Passion. Satu kata itu katanya bisa menjamin kebahagiaan. Tak perlu perusahaan besar ataupun jabatan yang bergengsi dan mengundang decakan, asal melakukan apa yang disukai sudah cukup bisa memuaskan. Di luar sana, orang berlomba-lomba mengejar passion-nya. Selain lebih menyenangkan, bekerja sesuai passion juga bisa mengurangi risiko stres dan depresi.

Di usia 25 tahun ke atas, katanya kita harus sudah tahu apa yang ingin kita lakukan seumur hidup. Menentukan satu jalur karier, dan berusaha menjadi orang yang ahli di situ. Dengan begitu, hidup terarah, kebutuhan pun terpenuhi karena kamu tahu jenjang karier mana yang harus kamu ikuti. Tapi passion bisa sangat membingungkan. Sementara ada orang rela melepaskan segalanya demi passion, ada juga yang bahkan tak tahu passionnya apa. Apakah kamu merasakan hal yang sama?

1. Sebelum wisuda, rasanya semua sudah terencana. Nyatanya dunia di luar sana tak seindah yang dikira

Sebelum tahu realita dunia kerja via weheartit.com

Kembali ke masa-masa kehidupan kuliah, rasanya semua akan baik-baik saja. IPK cumlaude pun almamater kampus bergengsi lumayan memberi jaminan. Setelah resmi menjadi sarjana nanti, kamu akan mencari perusahaan besar yang akan memberikan banyak hal. Mulai dari penghasilan tinggi hingga jabatan bergengsi. Rasanya kamu tak sabar mengenakan toga dan diwisuda. Tapi, semua angan itu lenyap ketika kamu sudah benar-benar di sana. Ekspektasi dan realita benar-benar tak sejalan. Nilai dan almamater yang kamu agungkan ternyata tak bisa berkata banyak. Sebab di luar sana, orang lebih percaya aksi ketimbang deretan angka dalam transkrip nilai.

2. Daripada serunya, dunia kerja ternyata lebih banyak susahnya. Makin ke sini makin tak betah rasanya

Ternyata dunia kerja banyak tekanannya via www.verywell.com

Advertisement

Kamu memang berhasil mendapat kerja. Kenyataan itu harus digarisbawahi dulu, sebab kamu tentu harus bersyukur. Sementara di luar sana banyak orang yang bangun tidur tanpa rencana, setidaknya kamu tahu harus melakukan apa meskipun harus desak-desakan dulu di angkutan bersama. Namun dunia kerja tak seindah yang kamu bayangkan. Tumpukan pekerjaan yang tiada habisnya, atasan yang suka bersikap semaunya, dan lingkungan kerja yang hobinya sikut-sikutan saling menjatuhkan. Setiap hari kamu lalui dengan begitu banyak tekanan. Bukannya tidak bersyukur karena sudah bekerja, tapi kamu tak menyangka dunia kerja sebegini sulitnya.

3. Terkadang bosan, terkadang tak tahan dengan kerjaannya. Di benakmu ada sejuta alasan untuk berhenti bekerja

Resign lagi, resign lagi via www.entrepreneur.com

Kamu pun terheran-heran mendengar cerita orang-orang tua, yang bisa mengabdi di satu tempat hingga puluhan tahun lamanya. Kamu pun sebenarnya ingin menemukan hal yang sama. Tapi seiring waktu berlalu, kamu selalu menemukan momen di mana kamu merasa ini bukan tempatmu. Terkadang pekerjaanmu memang dirasa tak menjanjikan, namun seringnya lebih karena bosan. Jadilah kamu si kutu loncat yang hobinya ganti-ganti pekerjaan. Rumus umumnya, cari dulu pekerjaan baru baru mengajukan surat resign. Tapi hatimu yang kadung jengah dan jenuh tak bisa diajak kompromi lagi. Sesekali kamu resign tanpa persiapatan apa-apa.

4. Melihat CV pun antara sedih dan bangga. Setiap tahunnya, tittle dan bidang pekerjanmu beda-beda. Sebenarnya kamu ini mau jadi apa?

Bingung kalau disuruh nulis CV via www.vanderhouwen.com

Saking seringnya berganti bidang pekerjaan, kariermu pun tak punya tujuan lagi. Kemarin kamu jadi sales marketing, lalu HRD, sekarang kamu jadi marketing. Nama kantormu yang nyaris berubah setiap tahunnya, dan nama jabatan yang berbeda, membuat hati kecilmu bertanya-tanya. Sebenarnya aku ini ingin jadi apa? Di satu sisi, punya pengalaman di berbagai bidang memang bagus karena memberikan ilmu yang bervariasi. Tapi di sisi lainnya kamu pun paham bahwa kamu tidak bisa melakukan semuanya. Harus ada satu atau mungkin dua yang kamu pilih untuk ditekuni, ditelateni, dan dikejar hingga ke titik puncak.

5. Di usia segini, teman-teman sudah menduduki jabatan yang tinggi. Sementara kamu berpindah-pindah karier, dan memulai dari nol lagi

Sementara teman-teman jabatannya sudah tinggi via www.huffingtonpost.com

Terus-terusan berganti pekerjaan tentu bukan hal yang menguntungkan. Tanpa trik khusus, CVmu akan dipertanyakan karena beragamnya bidang yang kamu tekuni. Di saat teman-temanmu sudah menduduki jabatan tinggi, kamu masih asyik saja mencoba banyak hal. Sementara usiamu juga terus beranjak dan tanggunganmu pun semakin bertambah.

Dalam sepuluh tahun mendatang, kamu ingin melihat dirimu mengerjakan apa? Jawabanmu: tidak tahu. Hal apa yang paling kamu sukai dan rela menghabiskan seharian untuk itu? Jawabanmu: banyak. Setelah mati, kamu ingin dikenang sebagai apa? Jawabanmu: sebagai orang baik. Duh, menjawab pertanyaan pun susahnya luar biasa.

6. Semua butuh waktu. Meski sekarang kamu sibuk mempertanyakan apa bakatmu, suatu hari nanti kamu pasti menemukan tempatmu

Semua butuh waktu via unsplash.com

Menjadi kamu memang sedikit merepotkan. Terkadang kamu berpikir, barangkali passion itu sekadar pilihan saja. Ada yang memilih menjadikan hobinya sebagai pekerjaan meski kurang menjanjikan, ada juga yang memilih mencari pekerjaan utama dan menjadikan hobi sebagai sampingan. Semua itu hanya soal sampingan. Kamu tak perlu menemukan satu-satunya hal yang ingin kamu lakukan seumur hidup.

Kamu hanya perlu menentukan pilihan. Meski sekarang kamu bagai kutu loncat dan masih galau pindah-pindah pekerjaan, suatu saat nanti kamu pasti menemukan tempat yang membuatmu memilih untuk tinggal. Apa pun alasannya.

7. Barangkali passion sebagai satu-satunya hal yang ingin dilakukan itu salah definisi. Memang ada orang yang terlahir dengan bisa melakukan segalanya

Barangkali kamu memang bisa melakukan segalanya via unsplash.com

Selama ini kamu percaya bahwa passion itu hanya satu. Masing-masing manusia lahir dibekali dengan satu bakat dan potensi yang menunggu untuk diungkap. Masalahnya kamu tak bisa menemukan satu hal yang paling kamu sukai. Namun kamu tidak sendirian. Di luar sana, banyak orang yang tergolong multipotensial. Mereka adalah orang-orang yang bisa melakukan banyak hal dengan baik. Mereka adalah orang yang super kreatif dan gemar mencoba hal-hal baru. Mereka juga orang yang punya segudang inspirasi, meski sulit berkomitmen jangka panjang. Ironisnya, banyaknya keahlian ini sering membuat mereka merasa tak ahli apa-apa. Kamu mengalaminya juga?

Ah, sulitnya menemukan passion. Tapi tak perlu disesali ataupun dipikirkan lama-lama. Seperti kata Hunter S. Thompson: Anything that gets your blood racing is probably worth doing. Ikuti saja kata hatimu. Lama-lama kamu akan menemukannya juga.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya