Sejak di sekolah dasar, kita selalu dituntut untuk menjadi yang nomor satu. Kualitasmu ditentukan oleh peringkat berapa kamu di kelas, dan lebih spesifik lagi, berapa nilai matematikamu? Bila dua hal itu sudah luput dari jangkauanmu, sudah pantas rasanya kamu disebut ‘bodoh’. Maka kamu mencari les di sana-sini, dipaksa pontang-panting belajar untuk mengejar ketertinggalan. Sebab konon katanya kesuksesan hanya untuk orang-orang yang nilainya sempurna.

Padahal tidak semua orang bisa berkibar di dunia akademik. Yang tak pandai matematika mungkin saja punya kecerdasan di bidang lainnya. Dia yang tidak sekolah sampai perguruan tinggi, belum tentu juga dia kosong ilmu. Sebab ilmu bisa dicari di mana saja, dan yang diajarkan di bangku sekolah hanya sebagian saja. Inilah daftar skill yang tidak diajarkan di sekolah, setinggi apapun tingkat pendidikanmu. Kamu sudah punya belum?

1. Sekolah memang menuntutmu untuk menjadi pintar. Tapi cita-cita dan keberanian bermimpi tak kamu dapatkan hanya dengan mencatat pelajaran

Keberanian bermimpi tidak didapat dari rajin mencatat pelajaran via www.tumblr.com

Kamu ingat masa-masa sekolah dan kuliah dulu? Datang paling awal supaya bisa duduk di bangku paling depan. Lalu sepanjang belajar, kamu sibuk mencatat penjelasan pengajar lengkap hingga titik dan komanya. Kamu juga rajin meng-copy materi dan handout yang diberikan. Itu semua demi kelancaran nanti masa ujian, karena kamu mengakui bahwa ingatanmu ada batasnya. Namun setelah rumus-rumus kamu hafal, teori-teori kamu pahami luar dalam, dan nilai IPK-mu pun membanggakan, apakah otomatis kamu sudah sukses? Belum.

Kamu harus punya cita-cita dan tujuan hidup. Kamu juga harus punya keberanian untuk bermimpi dan mengejar mimpi tersebut. Apakah semua itu kamu dapatkan di kelas? Tidak. Kamu mendapatkannya dari dalam dirimu sendiri. Kamu mungkin juga melihat orang lain dan terinspirasi, namun pada akhirnya hanya kamu yang bisa mengajari dirimu sendiri untuk berani bermimpi.

2. Keberanian serta etika ungkapkan pendapat juga tidak bisa didapatkan di buku paket pelajaran. Kamu harus berpikir sendiri bagaimana yang tepat

Advertisement

Belajar berpendapat dengan cara yang tepat via simomot.com

Coba lihat perdebatan di media sosial. Coba juga lihat kilas-kilas berita diskusi di TV yang pada akhirnya berujung ricuh. Sebagai negara demokrasi, kita memang punya kebebasan dan hak untuk berpendapat. Sayangnya kita masih sering sulit membedakan antara berpendapat dengan mencaci dan menghina. Diskusi yang harusnya berjalan komunikatif sehingga pesan-pesan tersampaikan, berujung pada debat kusir yang akhirnya tidak ada manfaatnya.

Kesadaran atas hak-hak sebagai warga negara untuk mengemukakan pendapat, tidak cukup kamu dapatkan dalam pelajaran sekolah. Bagaimana etika menyampaikan pendapat sehingga tidak mengganggu atau menyinggung orang lain, juga merupakan hal yang harus kamu pahami sendiri. Di sekolah sering kita dituntut untuk sama, alias menerima satu jawaban untuk satu pertanyaan. Di dunia nyata, kita berhadapan dengan perbedaan. Di sinilah kita harus belajar sendiri bagaimana cara menghargai pendapat yang berbeda.

3. Membangun citra diri dan jaringan koneksi tidak otomatis didapatkan meski sudah menyandang gelar sarjana. Kamu harus sosialisasi ekstra di luar kelas

IPK tinggi tapi koneksi minim juga bakal susah dalam dunia kerja via www.entrepreneur.com

Sistem peringkat dan IPK meski dimaksudkan untuk menentukan hasil belajarmu dalam sistem angka, bagaimanapun juga membuat kita sering berpikir hanya sebatas angka itu. Bukan lagi ilmu yang kita cari, melainkan angka. Padahal angka bisa didapatkan dengan mudah, dengan cara apa saja. Sementara ilmu harus diperoleh dengan usaha keras. Kita yang lupa pada pentingnya ilmu dibanding angka, mungkin belum sadar bahwa kini dunia selepas kuliah sangat berbeda. Nilai tinggi memang sangat membantu, tapi itu bukan satu-satunya penentu kamu bisa mendapat pekerjaan sesuai keinginanmu.

Entah itu menjadi pengusaha ataupun bekerja untuk orang lain, kepercayaan adalah hal yang menentukan kesempatanmu. Karena itu, membangun personal branding atau citra diri yang keren akan sangat membantu. Bukan sekadar untuk pencitraan, melainkan untuk menunjukkan bahwa kamu punya kredibilitas tinggi dan bisa dipercaya. Hal inilah yang harus kamu pelajari dari luar kelas. Mulai ikut organisasi, mengembangkan hobi, serta konsisten meng-upgrade diri sendiri akan bisa kamu jadikan nilai tambah.

4. Kemampuan bersosialiasi dan bernegoisasi merupakan inti dari kehidupan. Softskill ini tidak serta merta kamu peroleh meski nilai dan prestasimu memukau

Tiap hari perlu memoles skill bersosialisasi di mana pun via smceducationblog.tumblr.com

Di bangku sekolah, kamu mendapat pelajaran dari Aristoteles tentang ‘zoon politicon’, alias manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Betul. Tapi bagaimana caranya bersosialisasi, itu yang harus kamu cari sendiri. Bagaimana menghadapi orang-orang yang beragam sifatnya, itu harus kamu jalani kemudian kamu mengerti sendiri. Bagaimana menghadapi sebuah situasi yang menuntutmu untuk cepat beradaptasi, itu juga harus kamu pelajari sendiri.

Kelak di dunia kerja, kamu juga akan sering dihadapkan pada situasi yang butuh kemampuan negoisasi. Entah apakah itu dengan atasan, klien, ataupun rekan kerja. Tak hanya terbatas di dunia kerja, banyak sekali momen-momen negoisasi yang harus kamu jalani. Mulai dari tawar-menawar di pasar, hingga nanti saat merencanakan pernikahan, negoisasi itu tak terhindarkan. Komunikasi yang baik tentu sangat diperlukan. Rajin masuk kuliah dan mengerjakan tugas saja tidak cukup untuk mengembangkan skill ini. Kamu perlu keluar, bertemu dengan orang, belajar menjalin relasi, dan akhirnya belajar bernegoisasi.

5. Meski belajar ekonomi dan ilmu berhitung mati-matian, tapi apakah itu cukup mengajarimu bagaimana mengelola penghasilan yang tak seberapa agar kebutuhan terpenuhi semua?

Tak ada ilmu pasti yang ajari caranya memisahkan keinginan dan kebutuhan via www.cantik.com

Bila kamu belajar ekonomi, kamu memang akan belajar bagaimana mengelola uang. Kamu diajari bagaimana membuat rencana usaha agar untungnya bisa maksimal. Kamu juga diajari menghitung laba dan rugi perusahaan fiktif yang angkanya begitu fantastis. Soal budgeting dan rencana keuangan skala besar kamu jagonya. Soal bagaimana mengatasi krisis-krisis keuangan, kamu ahlinya.

Tapi jago dan ahli mengatur keuangan perusahaan belum tentu membuatmu jago mengelola keuangan pribadi. Ilmu-ilmu di sekolah tidak mengajarimu bagaimana mengatur gaji yang tak seberapa agar kebutuhan sebulan terpenuhi semua. Bagaimana memilah antara kebutuhan dan keinginan agar belanja tidak kebablasan. Serta bagaimana kamu meredam keinginan untuk hidup mewah di awal bulan, hanya untuk terseok-seok di akhir bulan. Terakhir, sekolah juga tidak mengajarimu bagaimana agar tabungan tetap jalan, meski gaji baru dua jutaan.

6. Kebenaran kunci jawaban ujian mungkin memang tak bisa ditawar, tapi dalam kehidupan nyata benar atau salah itu relatif. Belajar menghargai versi ‘benar’ orang lain itu mutlak perlu

Di luar kelas, semua orang ingin versi kebenarannya diterima via unsplash.com

Belajar mendengarkan dan bertanya berarti belajar memahami. Informasi yang simpang siur dan terkadang hanya sepotong-sepotong bisa menggiring pada kesimpulan yang salah. Pikiran yang tertutup dan keyakinan bahwa pendapatnya yang paling benar juga membuat kita menutup diri dari persepsi yang berbeda. Padahal mungkin kita hanya melihat dari satu sisi, sementara sisi yang lain tidak kita pahami.

Di sekolah, kita diajari untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saat ujian. Tapi terkadang dia yang banyak bertanya di kelas dianggap bodoh dan tidak paham-paham. Padahal memahami sebuah persoalan memang butuh waktu agar pemahaman itu tidak artifisial belaka. Belajar mendengarkan artinya belajar keluar dari subjektivitas diri dan melihat masalah dari sisi yang berbeda. Karena itulah modal utama untuk hidup bersama-sama dengan yang lainnya.

7. Berlembar-lembar rapor atau transkrip sebagai penilaian atas performa studimu, tak cukup mewakili nilai diri yang sesungguhnya. Temukan kekuatan dalam diri untuk bisa menghargai diri seutuhnya

Jangan sampai menilai rendah dirimu sendiri via unsplash.com

Rasa cinta pada diri sendiri akan membuatmu berani bermimpi. Kamu tahu bahwa dalam dirimu ada potensi yang bila dikembangkan akan membuatmu sehebat orang-orang lainnya. Kamu tahu dalam dirimu ada keunikan yang patut kamu banggakan, meskipun ada hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan.

Dari situ, kamu bisa berjalan dengan kepala tegak untuk menggapai cita-citamu. Dari situ, kamu bisa memilah apa yang boleh kamu berikan dan apa yang harus kamu simpan. Dari situ, kamu bisa menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisi. Dan dari situ juga, kamu juga bisa belajar untuk menghargai orang lain, karena hanya orang yang bisa menghargai diri sendiri yang bisa memperlakukan orang lain dengan layak. Skill ini tidak bisa kamu dapatkan dari buku-buku paket pelajaran. Sebab kamu harus melongok jauh ke dalam dirimu sendiri, memahaminya, dan mensyukuri atas segala yang kamu miliki.

8. Pada akhirnya, sekolah memang membantu meluruskan jalanmu meraih cita-cita. Bagaimana bangkit dari kegagalan adalah hal yang hanya bisa kamu peroleh dari pengalaman

Terkadang hidup memang tergelincir, dan kita harus bisa belajar untuk bangkit lagi via blog.flywire.com

Kita sekolah untuk mencari ilmu. Dengan begitu, kamu punya senjata dan amunisi untuk meraih cita-cita yang sudah kamu gantungkan setinggi bintang. Di sekolah dan di kampus, kita memang diajari ilmu ini dan itu yang akan membantumu meraih cita-cita. Namun kita sering lupa bahwa cita-cita bukan tahu bulat yang mudah kita dapat dengan harga lima ratusan. Meraih cita-cita terkadang memerlukan perjalanan panjang yang terkadang harus jatuh bangun hingga memutar. Ada yang sukses di percobaan pertama, tapi ada yang harus mengalami kegagalan berkali-kali.

Sekolah tidak mengajarimu bagaimana berdamai dengan kenyataan, bagaimana mensugesti diri bahwa kita bisa lebih baik dari ini. Bagaimana menerima kegagalan dan bangkit dari sana, tidak masuk dalam kurikulum pendidikan apapun. Kamu harus belajar sendiri dengan cara jatuh berkali-kali, dan bangkit berkali-kali.

Ilmu bisa didapat dari mana-mana. Tak mesti dari gedung-gedung sekolah yang berujung pada gelar di belakang nama. Pendidikan sangat penting, itu sudah jelas. Tapi jangan lupa untuk membekali dirimu dengan berbagai softskill lain yang tidak kalah berguna. Tapi mungkin istilah pendidikan harus diluaskan, sehingga tidak sebatas pada pendidikan formal di kelas, melainkan juga pendidikan-pendidikan informal seperti pergaulan dan peristiwa-peristiwa sehari-hari yang bisa dihayati. Softskill-softskill ini tidak semuanya masuk ke kurikulum. Karena itu, setinggi apapun pendidikan, pikiran harus tetap terbuka agar kita bisa dapat ilmu dari mana saja.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya