Semenjak akhir dekade pertama di abad 21, kata “bingung” nggak lagi jadi kata yang sering dipakai orang-orang di Indonesia. Ia tersisih oleh kata “galau” yang kini hits banget. Namun sayangnya, kata galau terlalu kita identikan dengan hal-hal yang berbau cinta, apalagi di kalangan anak muda.

Padahal, galau karena cinta itu hal yang sepele untuk kamu yang masih muda. Nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan banyak hal lain yang sebenarnya lebih pantas kamu jadikan objek untuk bergalau ria. Nggak percaya? Sebenarnya kamu lebih baik galau karena apa aja sih?

Bagi kamu yang masih sekolah, cinta monyet memang bisa bikin galau. Tapi bukannya lebih baik galau mikirin antara lanjut kuliah atau kerja lalu mau kuliah dimana?

Belajar, berkarya dan berprestasi via www.smamta-ska.sch.id

Bagi anak-anak remaja, terutama anak SMA, galau soal cinta bisa jadi makanan sehari-hari. Nggak heran kok, sebab pada masa itulah banyak dari kamu yang mulai mengenal rasa suka pada lawan jenis. Namun yang perlu diingat adalah ada hal yang lebih penting untuk kamu galaukan.

Perjalanan hidupmu masih panjang. Mending persiapkan masa depan ketimbang memikirkan orang yang tak lagi menyimpan hati padamu. Nggak ada yang mengelak kalau garis start hidupmu ditentukan pada waktu SMA. Kamu di masa depan adalah apa yang kamu lakukan di masa sebelumnya.

Advertisement

Kesampingkan kisah kelam cinta monyetmu dan mulailah bangun rangkaian kerangka untuk rumah yang bernama cita-cita . Mulailah memiliki tujuan untuk melanjutkan hidup. Pada masa SMA, lebih baik kamu galau karena pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati soal masa depanmu, seperti kuliah atau langsung kerja? , kuliah di mana? , kuliah jurusan apa? , kalau nggak keterima kuliah gimana ya? dan pertanyaan lainnya kecuali soal cinta.

Galaulah karena jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Cuma fokus kuliah tapi lupa nambah pengalaman dan memperluas lingkaran sosial

Harus seimbang. Jangan lupa kewajiban via 3.bp.blogspot.com

Saat ini kamu sedang duduk di bangku kuliahan selayaknya mahasiswa-mahasiswa lain. Namun, nggak ada yang bisa membedakan kamu dengan yang lainnya. Kamu adalah mahasiswa biasa yang kupu-kupu (kuliah, pulang-kuliah, pulang).

Perlu diingat, masa kuliah adalah waktu yang paling tepat untuk membangun identitas diri yang positif dan menjadi jauh lebih baik di bidang yang kamu gairahkan. Coba kalau kamu jadi mahasiswa yang biasa saja. Mau berbekal apa untuk menghadapi step selanjutnya dalam hidup (dunia kerja)? Nilai IPK kah? Itu nggak cukup, guys. Perusahaan-perusahaan sekarang lebih butuh fresh graduate yang berbekal banyak pengalaman entah bersama organisasinya atau bahkan pengalaman kerja yang disambi saat kuliah.

Nggak hanya itu, kamu juga sangat disarankan untuk bisa memperluas lingkar sosialmu. Perbanyaklah teman, jangan pilih-pilih teman. Sejatinya, watak setiap orang memang berbeda, tapi tetaplah selalu berpegangan: ambil baiknya, buang buruknya. Siapa yang tahu kalau salah satu atau dua dari temanmu (bahkan yang punya watak atau kebiasaan nggak baik) itu bisa memberikanmu rekomendasi kerja di masa depan.

Cita-cita dan karirmu lebih pantas diperjuangkan, daripada galau gara-gara cinta dan seseorang yang sebenarnya nggak bisa diharapkan

“Gimana ya?” via www.pexels.com

Selepas lulus, kamu yang masih saja galau karena cinta, kamu pantas untuk disebut budak cinta. Ya memang begitu, soalnya kamu lebih memilih larut dalam kesedihan ketimbang galau soal langkah yang perlu kamu ambil selanjutnya.

Galaulah karena hal-hal yang lebih pantas, seperti Kerja atau lanjut kuliah ya? , Udah gede, kok masih nyusahin orang tua? , Kerja di bidang yang sesuai dengan jurusan atau kerja di mana aja asal nggak nganggur ya? .

Tapi kalau galaumu jadi sebuah karya, entah itu puisi, lagu, cerpen, novel atau karya-karya lainnya, oke-oke aja sih. Kita layak memberimu selamat karena kamu berhasil mengubahnya jadi sesuatu yang negatif jadi sesuatu positif.

Itulah hal-hal yang pantas kamu jadikan objek untuk galau ketimbang galau karena cinta. Cobalah dipikirkan, ketika kamu terus mengejar cinta dan terus berurusan dengan cinta, cita-citamu sangat dan impianmu mungkin menjauhimu. Berbeda kalau kamu kejar cita-cita. Cinta pasti menghampiri di kemudian hari. Ketika tiba masanya, percayalah cinta akan datang dengan sendirinya. Mereka bisa datang karena telah tercapainya cita-citamu.

Kejar dulu cita, baru cinta. Bahkan cinta mah nanti bisa menghampiri kalau cita-citamu tercapai.