Bekerja dan memiliki karier yang cemerlang bagi perempuan masa kini telah menjadi hal yang wajar. Jika dulu peran perempuan dibatasi hanya pada pekerjaan yang bersifat rumahan, kini mereka sudah lumrah ke luar rumah. Seiring dengan semakin banyaknya kaum hawa yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, kesempatan untuk mengukir karir gemilang pun terbuka semakin lebar.

Namun tidak sedikit pula perempuan bergelar sarjana yang menjadi seorang ibu rumah tangga. Sementara itu, sebagian orang masih menganggap bahwa tinggal di rumah setelah lulus dari perguruan tinggi adalah kesia-siaan. Setelah menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk mendapat gelar sarjana, sayang jika perempuan “hanya” akan menjadi ibu rumah tangga. Tapi benarkah seperti itu? Bukankah tak ada ilmu yang sia-sia, dan tak ada pekerjaan yang bisa diberi embel-embel ‘cuma’?

Gairah meniti karier selagi muda pasti pernah terpikir olehmu yang ibu rumah tangga. Sama seperti teman lainnya, kamu juga punya ambisi dan cita-cita

kelulusan datang via survivinamerica.com

Bagi seorang sarjana, rasanya tidak salah bila kamu memiliki banyak mimpi yang menunggu untuk dituntaskan. Berbagai kesempatan kerja yang datang tidak ingin kamu lewatkan. Mengirim surat lamaran ke berbagai perusahaan menjadi agenda yang memenuhi kegiatanmu selanjutnya. Ada semangat yang berkobar di dalam hati bahwa ini adalah saat yang tepat untuk membayar setiap pengorbanan orangtua selama membiayai semua kebutuhanmu. Membahagiakan mereka menjadi tujuan terbesar selanjutnya.

Sebagai perempuan muda yang cerdas kamu tentu bangga jika akhirnya bisa menopang biaya hidup sendiri. Pandangan bahwa perempuan karier dilihat sebagai sosok yang hebat juga wajar membuatmu semakin ingin membuktikan diri. Maka tidak mengherankan bila kamu terus ingin berlari mengejar segala mimpi. Termasuk juga membahagiakan kedua orangtua sebelum akhirnya mereka abadi menutup mata.

Hingga tiba saatnya seseorang datang padamu dan memintamu menghabiskan hidup bersama. Menjadi ibu dari anak-anaknya, kamu pun risau dengan keputusan untuk tetap bekerja

Advertisement

memutuskan menikah via www.huffingtonpost.com

Setelah berkarier selama beberapa tahun, tiba pula waktu yang kamu tunggu untuk mengikat janji dengan seorang pria yang kamu cintai. Kamu jelas bahagia karena pada akhirnya kamu akan memiliki keluarga kecil. Tapi di sisi lain, ada kerisauan yang mulai tumbuh dalam pikiranmu.

“Apakah kamu mampu bekerja sekaligus menjadi istri dan ibu yang sama baiknya?”

Rasa risau yang datang semakin jadi tatkala kamu sadar akan punya buah hati sendiri. Jelas tidak mudah membagi konsentrasi antara pekerjaan di kantor dengan peran ibu secara penuh. Banyak ibu yang mampu melakukannya, bahkan bukan tidak mungkin ibumu juga. Namun persoalannya di sini adalah kemampuanmu sendiri. Melihat track record-mu yang lebih suka fokus pada satu hal daripada mengemban dua tanggung jawab yang berbeda, kamu tak yakin sepenuhnya bisa menjadi ibu dan wanita karier yang tangguh.

Belum lagi membayangkan melewati tumbuh kembang sang anak saat harus seharian menghabiskan waktu dengan setumpuk pekerjaan. Meski menghormati pilihan orang lain, kamu pribadi tetap ingin supaya anak-anakmu kamu asuh sendiri, tanpa mengandalkan pengasuh bayi. Pilihan untuk keluar dari pekerjaanmu yang sekarang pun mulai berkecamuk di pikiranmu.

Sudah terbayang komentar orang tentang niatmu berhenti bekerja. Seolah dengan tinggal di rumah, gelar yang kamu punya jadi sia-sia

apa kata orang? via www.businesscircle.com.my

Memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan pekerjaan nyatanya tidak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan. Mulai dari sayangnya melepas kesempatan yang telah kamu dapatkan sampai dengan semua pemikiran orang mengenai keputusan yang akan kamu ambil nantinya. Sebagian orang tentu mendukung keputusanmu tersebut. Tapi di sisi lain pasti ada juga orang yang menilai bahwa meninggalkan pekerjaan adalah suatu keputusan keliru.

Tidak hanya memikirkan perkataan orang, keresahan dan kebingunganmu juga bertambah memikirkan komentar sanak keluarga jika kamu memutuskan untuk berhenti bekerja. Berbagai kalimat seperti:

“Kok berhenti kerja, apa gak sayang sama gelarmu?”

“Kalau cuma buat tinggal di rumah, apa gunanya sekolah tinggi-tinggi?”

Padahal gelar sarjana yang dimiliki oleh perempuan masa kini bukan hanya akan berguna jika digunakan bekerja di kantoran. Sebaliknya, menjadi ibu rumah tangga bukan lagi hanya urusan mencuci dan memasak saja. Pekerjaan domestik itu juga butuh kecerdasan dan ketangguhan, sama seperti pekerjaan kantoran.

Untuk mencetak anak-anak cerdas, diperlukan ibu berkualitas: ilmu yang sudah kamu timba tak hanya akan berguna bila kamu bekerja saja

ibu dan anak via www.huffingtonpost.com

Memiliki pendidikan tinggi juga diikuti oleh tuntutan untuk memiliki karir cemerlang. Pemahaman bahwa ibu rumah tangga perlu juga mempunyai bekal pendidikan baik belum banyak dimengerti. Ketika perempuan pada akhirnya tinggal di rumah dan melepas (untuk sementara atau untuk waktu lama) tanggung jawab mencari nafkah, maka proses menempuh pendidikan di perguruan tinggi dirasa sia-sia.

Padahal untuk mendidik anak di zaman sekarang diperlukan sosok perempuan yang tidak hanya pandai memasak, mencuci, dan membereskan rumah. Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya yang juga harus mengerti berbagai hal yang kelak akan ditanyakan. Mendidik moral dan intelektual seorang anak memerlukan bekal yang matang. Jika kamu tidak memiliki latar belakang mumpuni rasanya memiliki anak-anak cerdas pun akan sulit dicapai.

Tidak melulu soal anak, suamimu kelak juga perlu perempuan yang mampu diajak berbagi pikiran; menyelesaikan berbagai masalah yang datang menghadang

partner berpikir suami via www.sofeminine.co.uk

Pria yang kelak akan menikahimu tentu bangga memiliki perempuan yang tidak hanya cantik parasnya tapi juga cerdas pemikirannya. Karena kepadamulah ia nantinya akan berkeluh kesah saat ada masalah yang menghampirinya. Jika kamu tidak memiliki wawasan luas tentu sulit baginya berbagai beban bagimu. Sekali lagi pendidikan yang baik akan membentuk cara berpikir dan kemampuanmu melihat masalah dari sudut pandang berbeda.

Dia juga akan bangga mengajakmu pergi ke berbagai acara, karena meskipun menjadi ibu rumah tangga kamu punya cara berpikir yang berbeda. Seorang istri yang cerdas adalah harga diri bagi semuanya.

Pendidikan yang kamu dapat di bangku kuliah akan mempengaruhi cara berpikir, berbicara, dan kamu bertindak. Mungkin kamu tidak akan merasakannya sekarang, tapi bila masanya sudah datang, ‘perbedaan’ tersebut pelan-pelan akan terlihat.

Sesekali pasti terdengar nada sumbang tentang pilihanmu menjadi ibu rumah tangga. Tidak mengapa, itu hanya sebagian dari tantangan hidup yang pasti ada.

percaya pada keputusanmu via thoughtcatalog.com

Kamu tentu tidak dapat mengerem opini orang lain tentang dirimu. Tidak mengapa, pahamilah itu sebagai bagian dari konsekuensi hidup. Karena toh kalau pun kamu kelak memilih bekerja, komentar lainnya seperti:

“Perempuan baiknya sih ngurusin suami sama anak aja di rumah”

“Apa gak kasihan sama anaknya di tinggal-tinggal terus sama ibunya?”

Iya, baik kamu memilih meneruskan bekerja atau jadi ibu rumah tangga, pasti ada kritik yang melayang ke wajahmu.

Tidak ada kesia-siaan dari semua pengorbananmu saat memilih untuk sepenuhnya menghabiskan waktu untuk mengurus keluarga. Seperti telah dikatakan sebelumnya, setiap keputusan tentu memiliki risikonya tersendiri. Dan sebagai perempuan cerdas yang dewasa, kamu sangat memahaminya.

Percayalah ada kebaikan dalam setiap keputusan. Kamu tidak perlu rendah diri hanya karena keputusanmu ini.

ibu cerdas akan melahirkan anak yang cerdas via www.huffingtonpost.com

“Apakah memalukan sarjana yang jadi ibu rumah tangga? Terus apakah mengurus suami dan membesarkan anak tidak perlu perempuan berpendidikan?” – Ina C, Jakarta

Perasaan minder atau kurang percaya diri saat memilih untuk tidak bekerja setelah menjadi ibu rumah tangga terasa wajar. Namun satu yang perlu  kamu ingat peranmu sebagai seorang istri dan ibu yang mengurus keluarga secara penuh tidak dapat dibayar oleh apapun. Tidak ada pekerja yang bekerja sepanjang hari seperti seorang ibu dan tidak ada pula pekerja yang mau bekerja tanpa diberi upah kecuali seorang istri.

Itu semua hanyalah soal pilihan, bukan masalah benar atau salah. Jalanilah semua pilihan dengan penuh rasa tanggung jawab. Karena suatu hari nanti, saat anak-anakmu telah dewasa dan bersama suamimu akan menua mereka akan merasa bangga memiliki seorang perempuan yang rela mempersembahkan hidupnya untuk mengurus secara total keluarganya.

Percayalah pada setiap keputusan yang telah kamu ambil. Karena apapun itu asalkan kamu dapat mempertanggung jawabkannya kelak hal itu akan membuahkan hasil yang maksimal. Sebuah kutipan yang sangat menyentuh nampaknya dapat menjadi penutup yang manis dari artikel ini:

“Entah akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.” – Dian Sastrowardoyo