Hari Jumat

“Mbak, jam segini kok masih di kantor?”

“Iya Ma, kerjaan belum selesai soalnya. Hehe.”

“Duh, udah makan belum? Dijaga kesehatannya.”

“Udah kok Ma. Okee…”

Hari Sabtu

“Mbak, jangan di depan laptop terus. Sini nonton TV bareng.”

“Bentar deh Pa, ini masih ada kerjaan.”

“Lah. Kok kamu kerja sih? Ini ‘kan hari Sabtu?”

“Hehe, ya gimana lagi…”

Papa dan Mama yang baik,

Mulanya aku sedikit ragu ketika menulis surat ini. Walau kita kerap berbicara dan menyampaikan pendapat secara terbuka, aku belum pernah secara khusus menuangkan pikiran dalam tulisan untuk Papa dan Mama. Agak ganjil rasanya, tapi toh kumantapkan hati juga.

Belakangan ini kita sedikit sering beradu mulut karena masalah pekerjaan. Pekerjaanku, lebih tepatnya. Jika bukan karena tugas luar biasa yang membuatku sering pulang larut malam dan kadang lupa makan, Papa dan Mama akan mengungkit hal yang lebih fundamental: bahwa pekerjaan yang sekarang kujalani bukanlah jenis tanggung jawab yang Papa-Mama siapkan untukku — bahwa kantorku saat ini bukanlah tempat yang Papa-Mama pikir paling cocok buatku.

Advertisement

Papa dan Mama ingin aku mengundurkan diri saja, melamar posisi di kantor yang kalian rekomendasikan. Berulang kali kalian sebutkan – entah lewat canda, sindiran, atau omongan serius – betapa enaknya menjadi pegawai di sana. Ada gaji yang menjanjikan, kesempatan promosi yang jelas, tanggungan kerja yang lebih ‘ramah’, lokasi yang lebih dekat dari rumah. Bukankah lebih baik kalau aku pindah saja?

Tapi ada beberapa alasan yang membuatku bertahan di tempat yang sekarang. Ada beberapa hal yang membuatku percaya bahwa aku sedang meniti jalan yang benar. Dan karena aku sudah dewasa, izinkanlah aku untuk menuturkannya.

Sejak kecil aku selalu berusaha menuruti perintah Papa dan Mama. Kini setelah dewasa, tepat rasanya menghidupi cita-citaku yang sebenarnya.

Saatnya aku menghidupi cita-cita via booneandowl.blogspot.com

Papa dan Mama mungkin kaget melihatku bergeming saat disarankan untuk mengganti pekerjaan. Selama ini, aku termasuk anak yang patuh dan tak “macam-macam”. Saat masih sekolah dulu, misalnya, Papa-Mama tak pernah perlu khawatir aku pulang dengan raport kebakaran — tak perlu pula mencemaskan jika aku terlalu sibuk pacaran. Ketika harus memikirkan jurusan kuliah, aku pun mengikuti nasihat Papa-Mama: mendaftarlah ke jurusan yang pasti banyak dicari perusahaan. “Supaya nggak susah kalau mau cari kerja.” Aku iyakan saja.

Aku tak tahu harus berterima kasih atau tidak atas sugesti akademik ini. Di satu sisi, pada semester awal aku sudah sadar bahwa aku salah jurusan. Semakin lama niatku semakin kembang-kempis, dan untuk menyelesaikan skripsi aku harus jatuh-bangun. Di lain sisi, di bangku kuliah lah aku dipertemukan oleh lingkungan yang membuka mata. Lewat UKM dan teman-teman dekat, aku jadi tahu apa yang ingin kulakukan setelah titel sarjana melekat.

Ketika akhirnya aku mendaftar di kantor yang sekarang, Papa-Mama mengira ini hanya untuk sementara. Tentu nanti aku akan berganti tempat kerja, berkarya sesuai tiga tambahan huruf yang kini tercantum di belakang nama.

Namun aku sudah dewasa. Bukan hanya dalam hal usia saja, namun juga dalam hal berani mengakui renjana. Berani menerima bahwa aku memang punya cita-cita, dan berani berkomitmen untuk mewujudkannya — biarpun belum tentu sesuai dengan harapan orangtua.

Pasti sulit untuk menerima bahwa anak yang dulu selalu bilang ‘iya’ kini diam atau tersenyum saja saat Papa-Mama menawarkan pekerjaan berbeda. Tapi percayalah, ini hanya konsekuensi sederhana dari fakta bahwa aku bukan lagi gadis kecil yang sama. Jikapun aku gagal dan harus mulai dari awal, itupun akan kuanggap sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Pekerjaanku saat ini memang tidak (belum) bisa membuatku kaya-raya. Tapi setidaknya, aku tak usah lagi jadi peminta-minta.

Paling tidak, aku bukan lagi peminta-minta via favim.com

Papa dan Mama beberapa kali blak-blakan soal gaji sepupu atau tetangga yang sebaya denganku. “Mbak X belum satu tahun di tempat Y, gajinya udah Z lho, Mbak.” “Mas A hebat tuh, sekarang udah jadi B di kantor C. Nggak mau kayak dia aja, Mbak?”

Mungkin Papa-Mama mendapatkan info ini saat saling mengobrol ringan di kantor atau saat arisan keluarga. Papa dan Mama pasti bingung menimpali orangtua Mbak X dan Mas A saat mereka bercerita dengan bangga tentang gaji anak-anaknya. Pasalnya, gajiku dibandingkan mereka memang belum ada apa-apanya.

Tapi aku masih muda, rasanya pun baru kemarin mengenakan toga. Yang aku perlukan saat ini bukanlah pekerjaan dengan gaji fantastis. Yang aku perlukan adalah sarana sarana memperbaiki karakter, mengasah kemampuan diri, mewujudkan renjana. Toh dengan gaji ini aku tak lagi jadi peminta-minta. Makanan sehari-hari, pakaian, HP baru yang kubeli untuk mengganti Android lama yang sudah rusak — semua itu bisa kubeli dengan tabungan sendiri. Bukankah ini seharusnya bisa membuat diri Papa dan Mama bangga?

Ini memang pekerjaan yang melelahkan. Tapi, aku bukan tipe orang yang dengan mudah bisa berpangku tangan.

Aku tak bisa berpangku tangan. Setiap detikku ingin kuhabiskan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. via blogs.swa-jkt.com

Aku pun sadar bahwa akhir-akhir ini aku jarang pulang ketika hari masih terang. Sekarang ketika meninggalkan kantor aku sudah bisa langsung makan malam. Jika aku makan dengan teman-teman kantor, aku akan pulang lebih larut lagi. Harus kuakui, pekerjaan ini memang punya banyak tuntutan.

Namun itu bukan alasan bagiku untuk begitu saja mengundurkan diri. Bukankah semua pekerjaan yang benar dan halal pasti akan melelahkan? Makan gaji buta tentu bukan hal yang ideal, apalagi bagiku yang sekarang masih perlu mengasah kemampuan. Inilah kenapa aku ingin bertahan dulu dengan pekerjaan yang sesuai renjanaku.

Karena toh semua profesi di dunia ini punya titik lelahnya sendiri, bukankah lebih bijak jika aku menjalani pekerjaan di mana dedikasi yang tinggi akan menghasilkan kepuasan pribadi?

Dan percayalah, aku puas sekali dengan posisiku saat ini.

Walau pekerjaanku membuat kita sering berdebat, ada yang tak akan pernah berubah dariku… rasa hormat.

Rasa hormatku tak pernah berubah via www.got-blogger.com

Walau posisi kita berbeda, bukan berarti aku tak menghormati Papa dan Mama. Begitu juga sebaliknya: menghormati dan menghargai, menurutku, tak selalu harus berarti mengikuti semua perintah orangtua. Aku percaya orangtuaku sudah mendidikku sedemikian rupa sehingga aku mampu menentukan arah hidup sendiri sebagai manusia yang sudah cukup usia. Aku percaya hubungan kita pun cukup kuat untuk tetap baik-baik saja di tengah perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini.

Bagaimana bisa aku melupakan jasa Papa dan Mama? Papa dan Mamalah yang selalu berusaha membakar semangatku saat niat untuk kuliah sedang surut. Kalian pula yang rela membanting tulang demi membiayai kursus-kursus selepas sekolah yang kuikuti agar bisa lancar berbahasa Inggris. Kalianlah yang telah menyiapkan masa depan untukku, bahkan sebelum aku punya nama; bahkan sebelum aku lahir ke dunia.

Bahkan sebelum aku pergi ke kantor pagi-pagi sekali, Papa atau Mama kadang rela menyiapkan bekal makan siang yang seharusnya kusiapkan sendiri. Aku pun tahu, Papa dan Mama tak bisa berhenti berpikir untuk kebaikanku.

Aku masih berhutang kesuksesan. Peganglah kata-kata ini: aku akan bekerja lebih gigih lagi demi membuat senyum Papa-Mama mengembang.

Aku ingin membuat Papa dan Mama sebangga ini 🙂 (kredit foto: Made Bhela.) via madebhela.com

Aku masih jauh, jauh sekali, dari akhir perjalananku. Bukan tak mungkin aku tersesat lebih dari sekali — bukan tak mungkin kita lebih sering bertengkar lagi karena aku harus bekerja lebih giat untuk menjemput kesuksesan. Bukan tak mungkin, aku gagal dan harus memulai usaha dari titik awal.

Tapi percaya atau tidak, aku pun ingin membuat senyum bangga Papa dan Mama mengembang. Hanya saja, itu akan kulakukan dengan cara yang juga membuatku nyaman. Berikan aku kesempatan, sekali ini saja: takkan kubuat kalian menyesal 🙂