Sebut saja namaku Aji dan umurku 19 tahun. Sekarang aku kuliah di salah satu universitas di Jakarta dan berada di semester 3. Hari ini aku masih terbayang-bayang pada masa lalu. Aku dan dia masih merasakan hangatnya berkasih sayang. Ah, tapi itu tak mungkin terjadi lagi. Entah, apakah aku harus berbaik hati atau terus mengumpat pada akhir kisah cintaku ini. Aku rasa pilihannya hanya satu. Pantaskan diri.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 4, aku telah terpikat kepada seorang gadis yang kebetulan satu sekolah denganku. Panggil saja ia dengan sebutan Bila.

Secara fisik, ia memiliki tinggi sama sepertiku, selalu berpakaian muslimah, sedikit kurang fasih berbicara huruf ‘r’, dan terdapat tahi lalat di atas pipi sebelah kanannya. Bagiku, ia apa adanya. Alasannya satu, aku terpikat padanya tanpa alasan.

Singkat waktu, aku dan dia mulai mengenal satu sama lain. Awalnya hanya sekedar melempar candaan antar mobil jemputan masing-masing dan lambat laun, ia menghubungiku via telepon genggam. Ya, ia sepertinya menyukaiku juga. Mulai saat itu, aku dengannya setiap hari saling mengirim pesan singkat elektronik. Di saat itulah, aku menyatakan bahwa aku menyukainya. Responnya? Ia mengatakan hal yang sama sepertiku.

Saatnya berpindah jenjang, di masa SMP ini hubunganku sedikit bermasalah. Sebenarnya sederhana, hanya berbeda sekolah. Akibat hal itu, beberapa masalah mulai muncul. Cemburu merupakan hal pertama dan paling fatal dalam suatu hubungan yang spesial. Walaupun bukan pacaran, tapi aku dan dia sudah merasa dekat satu sama lain. Pasti. Pasti akan muncul rasa kecurigaan ketika seseorang yang kita sukai didekati oleh orang lain. Beginilah abad 21. Umur yang masih sebiji jagung sudah mengerti arti kata cemburu. Faktor utamanya adalah komunikasi yang beriringi dengan kemajuan teknologi.

Advertisement

Di lain hal juga, aku merasa terhambat dalam berkomunikasi dengannya. Sekolahku yang kental dengan nilai agama mengharuskan diriku ini untuk menahan tidak berkomunikasi dengannya di sekolah dan ditambah aku ini orang yang aktif beroganisasi sehingga sewaktu di rumah, aku hanya sebentar saja berkomunikasi dengannya.

Aku ini cukup ‘nakal’ dalam hal mematuhi larangan berkomunikasi dengan lawan jenis. Sudah 3kali aku terkena sanksi akibat berkomunikasi dengannya dengan topik yang mengarah suka sama suka. Meskipun begitu, aku tak pernah berpacaran karena hasil didikan dari sekolah tersebut.

Semakin dewasa, semakin kompleks pula permasalahan khususnya dalam percintaanku ini. Masa SMA adalah masa yang tak menentu dalam berhubungan dekat dengan lawan jenis. Terkadang baik-baik saja, tapi terkadang tak ada baiknya. Masalah pun mulai dari hal yang sepele saja dipersoalkan. Ya, masa SMA adalah masa yang paling menggebu-gebu. Aku pun sempat lupa diri dalam mengontrol emosiku yang berakhir dengan 'putus'.

Ku akui. Setiap laki-laki pasti munafik. Pasti setiap laki-laki akan menyukai lebih dari satu orang perempuan. Mau itu terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Mau itu belum memiliki pasangan ataupun yang sedang berpasangan. Pada dasarnya, laki-laki memang memiliki sudut pandang yang berlebihan terhadap perasaan kepada lawan jenis. Inilah akibatnya ia memutuskan untuk tidak menyukaiku lagi. Namun, aku bersikeras ingin bersamanya. Hasilnya menguntungkan: aku berhasil diterima kembali olehnya. Aku pun menghela napas.

Selama SMA, aku sedikit menjauh dari nilai-nilai agama karena perbandingan pendidikan keagamaan pada saat SMP dengan SMA berbeda. Jika SMP-ku adalah sekolah yang agamanya kental, maka masa SMA-ku sebaliknya. Wajar jika SMA ini, aku cenderung banyak lalai terhadap norma-norma keagamaan tersebut sehingga aku cenderung lebih bebas di masa ini. Mulai dari berani bergaul dengan perempuan, jarang beribadah, dan bahkan menjadi orang yang pemalas. Terbukti, nilai-nilai di raporku setiap semester turun secara perlahan-lahan. Keadaanpun memburuk dan tak terkecuali dengan hubunganku karena aku selalu terbawa emosi.

Aku mulai bersikap kasar kepadanya. Melarangnya banyak hal, mengekang untuk melakukan hal yang membuatku iri, dan terlalu over protective kepadanya. Aku menjadi sangat posesif kepadanya karena dicampuradukkan dengan masalah kehidupan pribadiku sendiri. Tak hanya itu, aku juga jadi banyak berbohong banyak hal dan termasuk berbohong jika aku kembali menyukai seseorang yang lain karena adanya kesempatan akibat dari hubungan jarak jauh meskipun hanya berbeda sekolah saja.

Teringat kepada salah seorang sahabat Rasul yang berkata bahwa, "Janganlah kamu mencintai seseorang secara berlebihan karena suatu hari bisa jadi ia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan janganlah kamu membenci seseorang secara berlebihan karena suatu hari bisa jadi ia akan orang yang kamu cintai." Mungkin aku telah berlebihan dalam hal mencintai seseorang sehingga ia akhirnya benar-benar meninggalkanku. Ketika aku mengajaknya kembali, ia benar-benar tidak ingin menerimanya kembali. Pupus sudah perjalanan sembilan tahunku bersamanya. Berakhir pada saat kelulusan SMA.

Aku pun kecewa berat akan hal ini. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasakan patah hati. Apapun terasa berat untuk dijalani ditambah dengan tidak ada satu pun universitas yang menerimaku waktu itu. Aku pun mengurung di rumah setiap hari. Selalu mengingat-ingat kejadian yang lalu. Aku juga mencoba bahkan memaksa dia untuk kembali menyukaiku, tapi hasilnya jelas ditolak dan bahkan aku semakin dijauhi olehnya. Namun ada satu hal yang ia katakan padaku, yaitu pantaskan diri dulu.

Aku pun tersadar. Ya, selama ini aku hanya memantaskan untuk orang lain, tapi aku sendiri belum memantaskan diri.

Mulai saat itu, aku berusaha untuk memantaskan diri. Memperbaiki salat, belajar, dan juga kegiatan lainnya diisi dengan kegiatan yang positif. Ya, sedikit-sedikit menjadi bukit. Aku pun diterima di salah satu universitas. Ucap syukur kepada Yang Maha Kuasa karena Ialah yang membuatku sadar dengan Bila sebagai perantaranya. Aku mulai menekankan diri dan semakin fokus dalam belajar banyak hal meskipun awalnya memang menyulitkan. Tapi dengan semangat, aku dapat berjuang hingga dapat memetik hasilnya.

Tak terasa setahun telah terlampaui. Aku pun kembali teringat olehnya. Bila.

Aku berharap ia dapat menyukaiku kembali dengan keadaanku yang baru ini. Namun sayang seribu sayang, ia tetap menolakku dan baginya, kemarin adalah titik puncak dari ia menyimpan perasaan kepadaku.

Aku pun kembali patah hati. Namun, aku cepat untuk sadar kembali. Aku sadar bahwa karena akulah semua hal ini menjadi rumit dan tidak bisa dikembalikan lagi. Akan tetapi, aku masih terus menyimpan harapan itu. Aku selalu yakin suatu saat nanti ia bisa menerimaku kembali.

Aku menyukainya karena tanpa alasan. Dan sebelum itu, terlebih dahulu aku harus memantaskan diri. Untuk mencintainya. Aku percaya. Selalu percaya.

Inilah kisah cinta dalam narasiku. Satu dekade dalam seribu kata.