Apa jadinya ketika seorang motivator yang seharusnya memotivasi banyak orang untuk berbuat kebaikan dan melakukan pencapaian dalam hidupnya ternyata malah membuat mereka terjerumus dalam lubang nan kelam? Rasanya tidak ada seorang motivator yang melakukan hal itu, kecuali dia merupakan seorang sesat yang mencari hambanya.

Sejatinya, tidak ada orang yang ingin meraih kegagalan, dan tidak ada motivator yang ingin melihat orang-orang gagal dalam hidupnya. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang ingin meraih sukses dengan mengikuti jalur kesuksesan dari para motivator, justru malah terjerumus dalam kegagalan? Semua pasti berawal dari Napoleon Hill, bapak motivasi dunia! Berikut ulasannya.

Berdasarkan riwayat hidupnya, Napoleon Hill merupakan salah satu penulis buku motivasi tersukses di dunia. Bukunya berhasil membawa orang-orang untuk berpikiran positif

Whatever the mind of man can conceive and believe, it can achieve. – Napoleon Hill via www.intelligenthq.com

Napoleon Hill dikenal sebagai seorang penulis buku motivasi dan kesuksesan paling sahih di dunia. Bukunya yang paling terkenal adalah Think and Grow Rich (1937). Buku legendaris itu menjabarkan kisah berprosesnya 500 lebih orang sukses di dunia pada masa itu. Setelah Hill meninggal dunia, buku tersebut menjadi buku motivasi terlaris yang pernah ada. Sebelum buku itu terbit, Hill sempat menjabat sebagai Penasihat Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt (1933-1936).

Berpikir positif itu hanya akan membawa seseorang untuk berimajinasi tentang masa depan yang menyenangkan. Sepintas tidak  ada yang salah dengan hal ini

Daydreaming. via Wallup.net

Advertisement

Seorang yang mencoba untuk berpikir positif, mereka begitu jarang akan memikirkan hal-hal buruk yang bisa terjadi pada dirinya. Ya, sebab mereka selalu mencoba untuk memikirkan hal yang baik-baik saja. Seperti buah simalakama, mereka terlalu takut untuk berandai-andai tentang keburukan. Alhasil, mereka senantiasa berfantasi tentang masa depan yang menyenangkan. Hal-hal indah yang ada di masa depan. Jadi pertanyaannya, apakah seseorang ini akan bisa melanjutkan hidupnya tanpa melihat dan waspada terhadap hal buruk yang bisa saja terjadi pada dirinya, kapanpun itu?

Ketika seseorang telah berimajinasi tentang masa depan yang menyenangkan, justru itu akan memperlambat usaha dan energinya. Ini disebabkan oleh optimisme yang begitu tinggi

Hanya berfantasi. via www.netmedia.mx

Ya, ketika seseorang telah terlena akan kenyamanan dalam berfantasi tentang masa depan yang begitu menyenangkan, dia tidak akan bisa berkembang. Sebab secara tidak langsung, dia malah memperlambat laju usaha dan mengurangi energinya untuk bertindak atau melakukan banyak hal. Dia seolah hanya terfokus pada fantasinya itu. Ini dampak buruk bagi seseorang yang hanya berpikiran positif dan bersikap terlalu optimis.

Berpikir positif akan membuatmu lalai dengan hal buruk yang bisa terjadi. Dan bersikap terlalu optimis akan membuatmu jadi meremehkan orang lain dan risiko yang ada

Terlalu optimis = arogan. via luufy.com

Selain memperlambat usaha dan mengurangi energimu untuk bertindak, berpikir positif juga bisa membuatmu alpa dalam melihat situasi dan keadaan yang buruk. Kamu tidak akan bisa mengatasi hal-hal buruk yang tiba-tiba menimpamu. Ya, karena kamu selalu menganggap hal itu positif. Kamu seolah tidak siap untuk menghadapi masalah.

Di lain sisi, bersikap terlalu optimis juga akan membuatmu melihat berbagai hal dengan sebelah mata. Saking optimisnya, kamu malah akan membuat dirimu seperti meremehkan orang lain, meremehkan risiko yang ada, dan membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Sejatinya berpikir positif dan bersikap optimis itu baik. Tapi akan menjadi petaka ketika kamu menaruhnya secara berlebihan

Jurang kehancuran. via pixhome.blogspot.com

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan orang yang selalu berpikir positif dan bersikap optimis. Kecuali jika dilakukan secara berlebihan. Apapun yang berlebihan itu tidak baik bukan? Kalau sudah begini, apa bedanya kamu dengan orang yang selalu berpikiran negatif dan bersikap pesimis? Sama. Keduanya tidak bisa memanfaatkan peluang dengan baik.

Kalau sudah begini, siapa yang layak disalahkan? Apakah bapak motivasi dunia, Napoleon Hill? Bisa jadi. Sebab Hill atau bahkan semua motivator yang ada, tidak pernah menaruh porsi yang jelas untuk sebuah langkah demi kebaikan atau kesuksesan. Kecuali mereka mengatakan, misal, “Berpikiran positif dan bersikap optimis itu baik, tapi jangan berlebihan.” Ini yang akan menjadi kesalahpahaman, bukan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya