang lebih baik. Selalu punya rencana untuk direalisasikan, target lain untuk dicapai, dan segudang tekad untuk tak berhenti sebelum menggapainya. Yang hilang dalam kalkulasimu atas masa depan itu adalah kamu tak tahu kapan hari akhirmu datang. Disamping terus melihat ke depan, penting juga manusia yang penuh ketidaktahuan untuk menghargai dan menikmati hari ini sepenuhnya.

Work hard, play hard

Keseimbangan antara terus berjalan ke depan sambil menikmati pemandangan yang kamu miliki saat ini, adalah kunci hidup yang bahagia. Pastinya kamu tak mau hari terakhirmu dipenuhi penyesalan akan betapa menyedihkan hidupmu tanpa pernah liburan, istirahat, atau sekadar menghargai dirimu sendiri.

3. Untukmu yang masih mendewakan kesibukan sampai sering lupa kasih kabar ke orangtua, sudahkah kamu sekadar bertukar salam sayang dengan mereka hari ini? Bisa saja ini kesempatan terakhirmu

Harusnya tiap hari kita tak lupa berterimakasih kepada mereka via henrymakow.com

Kamu memang nggak pernah lupa untuk selalu mendoakan orangtuamu setiap waktu. Sebisa mungkin kamu ingin membahagiakan mereka nantinya. Sayangnya, kesibukan yang begitu menghimpit, bikin kamu jadi jarang berkomunikasi dengan mereka. Bahkan sekadar menelepon untuk bertanya kabar pun kamu jarang. Jika benar besok adalah hari akhir, jangan sedih kalau kamu belum sempat bilang sayang sama orangtua. Bahwa mereka adalah dua orang yang paling berjasa dalam hidupmu selama ini. Jangan sampai di kehidupan nanti kamu menyesal karena belum sempat mengucapkan terima kasih.

4. Dan segala bentuk cinta yang belum sempat terkatakan. Pastikan orang-orang yang kamu cintai tahu bahwa kehadiran mereka dalam hidupmu merupakan anugerah yang tak ternilai harganya

Berhak tahu bahwa mereka adalah orang yang layak dicintai via dylandsara.com

Buat kamu yang terlalu gengsi untuk bilang cinta, mungkin terlalu yakin kalau waktumu di dunia masih tersisa banyak. Kamu mungkin lupa kalau Tuhan punya wewenang untuk mengakhiri dunia kapanpun Dia berkehendak. Atau jangan-jangan kamu memang merasa cukup kalau perasaan ini dibiarkan terus bersemayam tanpa ada keharusan untuk diungkapkan? Yakin kamu nggak menyesal belum sempat mengungkapkan cinta padanya? Yakin sebelum berpindah kehidupan, kamu nggak mau tahu perasaannya padamu kayak apa?

5. Seringkali terlalu yakin kalau usia semesta masih panjang. Bagaimana kalau esok kiamat dan kamu masih sering melupakan Tuhan dalam setiap langkah?

Sudahkah kamu menyapa Tuhan hari ini? via istockphoto.com

Ah, gue mau giat ibadah ntar aja. Masih pengen bebas nikmati duniawi.

Tobat mah ntar-ntar aja lah.

Seandainya besok adalah hari penghakiman sementara sampai hari ini kamu masih jarang ibadah, kamu tidak akan menyesal nanti saat berhadapan dengan-Nya? Yakin, apakah kamu tidak ingin menghadap Tuhan dalam kondisi hati dan keimanan yang terbaik? Karenanya, beribadahlah dengan sepenuh hati, seolah hari ini adalah hari terakhirmu di dunia. Sehingga saat esok bertemu Tuhan, kamu nggak akan malu berhadapan dengan-Nya.

6. Sesekali kita perlu merasa bahwa kamu hanya punya hari ini. Agar tidak ada penyesalan yang tersisa nanti

Agar tak menyesal nanti via unsplash.com

Kadang menganggap hari ini adalah hari terakhirmu di dunia bisa memicumu untuk melakukan yang terbaik di setiap langkah. Sehingga kamu tak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Jangan sampai saat kamu berpindah kehidupan, kamu menyesal lantaran belum melakukan banyak hal dan belum mengikhlaskan segala yang belum dituntaskan.

Jangan menunda kebaikan. Selagi masih ada kesempatan, kenapa harus ada kata nanti?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya