Munculnya berbagai media baru jadi fenomena menarik bagi kehidupan anak muda Indonesia. Dewasa ini ada Twitter, Facebook, Path hingga berbagai platform laman pribadi di blog. Semua hal tersebut mempengaruhi kultur membaca dan menulis kita.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa meningkatnya penggunaan media sosial dan berbagai media baru di kalangan anak muda membuat mereka kurang menggemari kegiatan membaca dan menulis. Aktivitas online menggantikan buku dan kertas.

Pertanyaannya, bener nggak sih kalau kita yang generasi Twitter ini lebih tidak melek membaca dan menulis kritis dibanding mereka yang tidak hidup di era digital?

Tingkat Literasi Generasi Twitter Ternyata Baik-Baik Saja

Tingkat literasi generasi Twitter baik-baik saja via bookswithbenefits.tumblr.com

Katanya sih, Twitter dan berbagai jejaring sosial lain jadi penyebab rendahnya tingkat literasi atau melek bacaan generasi muda. Salah satu cara mengetahui apakah suatu generasi cukup melek baca atau tidak adalah dengan menilai tulisan yang mereka hasilkan.

Advertisement

Andrea Lunsford, seorang peneliti dari Stanford University mengumpulkan 877 tulisan yang dihasilkan oleh mahasiswa dari tahun 1917-2006. Ia ingin membandingkan tingkat kesalahan penggunaan kata, komposisi dan kesalahan gaya bahasa dari tiap generasi.

Hasilnya cukup mengejutkan. Selama lebih dari 100 tahun tingkat kesalahan penggunaan kata memang meningkat tipis: dari 2,11% kesalahan per 100 kata pada 1917 ke 2,16% pada 2006. Tapi, berkembangnya sosial media tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam kenaikan 0,05% ini. Pengajaran grammar di sekolah-sekolah modern di Amerika jauh lebih ketat di tahun 1917 dibandingkan sekarang.

Twitter dan Berbagai Media Sosial Lain Justru Membuat Anak Muda Lebih Luwes Menulis

Media sosial membuat seseorang lebih luwes menulis via thebannercsi.com

Alih-alih menemukan hal negatif, Lunsford justru melihat perkembangan dalam kemampuan menulis anak muda. Pada tahun 1917, tulisan yang dihasilkan mahasiswa hanya berkisar 162 kata. Di tahun 1986, panjang tulisan meningkat 2 kali lipat hingga 422 kata. Pada tahun 2006 rata-rata panjang tulisan mahasiswa mencapai 1038 kata.

Selain panjang tulisan, riset dari Arizona State University yang dilakukan oleh Steven Graham menunjukkan bahwa generasi sosial media justru lebih fasih dalam menulis. Hal ini disebabkan oleh tingkat kecepatan menulis yang meningkat, karena kemudahan teknologi.

“Dengan laptop, tablet dan berbagai alat lain mereka bisa menulis lebih cepat. Ini memungkinkan anak muda menambahkan ide, mengedit, sehingga menghasilkan tulisan yang lebih dalam. Hal ini tidak mungkin dilakukan dengan pena dan kertas.” (Steven Graham)

Interaksi Di Media Sosial Justru Mendorong Generasi Twitter Menulis Lebih Baik

Dulu tidak ada interaksi langsung antara penulis dan pembaca via mishobaranovic.tumblr.com

Berbeda dengan pena dan kertas yang hanya mengantar penulis ke tangan pembaca, perkembangan sosial media dan blog membuat semua orang bisa jadi kritikus. Semua orang bebas menulis apapun, dan sebagai balasannya semua orang juga bisa mengkritisi hasil karya tersebut.

Permasalahan plagiarisme, saat seseorang cukup copy-paste-edit karya orang lain, bisa jadi disebabkan oleh keengganan untuk menghasilkan karya yang baik. Buat apa? Toh hanya guru yang membaca, tidak ada orang lain yang bisa memberikan penghargaan.

Berbeda dengan laman media sosial dan blog. Saat anak muda menulis di media digital, mereka menyadari bahwa karya yang dihasilkan akan menjadi konsumsi publik. Dampaknya, mereka menulis dengan konten dan struktur yang lebih berkualitas. Rata-rata panjang tulisan juga meningkat hingga 40%. Selain itu, interaksi langsung ini juga meningkatkan kemampuan para penulis untuk menyesuaikan isi tulisan dan gaya bahasanya berdasarkan karakter pembaca yang mereka sasar.

13.000 Kata Dari Eric Davey

Game Star Trek yang dibuat panduannya oleh Davey via www.gameogre.com

Motivasi untuk menulis karena ada interaksi dengan pembaca juga dirasakan oleh Eric Davey, seorang anak kelas 1 SMA di Amerika. Ia menghabiskan 18 bulan untuk menulis panduan tentang game online Star Trek sepanjang 13.000 kata. Karya ini dipublikasikan Davey di forum gamers dan mendapat tanggapan dari sesama penggemar Star Trek.

Panduan game adalah karya yang rumit, sehingga Davey perlu membuat catatan detail tentang setiap langkah yang harus diambil dalam permainan tersebut. Saat anak seusianya berkutat dengan tugas menulis dari sekolah sepanjang 500-1000 kata, Davey bisa membuat karya se-detail dan sepanjang itu karena ia tahu ada yang membaca dan menghargai karyanya.

Heidi Siwak, guru SD dari Ontario juga mengungkapkan bahwa pendeknya karakter yang disediakan oleh laman media sosial seperti Twitter justru membawa keuntungan.

“Twitter justru membuat anak-anak memperhatikan dengan detil apa yang mau mereka tulis. Karena hanya dibatasi 140 karakter, mereka memikirkan kata-kata dan tanda baca apa yang sebaiknya mereka gunakan. Ini sama seperti menulis puisi.” (Heidi Siwak)

Ingat, Media Sosial Tetap Punya Dampak Buruk

Bagaimanapun sosial media tetap punya dampak buruk via www.web-savvy-marketing.com

Ahli bahasa Naomi Baron mengatakan bahwa perkembangan sosial media tetap memiliki tendensi negatif. Anak-anak muda yang lebih akrab dengan sosial media akan terbiasa menggunakan bahasa non-formal. Ini bisa mempengaruhi gaya menulis mereka saat menggarap sesuatu yang serius.

“Mereka memang tidak mengomentari ‘LOL!’ atau menambahkan emotikon, tapi mereka akan menggunakan kata-kata yang lebih kasual. Bahasa sehari-hari. Padahal, frase akademis jika digunakan tepat akan membuat pembaca lebih memahami hal yang mereka berusaha sampaikan. Apalagi, kalau ide tulisan tersebut memang pada dasarnya cukup rumit dan kompleks.” (Naomi Baron)

Dampak buruk lain dari mudahnya informasi via internet adalah kurangnya kepekaan generasi muda untuk mencari sumber informasi yang dapat dipercaya. Mereka cenderung percaya pada apapun yang ada di baris pertama laman pencarian Google. Padahal, laman yang paling banyak dilihat belum tentu memiliki informasi yang paling benar.

Tapi, Dampak Buruknya Tetap Bisa Dikendalikan

Pendidikan adalah kunci agar bisa memilih informasi yang tepat via pancagarden.blogspot.com

Fenomena sosial media sebenarnya juga sempat terjadi pada abad ke-17 di Eropa. Saat itu, budaya nongkrong di kedai kopi berkembang pesat, dan kafe-kafe tempat berkumpul sekaligus bertukar informasi para ilmuwan. Kedai kopi ini dapat diibaratkan bak Facebook dan Google zaman dulu. Seseorang bisa mendapatkan informasi apapun, tapi belum sepenuhnya bisa dijamin keabsahannya.

Tenang, dampak negatif ini selalu bisa diatasi. Internet bisa digunakan untuk mendorong anak menulis, sementara guru di sekolah bisa mengajari mereka menulis dengan baik.

“Semua ini adalah masalah yang bisa diatasi. Faktanya, kita selalu ketakutan saat ada media informasi baru yang muncul di hidup kita. Suatu hari, kita akan tersenyum melihat bagaimana Twitter atau berbagai media sosial lain bisa mengubah kehidupan ini.” (Ezter Hargitai)

Ternyata, Twitter dan berbagai media sosial lain tidak selamanya buruk kan? Jika disikapi dengan bijak, berbagai media sosial di sekitar kita ternyata bisa membawa pengaruh positif ke tingkat daya dan semangat baca kita.

Jadi nge-tweet dan nge-Path jalan terus, tapi bisa tetap cerdas dong?