Terkadang di malam-malam panjang yang terasa lebih sunyi, kamu terpekur mendapati bagaimana kehidupan berjalan selama ini. Anehnya, gilanya, bahagianya, kejutannya — semua. 

Ini jelas lebih baik dari perasaan hilang yang sempat melanda. Sempat dahulu, beberapa saat kamu merasa dilepas, seperti anak burung yang dibebaskan dari sangkar. Seakan tuan dan induknya tidak peduli pada kelangsungan nasibku. Hari hanya berjalan tanpa arah yang pasti. Rutinitas dijalani dengan hati yang tak terisi. Dulu, kamu pernah menjalani hidup yang tak sedikitpun berani mencanangkan harapan tinggi.

Bagaimana kini? Bahagiakah?

Mampukan kami menjalaninya via www.engagedandinspired.com

Tentu saja tidak sepenuhnya.

Kamu masih menangis saat tak ada siapapun di sisi. Ditengah jam kerja kadang aku menyelinap ke lantai dua agar tak ada yang tahu air mata ini masih jatuh sendiri. Tapi kamu pun merasa lepas. Merasa bebas. Tak ada lagi yang menghalangi. Meski sakitnya tetap terasa sampai ulu hati.

Advertisement

Sesekali kamu pun masih berkeras hati. Merasa Ia terlalu keras dalam mendidikmu untuk mau mendengar lebih banyak lagi.

Rindu? Pasti. Bahkan kamu memilih untuk lebih lama membenamkan diri dalam pekerjaan agar tak punya waktu bengong seorang diri.Tak dipungkiri, bayangannya masih sulit terhapus dari sudut mata ini. Bahkan malam tadi kamu memilih rute berbeda dari jalan pulang yang biasa kulewati untuk menemuinya di ujung hari.

Tapi ini adalah jawaban dari harapan yang dipanjatkan olemu, dan orang-orang disekitarmu. Ini adalah jalanNyu, yang telah dengan indah Kau atur demi kalian.

Tuhan, sungguh saat ini kamu  masih terlalu bodoh untuk mengerti kemana akan Kau bawa. Tapi terima kasih sudah kembali, Tuhan. Terima kasih Kau tak pernah menutup mata dan pergi. Kini, ijinkan kami menangguhkan diri. Pasrah pada jalanMu yang tanpa cela ini.

Apapun yang menurutMu terbaik, tolong Tuhan, biarkan kami menjalani.