Kalau orang tahu kamu kuliah di jenjang diploma, entah D-1, D-2, atau D-3, ada 63% kemungkinan mereka berceletuk:

“Oh, diploma… Kok nggak langsung S-1 aja?”

Duh…

Program kuliah jenjang non-sarjana memang masih kerap dipandang sebelah mata. Nggak bisa dipungkiri, lowongan pekerjaan untuk mereka yang sarjana memang lebih mudah dicari. Pun sarjana adalah titel yang lebih bergengsi. Tapi kamu yang tak kuliah di jenjang sarjana tidak harus menundukkan kepala.

Nggak perlu minder dengan jenjang kuliahmu yang diploma. Berikut ini Hipwee jelaskan kenapa 🙂

1. Ilmu yang kamu dapat di kuliah juga berharga. Ingat, puluhan dosen sudah mengerahkan tenaga untuk membuat kurikulum dan mendidikmu sebaik-baiknya

Advertisement

dosenmu tak main-main dalam mengajarmu via akbid.adila.ac.id

Jenjang diploma tetap memberimu bekal ilmu yang berkualitas. Bagaimana tidak, puluhan dosen sudah mengerahkan tenaga mereka untuk membuat kurikulum dan mendidikmu sebaik-baiknya. Merasa ilmu yang kamu dapatkan nggak sebanyak program sarjana? Ah, sebenarnya tidak juga. Meskipun masa kuliahmu lebih pendek dibandingkan mereka yang menempuh program sarjana, sebenarnya ilmu yang kalian dapatkan di kelas hampir sama. Yang berbeda hanyalah komposisinya.

Jika di jenjang sarjana kamu mendapatkan 70% teori, dan 30% praktik, sebaliknya dengan jenjang diploma. Kurikulum seperti ini sudah dirancang sedemikian rupa agar kamu siap masuk dunia kerja. Jadi tak perlu kecil hati. Sering ‘kan, kamu berdiskusi dengan teman-temanmu di jenjang sarjana, dan ternyata pemahaman kamu dan mereka tidak jauh berbeda?

2. Jenjang kuliah boleh beda. Tapi toh kamu bisa memanfaatkan fasilitas universitas yang sama.

Fasilitas yang kamu dapatkan di kantor pun sama via www.isigood.com

Meski kamu tingkat diploma, nggak berarti fasilitas kampus yang kamu dapatkan berbeda bukan? Kamu bisa makan di kantin yang sama dengan anak-anak sarjana. Begitu juga dengan fasilitas kampus lainnya. Kamu bisa olahraga di gelanggang mahasiswa, atau menggelar acara di auditorium kampus yang sama. Dan nanti ketika saatnya kamu menyusun TA alias tugas akhir, kamu juga bisa memakai perpustakaan sebebas anak sarjana. Jadi apa bedanya? Nggak perlu minder. Asal kamu bisa memanfaatkan fasilitas kampus semaksimal mungkin, kamu nggak akan ketinggalan dari mereka.

3. Banyak perusahaan zaman sekarang tak peduli kamu sarjana atau diploma. Kepercayaan diri dan karaktermu lebih penting di mata mereka.

karakter dan kepercayaan diri adalah yang utama dalam mencari kerja via suteki.co.id

Mungkin ini yang paling bikin kamu minder, bahwa kesempatan kerjamu terbatas dibandingkan anak-anak sarjana. Apalagi kebanyakan lowongan kerja mensyaratkan jenjang pendidikan sarjana. Tenang saja, masih banyak perusahaan yang nggak peduli kamu sarjana atau diploma. Startup, media-media online, bahkan perusahaan besar. Jika kamu merasa mampu, jangan ragu untuk mencoba mengirim surat lamaran meski lowongan tersebut diperuntukkan untuk lulusan S1. Karena pada akhirnya, kepercayaan dirimu serta karaktermu yang akan mereka pertimbangkan.

4. Setelah kamu bekerja, tak masalah ijazah apa yang kamu punya. Fokus utamanya adalah apa kamu bisa memberi sebaik-baiknya performa.

Saat di kantor satu-satunya indikator adalah performa kerja via www.tumblr.com

Setelah kamu lolos wawancara dan benar-benar masuk dunia kerja, nggak ada yang akan repot-repot menanyakan apakah kamu sarjana atau diploma. Yang akan mereka lihat adalah bagaimana performamu dalam bekerja. Atasanmu akan sayang padamu kalau kamu kerja dengan benar, nggak teledor dengan deadline, dan nggak pernah cari-cari alasan kalau kerjaan nggak beres. Pada tahap ini, mau sarjana atau diploma, indikatornya sama: performa kerja. Jadi kamu nggak perlu was-was.

5. Dan kamu nggak perlu khawatir. Bukankah dengan pendidikan yang kamu punya, kamulah yang paling siap di dunia kerja?

justru kamu yang paling siap masuk dunia kerja via tipskarir.com

Ini dia hasil dari kurikulum diploma yang unik. Teman-temanmu dari program sarjana mungkin membutuhkan waktu khusus untuk beradaptasi saat memasuki dunia kerja. Apalagi bagi mereka yang tidak pernah magang selama kuliah. Terkadang apa yang terjadi di dunia nyata jauh berbeda dengan apa yang dipelajari dalam teori. Di tahap ini, kamulah yang paling siap, karena sepanjang kuliah kamu terus berkutat di lapangan.

Berbeda dengan jenjang Sarjana yang tak mengharuskan mahasiswa untuk magang, kamu justru diharuskan magang dari satu tempat ke tempat yang lain. Pengalamanmu jadi banyak. Bahkan kalau performamu selama magang bagus, bisa jadi perusahaan tempatmu magang akan menarikmu menjadi pegawai tetap setelah kamu lulus nanti.

6. Mimpimu untuk kuliah S-1 mungkin masih ada. Tak masalah, cepat selesaikan yang sekarang agar program ekstensi bisa kamu ikuti segera

belajarlah dan kejar mimpimu via studyinspiration.tumblr.com

Kalau semua itu belum membuatmu cukup percaya diri dan masih merasa sarjana lebih keren, oke, nggak masalah. Kamu bisa mengejar mimpimu itu kok. Selesaikan dulu program studimu yang sekarang, supaya kamu bisa segera ikut program ekstensi. Melalui program ekstensi, kamu bisa mengubah gelar A.Md menjadi Sarjana dalam waktu 1-2 tahun. Setelah lulus dari program ini, sekarang pendidikanmu lengkap. Baik praktik maupun teori semua kamu kuasai.

7. Punya skill atau renjana tertentu yang sangat menonjol padamu? Justru itu yang kemungkinan besar akan memberimu kesuksesan

passion dan skill khususmu juga bisa menentukan kesuksesanmu via herricahyadi.tumblr.com

Coba sekarang berhenti merasa minder masalah pendidikan. Lebih baik kamu memikirkan skill khusus atau passion tertentu yang kamu miliki. Kamu suka menulis? Atau kamu cinta banget dengan komputer dan bisa coding, meski nggak pernah ambil kuliah sistem informasi? Atau mungkin kamu jago desain dan sering diserahi tugas bikin poster kalau ada kegiatan jurusan? Jangan remehkan ini. Skill-skill seperti itu kalau kamu perhatikan dan kembangkan, bisa menjadi jalan pembuka untuk kesuksesanmu lho. Karena kemampuan khusus itu akan menjadi nilai plus di mata perusahaan yang tak melulu memikirkan tingkat pendidikan dan nilai IPK.

Selain itu, dengan kemampuan atau skill khususmu, kamu juga bisa berkarya sendiri tanpa perlu bekerja untuk orang lain. Kamu bisa membuat usaha atau bahkan mendirikan startup. Semuanya kembali pada tekad dan niatmu untuk mengejar kesuksesan.

8. Gelarmu boleh apa saja. Tapi pada akhirnya, karakter dirimulah yang akan menentukan segalanya.

kesuksesan seseorang tak hanya ditentukan oleh gelar via www.liputan6.com

Dunia kerja adalah dunia yang berbeda dengan dunia kuliah. Proses belajarmu nggak akan berhenti setelah kamu memakai toga. Karena dunia terus bergerak dengan berbagai pembaharuan. Meski kamu sudah bekerja, kamu masih harus tetap belajar untuk mengikuti perkembangan zaman. Itu berlaku sama baik untuk kamu yang diploma maupun temanmu yang sarjana. Pada akhirnya, bukan gelar yang menjadi patokan, tapi karakter dan performamu yang menentukan segalanya.

Nah, sekarang kamu tahu ‘kan? Nggak ada alasan kamu untuk minder meski mengambil program non-sarjana. Masa depanmu panjang, dan hidup tak melulu soal gelar 😉