Menginjak usia 20an akan ada banyak pertanyaan yang datang tanpa diminta. Mulai dari,

“Skripsi sudah sampai mana?

“Kapan lulus?”

“Mau kerja apa?”

Sampai pertanyaan keramat,

“Kapan nih nikahnya?”

Bukan cuma pertanyaan soal pernikahan saja yang akan kita dengar, tanpa disadari deretan kawan-kawan pun juga sudah bersiap melepas status lajang. Agenda kondangan jadi acara mingguan yang pasti datang.

Advertisement

Apakah kamu mulai merasa khawatir karena belum memiliki pemikiran ke arah pernikahan dan tidak siap meninggalkan masa lajang di usia muda? Tenang, tidak usah cemas — semuanya akan baik-baik saja.

Menikah tidak sesederhana tinggal bersama lalu hidup bahagia. Selepas resepsi dihela ada rentetan tanggung jawab dan beban yang harus kamu pikul segera

Menikah tidak sesederhana tinggal bersama dan menghasilkan k via www.fanpop.com

Pernikahan bukanlah permainan rumah-rumahan yang membuatmu bisa tidur seranjang bersama putri atau pangeran impian. Setelah perhelatan megah yang dilaksanakan kedua orangtua, kamu akan memasuki fase kehidupan baru yang belum pernah dirasa sebelumnya. Kebahagiaanmu meningkat, tapi tanggung jawabmu juga ikut berlipat.

 Jika saat masih melajang kamu hanya memikirkan tentang dirimu sendiri, maka selepas ikrar pernikahan diucapkan ada banyak kepala yang harus kamu pikirkan. Apabila kamu seorang wanita, maka kamu harus sedia untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dan jika kamu adalah seorang pria,maka kamu harus bekerja lebih keras untuk masa depan berdua.

“Mau sih nikah tapi gak sekarang karena masih menikmati masa pacaran dan belum kuat mental jadi istri orang.”

Ani, 23 tahun

Menikah juga merupakan penyatuan dua keluarga. Kamu memiliki kewajiban untuk memikirkan segala hal dari berbagai sudut pandang. Cara berpakaian, tutur kata serta tingkah lakumu pun harus turut dijaga karena setelah menikah kamu memiliki kewajiban menjaga nama baik dua keluarga.

Sudah siapkah kamu di usia muda ini memikul segala rupa tanggungjawab semacam itu?

Di usia yang sudah kepala dua berapa banyak pengalamanmu sebagai manusia? Sudahkah kamu menjelajah semua benua? Yakinkah tabungan pengalamanmu sudah penuh, sebagai tabungan sampai tua? 

Sudah penuhkah tabungan pengalamanmu? via www.memoapp.com

Tak bisa dipungkiri, ada rasa tertinggal dan sedikit iri setiap datang ke resepsi teman. Hey, bukankah wajar jika manusia menginginkan apa yang belum bisa ia dapatkan? Tapi keadaan ini seharusnya tak membuatmu merasa kerdil. Dengan statusmu yang belum punya banyak tanggungan justru bisa kau dapatkan beragam keuntungan.

“Masih mau bebas, jalan-jalan, dan nikmatin hidup.”

Retno, cewek hobi travelling

Kamu bebas menggunakan banyak waktu luangmu untuk menikmati kebebasan, kamu bisa mengalokasikan uang hasil jerih payahmu untuk membeli tiket demi bervakansi. Belum adanya tanggung jawab membuatmu bebas menjelajah pelosok negeri dan memperkaya wawasan. Ya, usia mudamu yang sekarang ini merupakan kesempatan untuk memenuhi tabungan pengalaman yang kelak bisa dibagikan kepada si buah hati di masa depan.

Kesepian karena masih sendiri tidak perlu membelenggu hari-hari. Ada karir, hobi, dan rentetan mimpi yang menunggu dipetik tanpa banyak basa-basi

Hobi, karir dan segala pencapaian bisa dikejar sesuka hati via rebloggy.com

Susah payah perjuanganmu mendapatkan gelar tidak pantas disia-siakan begitu saja. Kini saatnya berfokus pada karier demi masa depan, sebelum kewajiban lain itu datang. Dengan status yang masih melajang kesempatanmu untuk bekerja di berbagai instansi dan posisi jabatan lebih terbuka lebar. Kamu belum memiliki tanggungan keluarga yang mungkin akan berat untuk ditinggalkan jika tiba-tiba kamu dipindahtugaskan.

“Kenapa belum menikah sampai hari ini? Masih pingin meniti karir dan belum siap ninggalin hobi.”

Reza, 24 tahun

Selain mengejar kemapanan karir, usia muda sekarang ini bisa kamu kamu manfaatkan semaksimal mungkin demi menggeluti hobi yang selama ini kamu gemari. Naik gunung, baca buku, modifikasi vespa, sampai koleksi sepatu — segala keputusan adalah hak prerogatifmu.

Walau belum ada suami dan istri yang mendampingi kamu punya keleluasaan untuk menggeluti hobi. Belum ada keharusan bangun di pagi buta untuk memastikan kenyamanan si buah hati, atau merelakan waktu istirahat di akhir pekan tergadai demi mengikuti acara keluarga besar. 

Semua rasa sepi sebenarnya bisa dihalau mulai detik ini. Selama kamu fokus pada pencapaian dan mimpi — perasaan merana karena sendiri tak akan datang lagi.

Ini pula saat paling tepat untuk membahagiakan orangtua. Kamu punya waktu dan sumber daya demi membalas mereka yang telah berjasa menghadirkanmu ke dunia.

Jika bukan sekarang, kapan lagi kamu bisa membahagiakan orangtua? via www.vh1.com

Hidup bukan hanya tentangmu. Jika memang kebebasan sebagai lajang masih ada di tangan, inilah saatnya membagikan kebaikan bagi orang-orang di sekelilingmu. Ayah dan Ibu adalah 2 orang pertama yang layak mendapatkan waktu dan segala rejekimu.

Sebelum memberi mereka cucu, kenapa tidak menghadiahi mereka waktu dan lapangnya waktu luangmu? Sisihkan uang untuk membeli barang yang sudah lama mereka idamkan, yang pembeliannya sempat ditangguhkan demi memenuhi kebutuhanmu sebagai anak kesayangan. 

Ajak mereka ke luar kota, atau bahkan ke luar negeri — mereka layak melihat sisi dunia yang tidak sempat dinikmati, sebab dulu terlalu sibuk menjagamu yang mulai kenal kencan dan jatuh hati. Datanglah sepulang kerja, tawarkan pijatan ringan dan telinga yang ikhlas mendengar cerita.

Menikah memang tak menghilangkan statusmu sebagai anak dari Ayah dan Ibu. Tapi menyanding seseorang di sisi akan membuat semua keputusan harus dibagi. Selepas punya suami atau istri sumbu hidupmu tak akan sama lagi.

Apa salahnya melambatkan langkah dan menunggu sebentar? Toh ini juga demi terjaminnya hidup calon keluarga kecilmu di masa depan

Apa salahnya menunggu sebnetar? JIka kemapanan bagi keluarga kecil bisa didapat di masa depan? via imgbuddy.com

Berusia 20an, gejolak darah mudamu masih sering datang tanpa diundang. Kamu masih haus akan wawasan dan sering dilanda kebosanan. Pekerjaan tetap yang dimiliki saat ini juga bukan merupakan suatu jaminan. Ketika rasa bosan melanda, kamu bisa saja memilih keluar dari pekerjaan. Oleh karena itu, tidak ada yang salah jika kamu melepas status lajang di usia yang lebih matang.

“Masih merasa belum dewasa untuk membimbing anak-anak. Aku juga pingin nantinya keluargaku hidup berkecukupan, makanya sekarang aku nyari modal dulu untuk masa depan, biar lebih mapan.”

Samuel, 24 tahun

Kamu bisa memuaskan diri untuk menjelajah berbagai ragam pekerjaan selagi kamu belum terbelit dengan berbagai tanggung jawab. Kamu juga bisa menabung supaya masa depanmu lebih siap dan mapan. Kehdiupan finansialmu akan lebih matang karena kamu sudah memiliki anggaran tersendiri untuk ragam cicilan di masa depan.

Suatu hari nanti dia yang tepat pasti datang. Dia yang tak hanya mampu menenangkan, tapi juga sejalan dalam berbagai keputusan. Tenanglah, pasti kelak ada jalan

Yang paling terpenting adalah menemukan pasangan sejalan via imghip.com

Di usia ini harus diakui ego masih memegang kendali. Kamu masih ingin menjadi pilot dalam hidupmu sendiri. Meski jatuh cinta begitu dalam berbagi hidup dengan seseorang yang asing amat jauh dari kategori perkara remeh. Maka lebih baik menjaga hati, agar bukan pada ia yang salah dia meleleh.

Akan datang banyak ragam pilihan yang berpengaruh pada masa depan. Bisa saja kamu tiba-tiba ingin melanjutkan pendidikan S2 atau ada kesempatan meniti karier yang lebih tinggi yang belum tentu akan disetujui oleh pendamping hidupmu.

Apabila ternyata ego dua kepala tidak bisa disatukan sehingga membuat dirimu dan pasangan memiliki keputusan yang tidak selalu jalan, apakah kamu sudah siap menelan risikonya?

“Di umur kita yang sekarang banyak keputusan penting yang harus diambil. Kalau salah milih pasangan, perkembangan kita bisa terhambat.”

Monik, 25 tahun

Kenapa harus terburu-buru jika memang belum siap secara mental, finansial, dan hati? Bukankah pernikahan itu bukan lomba lari?