Mengejutkan fakta bahwa kita mudah sekali merasa iri. Melihat teman posting foto-foto travelling di media sosial, lantas kita iri buta karena merasa hidupnya sempurna. Melihat pasangan muda, sama-sama cantik dan tampan, berasal dari keluarga kaya dang masing-masing punya karier yang cemerlang, lantas kita putuskan bahwa mereka adalah relationship goals bersama. Di saat yang sama, momen reunian dengan teman lama menjadi hal yang menakutkan. Sebab kamu merasa hidupmu tidak ada yang membanggakan.

Sering kita melihat hidup orang lain yang begitu sempurna, lantas mendambakan hidup yang sama. Lalu kita mulai membanding-bandingkan hidup sendiri dengan kehidupan mereka yang terlihat sempurna itu. Kita mulai berandai-andai menjadi orang-orang ‘keren’ itu, di saat yang sama menghujat hidup yang dijalani sendiri. Terinspirasi oleh hidup orang lain boleh saja, namun tidak ada alasan untuk terus-terusan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Kita tidak pernah tahu hidup orang lain. Terlalu dini menilai dia yang hidupnya terlihat sempurna pasti lebih bahagia

Foto hanya merekam momen bahagia. Ada momen benci, sedih, marah juga di baliknya via stefankunz.tumblr.com

Apa yang terlihat di mata orang belum tentu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Sering posting foto kemesraan di media sosial, belum tentu tidak pernah bertengkar selama menjalin hubungan. Menjalani profesi travel blogger yang begitu membuat orang lain iri, belum tentu juga tidak pernah mengalami stres sehari-hari. Dia yang punya karier mapan dan pendapatan lumayan, bisa saja sebenarnya ingin menempuh karier yang menjadi passion-nya namun tak cukup punya nyali untuk mencoba. Dia yang selalu tertawa dan memasang wajah ceria belum tentu benar-benar bahagia di dalam hatinya. Karena kita tak pernah tahu bagaimana hidup orang lain yang sebenarnya, sia-sia bila kita sibuk membandingkan diri dengannya.

Dia yang hidup kekurangan tapi bisa merasa cukup, sebenarnya lebih bahagia daripada dia yang kaya raya tapi selalu merasa kurang

Bisa menghargai kebahagiaan meski hidupnya tampak kekurangan via www.awesomeinventions.com

Advertisement

Dia yang bergelimang harta, dari ujung rambut hingga ujung kaki dipenuhi merek ternama yang harganya berjuta-juta, belum tentu hidupnya lebih bahagia daripada yang lain. Sementara kamu yang hanya karyawan biasa, belum tentu juga hidupnya lebih mengenaskan daripada yang lain. Kamu mungkin harus bekerja keras 22 hari sebulan demi gaji yang hanya cukup untuk makan dan harus berpuas diri dengan hiburan-hiburan murah. Tapi kamu juga adalah orang yang bisa benar-benar merasa bahagia hanya karena bisa bercengkrama dengan keluarga di akhir pekan.

Bahagia memang adalah soal pilihan persepsi kita tentang kehidupan. Sebab dia yang hidup sedikit kurang tapi sudah merasa berkecukupan tentu lebih nyaman daripada dia yang bergelimang harta tapi masih saja merasa kurang uang.

Setiap orang punya masalah hidup sendiri-sendiri. Kesulitan yang kamu hadapi saat ini, belum tentu orang lain bisa menangani

Tiap orang punya masalah sendiri-sendiri, hidup yang sempurna bukan yang bebas problematika via unsplash.com

Saat problematika mendera, kamu sering bertanya-tanya mengapa kamu harus mengalami ini semua? Lantas kamu pun berandai-andai menjadi dia atau dia, yang hidupnya terlihat sempurna. Kamu terlalu sibuk meratapi nasib, sampai lupa bahwa kamu hebat bisa mengatasi masalah yang sedang terjadi ini. Garis hidupmu tidak mudah, dan kamu luar biasa bisa bertahan hingga titik ini. Hanya kamu yang bisa menjalani hidupmu. Sementara dia yang menurutmu hebat itu, belum tentu bisa mengatasi saat dihadapkan pada masalah yang sama. Jadi, apa yang perlu membuatmu rendah diri? Setiap dia yang hidup memiliki masalah-masalahnya sendiri.

Membandingkan diri dengan orang lain tak akan membuatmu hidupmu lebih baik. Justru bisa mengikis seluruh rasa percaya diri

Jangan terus menganggumi hidup orang lain via unsplash.com

‘Life is what happens to you while you’re busy making other plans’

Kata-kata John Lennon ini layak kita renungkan. Sementara kita sibuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, sibuk mengagumi orang lain dan menyesali diri sendiri, hidup terus berjalan meninggalkanmu jauh ke belakang. Tidak ada yang kamu perbaiki dengan memperbandingkan diri sendiri dengan orang lain. Justru barangkali itulah yang membuat hidupmu terasa lebih berat, sebab kamu sibuk memakai standar orang lain untuk menilai hidupmu sendiri. Keberhasilan orang lain yang seharusnya bisa menginspirasi justru sedikit demi sedikit mengikis rasa percaya diri. Selanjutnya gagap dalam melangkah, takut gagal dan tidak sehebat orang-orang di luar sana.

Jangan hanya menengok ke atas, sesekali lihatlah ke bawah. Mari belajar mensyukuri apa yang sudah dimiliki

Sesekali lihatlah ke bawah, maka kamu akan melihat betapa beruntung nasibmu via jammer.hu

Menyimak keberhasilan teman memang bagai pedang bermata dua. Pertama, kamu mungkin ikut berbahagia dengan keberhasilannya. Kedua, tak bisa disangkal ada sedikit rasa iri dalam hati, sekaligus rendah diri karena kamu ingin juga merasakan keberhasilan yang sama. Tapi hidup akan terasa berat bila kamu terus-terusan mendongak ke atas. Kamu terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa kamu raih, sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah kamu miliki.

Kamu yang karyawan biasa yang berangkat pagi pulang malam sibuk merasa iri pada orang-orang yang tak harus kerja keras tapi penghasilan milyaran, sampai lupa bahwa ada orang lain di luar sana yang setelah bangun tidur sibuk memikirkan akan melamar kerja di mana. Jangan melulu melihat ke atas, sesekali lihat ke bawah. Kamu akan menyadari, betapa beruntungnya dirimu.

Fokus saja pada hidupmu. Jadilah yang terbaik versimu, dan tak perlu mendengarkan orang-orang di sekitarmu

Fokus saja untuk menjadi yang terbaik versimu via unsplash.com

Bila merasa ada yang salah dengan hidupmu, maka perbaikilah. Bila merasa pencapaianmu masih begini-begini saja padahal waktu terus berjalan, maka kejarlah cita-cita. Bila merasa kamu salah jalan dan harusnya bergelut di bidang lain yang lebih mencerminkan dirimu, maka cobalah. Jika kamu tidak suka dengan hidupmu saat ini, gantilah. Toh, kamu bukan pohon yang tidak bisa pindah ke mana-mana. Tak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, toh kamu adalah kamu. Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bahagia. Sibukkan diri dengan fokus untuk memperbaiki diri, sehingga kamu bisa menjadi yang terbaik versimu.

Sebab jalur hidup setiap orang tidaklah sama. Definisi bahagia pun masing-masing orang punya sendiri

Ada yang cukup bahagia dengan bersantai dan membaca buku. Semuanya terserah kamu via listisar.se

Ada yang bahagia dengan membangun keluarga di usia muda. Ada yang bahagia ketika bisa menjadi pengusaha yang sukses dan diakui dunia. Ada yang bahagia ketika punya jabatan tinggi dan penghasilan sampai dua digit. Ada yang bahagia dengan menonton konser penyanyi idola di seberang benua. Tapi ada juga yang bahagia hanya dengan makan tiga kali sehari dengan menu sesuai anjuran menteri kesehatan. Ada juga yang bahagia ketika bisa membuat orang lain tersenyum. Setiap orang punya definisi bahagia dan sukses sendiri-sendiri. Tidak ada salah dan tidak ada yang paling benar. Karenanya, menilai hidup diri sendiri dengan standar orang lain tidak akan memberimu apa-apa.

Membandingkan diri dengan orang lain tidak akan ada habisnya. Bagus bila dari perbandingan itu kamu jadi termotivasi untuk memperbaiki diri. Buruk bila dari situ kamu justru semakin rajin meratapi hidup yang kamu jalani hanya karena kamu merasa kurang berarti. Toh, kamu tidak tahu kan apakah kamu masih akan sebahagia yang kamu pikirkan bila saja kamu punya kesempatan untuk bertukar tempat dengan dia yang kamu puja.

Rasa iri itu wajar, tapi jangan terlalu lama dipelihara. Mari kita belajar menghargai apa yang kita punya. :))

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya