Setiap cita-cita memang perlu diperjuangkan. Meski itu berarti kamu harus pergi dari kampung halaman dan menjalani hidup di kota lain. Bertemu keluarga pun hanya melalui pesan singkat dan video call saja. Untuk tempat tinggal, kamu pun harus menyewa kamar mungil berukuran sekitar 4 x 3.

Meninggalkan kampung halaman punya risikonya sendiri. Ada banyak yang sudah berubah dan berganti saat kamu pergi, dan kamu baru menyadarinya ketika kamu kembali.

Pulang kampung bagimu selalu membawa kesan tersendiri. Bukan mustahil, kamu merasakan hal-hal ini…

1. Kamu selalu punya hasrat ingin kembali pulang. Tapi entah itu waktu atau uang, selalu saja ada halangan

Sebenarnya, kamu rindu pulang juga via ozid_art)

Kamu jarang pulang bukan karena nggak mau. Bukan karena nggak kangen dengan keluarga, atau karena terlalu nyaman dengan kota besar sampai enggan kembali ke kampung halaman.

Advertisement

Kalau menuruti kemauan, rasanya kamu mau juga pulang seminggu sekali, atau minimal sebulan sekali, seperti teman-temanmu yang lain. Tapi apa daya. Kotamu begitu jauh dan biaya yang dihabiskan juga nggak kalah banyaknya.

Kamu pun menggigit jari, lalu menabahkan diri. Duh, aku mau pulang, Gusti…

2. Saat akhirnya bisa beli tiket pulang, rasanya “penuh” dan senang. Sepanjang perjalanan kamu sibuk membayangkan rumahmu di tujuan

Ajukan pertanyaan tajam ke diri sendiri via www.huffingtonpost.com

“Tuhan Maha Baik, dapet tiket juga gue akhirnya!”

Saat akhirnya bisa pulang dan mengamankan tiket perjalanan, rasanya bahagia. Bahkan mungkin kamu deg-degan saking excited-nya. Dan sepanjang perjalanan pulang, kamu sibuk membayangkan bagaimana rumahmu saat ini dan bagaimana pertemuanmu dengan keluarga nanti. Duh. Rasanya sudah seperti ditunggu kekasih di kampung halaman. Nggak sabar pengin segera melihat bagian dunia yang jadi tempatmu tumbuh besar.

3. Kamu baru sadar sudah sekian lama meninggalkan kampung halaman, saat menyaksikan kondisi kota yang tak lagi sama

Dulu tahunya ini aja… Sekarang ada mall baru ya? via dr214ac.blogspot.com

“Eh, kok sekarang udah ada mall baru? Banyak, lagi.”

“Wow…sekarang udah jadi perumahan elit. Dulu masih sawah kayaknya.”

Kamu tentu nggak naif. Nggak mungkin dong kota yang kamu tinggalkan masih sama persis dengan setahun atau setengah tahun yang lalu. Tapi tetap saja perkembangannya bikin kamu tercengang. Bangunan-bangunan baru yang megah menggantikan sawah yang dulu mendominasi atau tanah kosong selama ini.

Senang sih, karena kampung halamanmu berkembang. Tapi ada rasa khawatir juga nanti kampungmu yang damai dan subur perlahan-lahan mulai mirip-mirip kota besar.

4. Di sisi lain, masih banyak juga yang belum berubah dari kampungmu itu. Ini nih yang bikin terharu…

Masih ada nasi cumi pasar atom yang sama~ via www.inijie.com

Di antara gedung-gedung baru yang membuatmu tercengang, ternyata hal-hal lama yang masih ada juga bisa membuatmu sedikit tercengang dan terharu. Sudut-sudut kota yang masih kamu kenali itu akan berubah menjadi roll film yang akan memutar episode-episode kehidupan lamamu. Misalnya saat kamu melihat penjual serabi di sudut kota yang dulu sering kamu beli untuk sarapan sebelum sekolah. Kenanganmu langsung kembali ke masa-masa sekolah: saat penjual serabi itu masih muda, kamu masih remaja, dan permasalahan hidupmu hanya soal PR Matematika…

5. Kalau kamu jarang video call atau hobi kirim foto, kamu akan terheran-heran dengan adik dan ponakanmu yang tampak berbeda

Ponakan kok udah gede… via Dok.%20pribadi

Setelah menempuh perjalanan yang penuh kenangan, tibalah kamu di rumahmu tercinta. Di sana, keluargamu sudah menyambit di depan pintu dengan senyum bahagia. Kalau selama ini kamu nggak pernah video call atau kirim-kiriman foto dengan kakak atau adikmu, jangan kaget kalau mereka berubah dari yang kamu ingat. Adikmu tambah tinggi dan dewasa, sementara orang tuamu juga akan terlihat semakin menua. Ya iyalah. Kamu kan sudah lama nggak pulang-pulang.

6. Jangan sakit hati kalau kamarmu sudah dialihfungsikan, dan barang-barang lamamu sudah… “Ma, kaos itemku di manaa?”

Kok kamarmu jadi kosan?!?!? via inspiratips.blogspot.co.id

Karena kamu jarang pulang, jangan kaget kalau kamarmu berubah jadi gudang. Atau kadang tiba-tiba adikmu memproklamasikan dirinya sendiri sebagai pemilik kamar. Belum lagi baju-bajumu tiba-tiba menyusut hilang entah ke mana.

Kamu : Bu, baju-baju aku ke mana sih? Masa kaos aja aku nggak punya?

Ibu      : Lho, kirain kamu udah nggak mau pakai. Sebagian ibu kasih sepupumu, sebagian ibu loakin, sebagian itu di dapur.

Kamu : Kok di dapur?

Ibu      : Iya, ibu jadiin serbet meja.

Kamu  : T_T

7. Kamu pun punya ‘jadwal’ super padat. Mulai dari berkunjung ke tempat Pakde dan Bude, juga jadwal nongkrong dengan teman2 masa kecilmu. Maklum, kamu nggak tahu kapan bisa pulang lagi

Bahagianya!

Kamu yang biasanya nganggur di kosan selama liburan, mendadak jadwalmu jadi sepadat jadwal Gubernur. Hari ini ke tempat Nenek. Besok ke tempat Budhe A, Budhe B, dan Budhe C. Lusa saatnya nongkrong dengan teman SMA. Nongkrong dengan teman SMP bisa nyusul sorenya. Oh ya, jangan lupa adikmu juga ngajak jalan-jalan ke luar kota. Kalau nggak sekarang, bisa-bisa baru ketemu tahun depan.

8. Tetangga-tetangga juga banyak yang kepo. Kalau nggak sengaja ketemu di jalan, kamu pasti disuruh cerita kehidupanmu di sana

silaturahmi sama tetangga via mbahjiwo.com

Kalau ketemu tetangga, kemungkinannya ada dua. Pertama, mungkin tetanggamu lupa kamu siapa. Jadi kamu harus memperkenalkan dirimu dari awal, lengkap dengan nama kedua orang tuamu. Kedua, meski nggak kelihatan selama setahun, kamu masih cukup terkenal. Saat kamu pulang dan nggak sengaja ketemu tetangga di jalan, mereka akan menodongmu bercerita tentang kehidupan di kota.

9. Kadang kamu lupa bahwa kamu udah di rumah. Kebiasaanmu di rantau kamu bawa sampai sini, hihihi

Lho kok bawa temen cowok. HEHE gak gitu juga ding via books-cupcakes.tumblr.com

Setiap kota pasti punya kebiasaan berbeda. Kadang hal-hal yang lazim kamu lakukan di kota rantau ternayata nggak biasa dilakukan di kampung halamanmu. Bahkan aneh. Dan sebaliknya. Tapi karena kamu terbiasa melakukan hal itu di kota rantau, kebiasaan itu terbawa sampai saat kamu pulang kampung.

Jika di Jakarta, kamu cukup melambaikan tangan dan menunggu kendaraan memelankan kecepatan kalau mau menyebrang. Coba lakukan itu di kampung halamanmu. Yang ada kamu akan dimaki-maki dan dianggap nggak punya mata. Hehe.

10. Ketemu teman kadang kamu pangling, karena mereka semua sudah jauh lebih dewasa

Sudah jauh berbeda dan dewasa via bisniskuasik.net

Sesuai salah satu agenda agendamu selama di kampung halaman, bertemu dengan teman lama jelas nggak bisa dilewatkan. Coba ingat lagi kapan terakhir kali kamu ketemu mereka? Mungkin setahun yang lalu waktu hari raya. Lalu kamu pun akan kaget saat melihat si ini yang sudah bawa suami dan si itu yang sudah gendong bayi. Wajah mereka pun membuatmu pangling. Kalau tak sengaja ketemu di jalan, kamu nggak yakin akan ingat.

11. Kalau iseng jalan2 keliling kampung kadang kamu juga deg-degan. Takut ketemu mantan. Eh, tapi kangen juga sih…

Dulu sama mantan sering ke sini nih… via news.lewatmana.com

Untuk menuntaskan rasa kangenmu, kamu juga nggak lupa untuk jalan-jalan keliling kampung atau kota. Kamu akan memilih spot-spot indah yang nggak akan kamu temui jika kamu sudah kembali ke kota. Puas-puasin dulu sebelum kamu harus kembali ke realita. Tapi acara jalan-jalan ini kadang membuatmu deg-degan juga. Jangan-jangan kamu akan bertemu mantan. Pasti awkward…eh tapi penasaran juga sih. Kayak apa ya dia sekarang? Udah punya pacar lagi belum ya dia? Apa jangan-jangan dia udah nikah?

12. Karena waktumu di rumah terbatas, rasanya kamu enggan melewatkannya dengan tidur. Tapi apa daya, kamu juga mager ke mana-mana

Maaa geeer via favim.com

Pernah nggak sih, saking senangnya ada di kampung halaman, sampai kamu merasa sayang untuk melewatkan waktu dengan tidur? Haha. Kamu khawatir kalau tidur, lalu bangun-bangun kamu sudah harus kembali menempuh perjalanan. Karena itu, sebisa mungkin kamu terjaga untuk menikmati suasana yang berharga itu.

Tapi sayang, kamu juga sering kalah oleh godaan mager. Mau banget sih keliling-keliling ke mana-mana, eh tapi kok kasurmu posesif banget! Akhirnya, impian keliling kota pun tetap jadi impian semata. Kamu terlalu mager untuk membuatnya jadi nyata…

13. Dan saat tiba waktunya kamu kembali ke perantauan, koper terasa sejuta kali lebih berat. Kalau aja bisa di sini lebih lama, sehari aja…

Harus ya balik sekarang? via favim.com

Yang paling menyiksa dari semuanya adalah, saat kamu akhirnya harus kembali ke tempat asal. Packing rasanya jauh lebih merepotkan dari saat kamu packing untuk pulang. Bukannya masalah barangnya nambah, melainkan perasaanmu yang sebenarnya belum rela.

Sejam-dua jam akan sangat berarti bagimu. Kalau kamu naik kereta, kamu juga akan memilih keberangkatan yang paling malam yang bisa. Kan lumayan sesiangan masih bisa ngalay-ngalay di rumah. Kalau bisa, kamu mau deh melakukan apa aja asal bisa nambah sehari di rumah.

Pulang ke ke rumah memang jadi momen spesial. Segalanya jadi berkesan karena sejuta rasa bisa kamu rasakan bahkan sebelum kamu disambut tugu selamat datang. Jadi, kapan kamu mau pulang?

Lihat perjalanan seru Widi Vierra yuk!